Para pewaris dan penjaga batik Nusantara

September 2026 · 7 minute read

Jakarta (ANTARA) - Kadek Wijaya dan Putu Paramitha datang dengan jalan yang berbeda, tapi keduanya pulang membawa cerita yang sama. Dua anak muda asal Bali itu sama-sama dinobatkan sebagai Grand Winner Putra Putri Batik Nusantara 2026 di Jakarta pada 27 September.

Yang menarik dari kemenangan keduanya bukan semata mahkota Kawung Ananta untuk Putu atau bros Kawung Dharma untuk Kadek yang mereka bawa pulang. Di balik panggung dan selempang, Kadek dan Putu menawarkan cara pandang yang sederhana tentang bagaimana batik seharusnya hidup di tangan generasi mereka.

Bagi Kadek, salah satu caranya adalah membawa batik lebih dekat dengan keseharian. Batik tidak harus menunggu undangan resmi, seremoni, atau hari tertentu untuk dikenakan.

Semakin dekat batik dengan kehidupan sehari-hari, semakin besar peluangnya untuk tetap relevan di tengah anak muda. Keyakinan itu mengantarkan Kadek mengungguli finalis top three lainnya, Alfajar Madani dari Kepulauan Riau dan Seno dari DI Yogyakarta.

Putu Paramitha datang dengan gagasan yang berbeda. Perempuan muda yang sehari-hari bekerja sebagai penyiar radio itu melihat pelestarian batik tidak mungkin dilakukan sendirian. Tapi membutuhkan kolaborasi pentahelix, termasuk media, untuk membuat cerita tentang batik menjangkau generasi yang lebih luas.

Putu bahkan mulai merintis program sosialisasi bernuansa "canting" sebagai jalan memperluas literasi batik di kalangan anak muda.

Upayanya berbuah manis ketika mahkota Kawung Ananta disematkan kepadanya sebagai Putri Batik Nusantara 2026 setelah mengungguli finalis dari Banten (Ratu Saskia) dan DKI Jakarta (Cahyaning Galuh).

Prestasi Kadek dan Putu di ajang PPBN 2026 seolah mengingatkan bahwa menjaga batik hari ini tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Sering kali, hal itu dimulai dari keputusan mengenakan batik dalam keseharian.

Pada kesempatan lain, hal itu bisa tumbuh begitu saja dari sebuah percakapan di radio, unggahan di media sosial, desain baru, cerita tentang sebuah motif, atau keberanian seorang anak muda memperkenalkan batik kepada lingkungannya.

Dari hal-hal kecil seperti itulah sebuah warisan menemukan jalan untuk terus hidup. Sebab setiap warisan membutuhkan pewaris. Sesuatu yang diwariskan tidak akan benar-benar hidup hanya karena disimpan, dipamerkan, atau dikenang.

Warisan membutuhkan manusia yang bersedia menerimanya, memahami maknanya, lalu membawa nilai yang terkandung di dalamnya berjalan lebih jauh melintasi zaman.

Begitu pula dengan batik. Selama berabad-abad, batik bertahan bukan semata karena motif dan teknik pembuatannya diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Batik hidup karena setiap zaman selalu menemukan cara untuk memberi makna baru pada selembar kain tanpa harus memutus hubungannya dengan masa lalu.

Di dalam selembar batik tersimpan lebih dari sekadar warna dan motif. Ada cerita keluarga, identitas suatu daerah, pengetahuan tentang alam, keterampilan tangan, ingatan kolektif, hingga jejak perjalanan masyarakat yang melahirkannya.

Oleh karena itu, ketika generasi berganti, sesungguhnya yang perlu diwariskan bukan hanya kemampuan membuat atau mengenakan batik. Yang jauh lebih penting adalah rasa memiliki terhadap cerita di baliknya.


Generasi batik

Kini pelestarian batik menghadapi tantangan sekaligus peluang baru. Generasi muda tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dengan generasi pembatik sebelumnya.

Mereka hidup bersama media sosial, budaya visual, teknologi, mobilitas tinggi, dan kecenderungan mengekspresikan identitas secara personal.

