Mataram (ANTARA) - Tingkat pemesanan kamar hotel di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjelang pelaksanaan MotoGP di Sirkuit Mandalika pada 9-11 Oktober 2026 sudah mencapai 40 persen.
"Kalau di Mandalika dan sekitarnya sudah penuh 85 persen ke atas, kalau Mataram baru 40 persen. Kalau Lombok Barat 80 persen tapi tidak semua itu untuk MotoGP, melainkan reguler menginap biasa," kata Ketua Dewan Pembina BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, I Gusti Lanang Patra di Mataram, Senin.
Menurutnya, pola pemesanan hotel tahun ini berbeda jauh dibandingkan tahun lalu. Jika di awal MotoGP pemesanan sudah penuh, namun saat ini berjalan normal.
"Kalau tahun lalu, jauh-jauh hari sebelumnya sudah penuh. Sekarang masih 40 persen. Nomor-nomor besar, slot-slot besar masih kosong," ujar Lanang Patra.
Ia menjelaskan, secara umum mekanisme pasar perhotelan masih berjalan normal dan bagus. Hal itu terlihat dari distribusi di platform daring (online) pemesanan kamar hotel masih terpantau sehat.
Namun, ia mencatat ada dinamika dan perilaku pasar yang kadang ekstrem, sehingga memerlukan pengaturan tambahan agar tidak merusak pasar secara keseluruhan.
Menurutnya, lambatnya pemesanan bukan karena tidak ada minat, melainkan karena wisatawan dan peserta event kini jauh lebih berhati-hati. Mereka menunggu kepastian logistik secara terpadu.
Baca juga: Pembalap Marc Marquez juara MotoGP San Marino 2026
Logistik yang dimaksud ada tiga elemen utama yang saling terkait yakni penerbangan, transportasi lokal, dan hotel/tiket.
"Maskapai itu banyak keterkaitannya, ada koneksi dan jadwal. Jadi penerbangan harus fixed dulu, baru transportasi dan hotel bisa dikunci. Saat ini transportasi dan hotel bisa diatur, tapi keputusan final tamu nunggu kepastian penerbangan," terang Lanang.
Ia memprediksi, jika dalam beberapa minggu ke depan ada konfirmasi positif terkait penerbangan dan kepastian penyelenggaraan acara, maka pemesanan akan bergerak naik secara intens.
Baca juga: Pertamina mematangkan persiapan menuju MotoGP Mandalika 2026
"Kalau penerbangan, transportasi, dan hotel/tiket sudah dipastikan dulu. Tamu baru berani datang. Tapi, kita sekarang pantau terus," ucapnya.
Ditanya apa tanggapan PHRI terkait dicabutnya Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 9 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Tarif Usaha Jasa Akomodasi, Lanang menegaskan mendukung pencabutan tersebut lantaran menurutnya Pergub tersebut sudah tidak diperlukan lagi. Berbeda pada saat awal-awal MotoGP harga kamar gila-gilaan.
"Karena yang sekarang sudah berjalan sudah bagus ya, jadi Pergub itu tidak perlu lagi. Karena semua juga sudah normal sehingga diserahkan ke mekanisme pasar. Ada Pergub itu dulu karena harga gila-gilaan waktu yang pertama dan kedua itu sehingga perlu di atur. Kalau sekarang sudah nggak perlu," katanya.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB menyebutkan sejumlah maskapai sudah mengajukan penambahan penerbangan langsung menuju Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Bizam) selama MotoGP di Sirkuit Mandalika pada 9-10 Oktober 2026.
Asisten II Setda NTB Lalu Moh Faozal mengakui untuk konektivitas udara, ada beberapa maskapai yang mengajukan penambahan penerbangan pada saat MotoGP di Sirkuit Mandalika.
Ia menyebutkan maskapai yang mengajukan penambahan penerbangan langsung tersebut, untuk rute internasional seperti dari Singapura dan Kuala Lumpur. Kemudian beberapa maskapai nasional untuk rute-rute domestik.
"Mudah-mudahan tidak ada kendala," katanya.