Pakar Ungkap Alasan Abu Vulkanik Bahaya Bagi Penerbangan

September 2026 · 3 minute read

Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah penerbangan di sejumlah bandara Indonesia dibatalkan sejak Minggu (6/9) hingga Senin (7/9), imbas erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu penyebaran abu vulkanik. Lantas, apa hubungannya abu vulkanik dengan penerbangan yang dibatalkan?

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan bahwa abu vulkanik ternyata berbahaya bagi penerbangan. Oleh karena itu, menurutnya penutupan sejumlah bandara merupakan langkah tepat.

Ia menjelaskan bahwa abu vulkanik hasil erupsi gunung berapi secara fisik dan kimiawi sangat berbeda dari awan biasa. Abu vulkanik tidak terdiri dari tetesan air atau kristal es, melainkan fragmentasi batuan mikroskopis, silika SiO2, serta kristal mineral berujung tajam yang bersifat sangat abrasif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ketika pesawat terbang melintasi awan abu pada kecepatan jelajah tinggi, gesekan partikel-partikel keras ini secara mekanis mengikis permukaan kaca kokpit hingga menjadi buram, merusak sensor dinamika udara seperti pitot tube yang mengukur kecepatan udara, serta mengikis bilah turbin dan lapisan pelindung mesin jet," kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (6/9).

Menurut dia, bahaya paling krusial adalah dinamika termal di dalam mesin turbofan pesawat. Suhu ruang bakar mesin jet saat beroperasi dapat mencapai 1.400 derajat Celcius hingga 2.000 derajat Celsius, jauh melampaui titik leleh senyawa silika dalam abu vulkanik yang meleleh di kisaran 1.100 derajat Celsius.

Ketika abu vulkanik terhisap masuk ke dalam mesin, partikel silika tersebut meleleh secara mendadak, mengalir, lalu membeku kembali menjadi kerak kaca ketika melewati bagian turbin yang lebih dingin. Penumpukan kerak kaca ini menyumbat nosel aliran udara dan mengganggu aerodinamika bilah turbin, yang berujung pada terhentinya aliran udara (engine stall) hingga hilangnya pembakaran internal secara total (flameout).

"Selain kerusakan mekanis dan termal, abu vulkanik juga memicu gangguan sistemik pada navigasi dan kelistrikan pesawat," jelas Daryono.

"Gesekan antarpartikel abu halus yang terlempar dengan kecepatan tinggi menimbulkan muatan listrik statis ekstrem, memicu fenomena St. Elmo's Fire di kaca kokpit serta gangguan interferensi frekuensi radio komunikasi," lanjut dia.

Menurut dia, komposisi asam yang melekat pada abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan korosi instan pada komponen elektronik sensitif dan mencemari sistem pengondisian udara kabin, yang tidak hanya mengancam kelangsungan fungsi instrumen penerbangan tetapi juga membahayakan keselamatan sistem pernapasan kru dan penumpang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengatakan bahwa abu vulkanik hasil erupsi gunung berapi merupakan material halus yang bisa terbawa angin dengan jarak yang cukup jauh. Partikel abu vulkanik ini berpotensi memengaruhi kesehatan, kualitas udara, aktivitas masyarakat, lingkungan, hingga sektor transportasi dan penerbangan.

Dalam unggahan di Instagram pada Minggu (6/9), BMKG menjelaskan salah satu dampak abu vulkanik pada penerbangan adalah dapat mematikan mesin pesawat.

"Abu vulkanik mengandung serpihan kaca dan batuan tajam. Jika terhisap masuk ke mesin pesawat yang sangat panas, abu akan meleleh dan menyumbat mesin hingga mati," tulis BMKG dalam unggahan tersebut.

Selain itu, abu vulkanik juga bisa mengurangi jarak pandang pilot. Gesekan partikel abu vulkanik juga dapat mengikis kaca kokpit pesawat seperti amplas, sehingga kaca menjadi buram dan pilot tak bisa melihat ke luar.

Kemudian, abu vulkanik juga berpotensi mengganggu sistem navigasi pesawat. Pasalnya, abu vulkanik dapat menyumbat sensor kecepatan dan ketinggian pesawat, sehingga berpotensi mengganggu akurasi informasi penerbangan.

(dmi)