Meminta mereka mencintai batik dengan cara yang persis sama seperti generasi sebelumnya barangkali bukan jawabannya. Justru yang perlu dilakukan adalah memberikan ruang agar mereka menemukan alasan sendiri untuk mencintai batik, kemudian mengekspresikan kecintaan itu dengan bahasa zamannya.

Ruang semacam itu terlihat dari warna biru dan toska yang muncul pada sejumlah busana bermotif Batik Derawan dan Maratua dalam Pemilihan Putra Putri Batik Nusantara (PPBN) 2026 di Jakarta.

Warna-warna tersebut membawa imajinasi pada laut jernih, gugusan pulau, dan kehidupan pesisir Kalimantan Timur.

Di tangan anak-anak muda, bentang alam itu tidak berhenti sebagai pemandangan. Batik diterjemahkan menjadi motif, warna, busana, dan akhirnya cerita baru.

Inisiator Putra Putri Batik Nusantara Sapta Nirwandar melihat karya-karya tersebut dengan antusias.

Sekilas, yang terjadi mungkin hanya anak muda membuat desain batik. Namun, bila dilihat lebih dalam, ada proses yang jauh lebih penting sedang berlangsung; sebuah warisan sedang mencari bahasa baru untuk berbicara kepada zamannya.

Anak muda tidak lagi sekadar diminta mengenakan batik. Mereka diberi ruang untuk menafsirkan, mengembangkan, bahkan menceritakannya kembali. Hal ini menunjukkan betapa regenerasi memperoleh makna.

Pelestarian budaya bukanlah upaya membekukan masa lalu agar tetap persis seperti dahulu. Sebaliknya, sebuah warisan akan terus hidup ketika generasi berikutnya diberi kepercayaan membawanya memasuki kehidupan mereka sendiri, tanpa mencabut akar nilai dan pengetahuan yang membentuknya.

Pengakuan batik Indonesia sebagai warisan budaya takbenda dunia UNESCO pada 2009 karena itu bukanlah tujuan akhir.

Pengakuan tersebut justru melahirkan pertanyaan yang jauh lebih menentukan yakni setelah dunia mengakuinya, siapa yang akan meneruskannya?

Pertanyaan itulah yang menurut Sapta ikut melatarbelakangi lahirnya Putra Putri Batik Nusantara (PPBN) pada 2011. Ketika itu, kegiatan pelestarian batik banyak digerakkan generasi senior. Lalu muncul gagasan sederhana, mengapa anak muda tidak diberi ruang yang lebih besar?

Dari gagasan tersebut, PPBN berkembang hingga memasuki penyelenggaraan ke-11 pada 2026. Jejaringnya kini mencakup lebih dari 280 alumni dari berbagai angkatan dan profesi.

Menariknya, para alumni tidak harus menjadi pembatik, desainer, atau bekerja di industri fesyen untuk berkontribusi. Ada yang menjadi dokter dan menjalani beragam profesi lain.

Maka pengertian tentang penjaga batik menjadi jauh lebih luas. Seseorang tidak harus menjadi pembatik untuk ikut menjaga batik. Seorang dokter dapat mengenakannya sekaligus memahami ceritanya.

Kreator konten dapat memperkenalkan filosofi motif kepada pengikutnya. Pengusaha dapat membuka pasar baru. Desainer dapat mempertemukan tradisi dengan kebutuhan kontemporer. Diplomat dapat membawa batik menjadi bagian dari percakapan Indonesia dengan dunia.

Dengan cara seperti itu, pelestarian tidak lagi menjadi pekerjaan sekelompok orang. Tapi tumbuh menjadi sebuah ekosistem.

Sapta Nirwandar menyebut kebanggaan sebagai modal penting. Ketika seseorang bangga terhadap warisan budayanya, muncul keinginan untuk mengenal dan menjaganya. Dari kebanggaan itu dapat tumbuh rasa ingin tahu, kreativitas, profesi, bahkan manfaat ekonomi.

"Kalau kita memiliki kebanggaan terhadap sesuatu, apalagi terhadap warisan budaya adiluhung dari nenek moyang kita, insyaallah warisan tersebut akan tetap lestari," ujar mantan Wakil Menteri Pariwisata itu.


Regenerasi budaya

Namun, kebanggaan saja tentu tidak cukup, karena hal itu membutuhkan pengetahuan dan kapasitas agar dapat berubah menjadi tindakan.

