Pedagang Gorontalo Utara pasok cabai rawit dari Sulawesi Selatan - ANTARA News Gorontalo

September 2026 · 2 minute read

Gorontalo (ANTARA) - Pedagang rempah-rempah di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo memasok cabai rawit dari wilayah Sulawesi Selatan dan sebagian wilayah Sulawesi Tengah karena pasokan lokal tidak mampu memenuhi permintaan.

"Stok cabai rawit di tingkat lokal kurang tersedia, sehingga kami memasok dari petani di wilayah Sulawesi Selatan dan sebagian Sulawesi Tengah," kata pedagang rempah-rempah di pasar tradisional Kwandang, Thamrin, di Gorontalo Utara, Sabtu.

Ia mengatakan harga cabai di daerah itu tertinggi masih mencapai Rp190.000 per kilogram, terendah mencapai Rp140.000 per kilogram.

"Harga cabai rawit masih tinggi, kami memprediksi harga berangsur turun saat musim panas di wilayah Gorontalo Utara berakhir," kata Thamrin.

Pelaku usaha warung makan di Kecamatan Kwandang, Patira Djamal, mengaku terpaksa mengganti jenis jualannya.

"Harga cabai rawit masih sangat tinggi, jika memilih tetap berjualan makanan, bisa menelan kerugian apalagi harga ikan segar juga masih tinggi," katanya.

Saat ini, ia beralih menjual gorengan yang tidak perlu menyiapkan sambal.

Tingginya harga cabai rawit kata dia, berdampak pada usaha warung makan yang digeluti.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Gorontalo Utara Ajuba Thalib mengatakan tingginya harga cabai rawit akibat gagal produksi karena cuaca panas ekstrem yang melanda wilayah ini.

"Kami memprediksi harga cabai rawit akan kembali normal saat musim panas berakhir," katanya.

Ia mengatakan harga tinggi juga dipengaruhi tingginya permintaan cabai rawit di daerah ini, maupun daerah tetangga Sulawesi Utara.

"Permintaan cabai yang tinggi dan bersaing dengan daerah tetangga, memicu kenaikan harga apalagi pasokan di tingkat petani lokal kosong," katanya.

Pihaknya berharap musim panas segera berganti, mengingat beberapa wilayah di pesisir Utara Provinsi Gorontalo ini, seperti di wilayah timur di Kecamatan Atinggola dan wilayah barat di Kecamatan Tolinggula, mulai diguyur hujan.

Pewarta: Susanti Sako
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.