Paparan asap karhutla jangka panjang berisiko turunkan fungsi paru - ANTARA News Kalimantan Barat

September 2026 · 3 minute read

Pontianak (ANTARA) - Dokter spesialis paru RSUD Sultan Syarif Mohammad Al-Qadri Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Nur Anissa mengingatkan paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam jangka panjang berisiko menurunkan fungsi paru dan meningkatkan reaktivitas saluran napas.

“Kita semua mengetahui bahwa tiga bulan terakhir ini masyarakat di Pulau Kalimantan dan Sumatera sedang mengalami bencana kabut asap akibat karhutla. Kabut asap sendiri memberikan dampak bagi kesehatan kita,” ucapnya di Pontianak, Jumat.

Nur menjelaskan tingkat risiko kesehatan akibat paparan kabut asap dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain konsentrasi polutan, lamanya paparan, ukuran partikel, aktivitas seseorang, serta tingkat kerentanan individu terhadap asap.

Ia mengatakan kabut asap mengandung sejumlah polutan berupa karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida, ozon, sulfur dioksida, serta partikulat dan berbagai zat toksik seperti aldehida, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), benzena, toluena, logam, dan dioksin.

“Partikulat adalah polutan utama yang paling perlu diperhatikan dalam kebakaran hutan, karena dia dapat masuk sampai ke paru dan memicu proses peradangan atau proses oksidatif, terutama yang ukurannya 2,5 mikrometer ke bawah,” ujarnya.

Nur menerangkan partikulat dalam kabut asap terdiri atas partikel kasar berukuran 10 mikrometer atau lebih, partikel halus berukuran sekitar 2,5 mikrometer, serta partikel ultrahalus berukuran kurang dari 0,1 mikrometer.

Dalam jangka pendek paparan asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, gatal pada kulit, batuk, bersin, peningkatan produksi dahak, sesak napas, rasa tidak nyaman di dada, hingga mengi atau bengek.

“Jadi, kita bisa mengalami ISPA, infeksi saluran pernapasan akut dan pneumonia. Ini akibat paparan asap meningkatkan kerentanan terhadap infeksi,” katanya.

Menurut dia, paparan kabut asap juga dapat memicu eksaserbasi asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), sedangkan pada paparan berat dapat menyebabkan hipoksemia atau cedera akibat menghirup asap (inhalation injury), terutama pada petugas pemadam kebakaran dan orang dengan penyakit penyerta.

Dalam jangka panjang, lanjutnya, paparan asap karhutla berpotensi menyebabkan penurunan fungsi paru serta meningkatkan reaktivitas saluran napas. Paparan berbagai bahan dalam kabut asap yang bersifat karsinogenik juga berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Selain itu paparan CO dapat menimbulkan keluhan seperti sakit kepala dan mual, gangguan neurologis, serta memperburuk kondisi penderita penyakit jantung koroner.

Karena itu Nur mengimbau masyarakat Kalbar, khususnya Kota Pontianak, mengurangi paparan asap dengan menghindari aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara buruk dan menggunakan masker yang sesuai apabila harus beraktivitas di luar.

“Masker yang direkomendasikan yaitu jenis respirator, antara lain masker N95, KN95, dan masker FFP2. Masker tersebut dapat menyaring partikulat ukuran 2,5 mikrometer sampai dengan 95 persen, walaupun tidak dapat melindungi kita dari gas berbahaya,” katanya.

Ia menjelaskan masker bedah memberikan perlindungan yang sangat terbatas terhadap partikulat kabut asap dan berpotensi memiliki celah kebocoran, sedangkan masker kain dan buff tidak memberikan perlindungan yang memadai terhadap partikulat maupun gas beracun dalam kabut asap.

“Jadi saya tekankan sekali lagi, bahwa kita sebaiknya melindungi diri terhadap paparan kabut asap, salah satunya dengan menggunakan masker yang sudah direkomendasikan,” ujarnya.

Nur berharap kondisi kabut asap akibat karhutla segera teratasi sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan kondisi udara yang lebih aman.

Pewarta: Dedi dan Sucia Lucinda
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.