Maka dari itulah peserta PPBN tidak hanya dibekali pengetahuan mengenai batik. Mereka belajar komunikasi, public speaking, kepemimpinan, diplomasi budaya, kecerdasan emosional, personal branding, pengembangan karier, hingga membangun jejaring.

Mereka juga dinilai dari kemampuan berpikir kritis, integritas, etika, penggunaan media sosial secara positif, serta perspektif global.

Pendekatan tersebut menawarkan pelajaran penting tentang regenerasi kebudayaan. Anak muda tidak cukup hanya diberi tahu bahwa batik harus dilestarikan. Mereka perlu melihat bahwa batik mempunyai hubungan dengan kehidupan dan masa depan mereka.

Maka, mungkin sudah waktunya gagasan regenerasi bergerak lebih jauh, dari sekadar mengenalkan batik kepada anak muda menjadi memberikan ruang kepada anak muda untuk ikut menentukan masa depan batik.

Perbedaannya memang lebih mendasar. Pada pendekatan pertama, anak muda adalah penerima warisan. Pada pendekatan kedua, mereka menjadi pencipta kelanjutan warisan. Mereka bisa merancang motif berdasarkan cerita daerahnya, membuat konten digital mengenai filosofi batik, melakukan riset pewarna alami, membangun usaha, menciptakan pengalaman wisata berbasis batik, hingga mempertemukan batik dengan teknologi dan ruang kreatif baru.

Bayangkan jika di berbagai daerah tumbuh ruang regenerasi yang mempertemukan pembatik senior dengan desainer muda, mahasiswa, peneliti, fotografer, kreator digital, pelaku pariwisata, dan pengusaha muda.

Generasi senior membawa kedalaman pengetahuan dan tradisi, sementara generasi muda menghadirkan teknologi, jejaring, perspektif, serta keberanian bereksperimen. Pertemuan keduanya dapat membawa pelestarian bergerak dari sekadar menjaga menjadi mengembangkan.

Baca juga: Jejak akulturasi Tiongkok-Indonesia pada selembar kain

Yang diwariskan kemudian bukan hanya motif, melainkan pengetahuan, keterampilan, nilai, cerita, dan kemungkinan untuk memperoleh penghidupan dari batik. Maka kemudian budaya bertemu dengan ekonomi. Sebuah warisan mempunyai peluang lebih besar untuk bertahan ketika orang yang menjaganya juga mempunyai kesempatan tumbuh bersamanya. Batik dapat membuka ruang bagi pekerjaan, usaha, inovasi desain, pariwisata, riset, dan industri kreatif.

PPBN mencoba mengarah ke sana melalui empat pilar, yakni promosi, wirausaha, inovasi, dan edukasi. Karena itu, mahkota yang diterima Kadek dan Putu seharusnya bukan menjadi akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru.

Ukuran keberhasilan mereka kelak bukan berapa lama gelar Putra dan Putri Batik melekat pada nama, tetapi seberapa jauh batik mendapatkan ruang baru karena keberadaan mereka.

Menariknya, semangat regenerasi itu juga terlihat dari cara PPBN berjalan. Alumni angkatan sebelumnya mengambil tanggung jawab terhadap penyelenggaraan, lalu tanggung jawab itu diteruskan kepada angkatan berikutnya.

Baca juga: Desainer nasional membawa batik naik kelas

Menjaga batik memang bukan sekadar menjaga kain. Yang sesungguhnya dijaga adalah mata rantai antar generasi, pengetahuan dari mereka yang lebih dahulu hadir, keberanian mereka yang hidup hari ini untuk menafsirkannya, dan kesempatan bagi generasi setelahnya untuk kembali menciptakan makna baru.

Kadek dan Putu barangkali hanyalah dua nama dalam mata rantai panjang itu. Setelah mereka akan datang nama-nama lain, dengan profesi, cara berpikir, teknologi, dan bahasa yang mungkin sama sekali berbeda.

Dan memang seharusnya demikian. Sebab sebuah warisan tidak menjadi abadi karena tidak pernah berubah. Tapi menjadi abadi karena selalu ada generasi baru yang merasa dekat untuk memilikinya, bangga untuk menjaganya, dan berani untuk membawanya menuju masa depan.


Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026