Orangutan jantan ditemukan lemas akibat asap karhutla Kalimantan

August 2026 · 3 minute read

Orangutan jantan ditemukan lemas akibat asap karhutla Kalimantan

Senin, 31 Agustus 2026 13:02 WIB

Image Print

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) mengevakuasi menemukan seekor Orangutan jantan dewasa dalam kondisi lemas di perkebunan warga Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Minggu (31/8/2026) (Antara / HO : YIARI Kalbar)

Pontianak (ANTARA) - Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali menemukan seekor Orangutan jantan dewasa di perkebunan warga, dalam kondisi lemas akibat asap.

"Orangutan tersebut ditemukan di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Minggu kemarin. Setelah menerima informasi dari masyarakat mengenai keberadaan Orangutan di sekitar perkebunan, kami langsung melakukan pengecekan ke lapangan dan menemukan orangutan tersebut dalam kondisi lemas," kata Staf SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat Sarbandi, di Ketapang, Senin.

Orangutan yang diberi nama Sampurna itu diduga mengalami gangguan pernapasan akibat terpapar asap pekat karhutla yang menyelimuti habitatnya selama beberapa hari.

"Sampurna pertama kali dilaporkan warga sekitar pukul 06.00 WIB dalam kondisi lemas dan tidak sadarkan diri di sekitar perkebunan sawit milik masyarakat," katanya.

Sarbandi mengatakan kebakaran cukup parah terjadi di sekitar lokasi sehari sebelum proses penyelamatan. Saat tim tiba pada Minggu (30/8) pagi, asap masih terlihat cukup tebal sehingga diduga turut memengaruhi kondisi kesehatan Sampurna.

"Diduga akibat kebakaran hutan dan lahan, orangutan bergeser dari habitatnya dan kemudian berada di area perkebunan," katanya.

Sementara itu, Dokter hewan YIARI Komara menjelaskan paparan asap karhutla dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan satwa liar, terutama pada sistem pernapasan.

"Asap karhutla mengandung berbagai partikel dan zat yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu fungsi paru-paru," ujar Komara.

Menurut dia, paparan asap dalam kondisi pekat dan berlangsung selama beberapa hari dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga kekurangan oksigen atau hipoksia.

"Pemeriksaan menyeluruh dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan Sampurna, termasuk kemungkinan kerusakan atau gangguan pada paru-paru dan organ dalam lainnya," katanya.

Direktur Operasional YIARI Argitoe Ranting mengatakan kondisi karhutla yang masih terjadi membuat tim meningkatkan kesiapsiagaan, terutama dalam merespons laporan masyarakat terkait satwa liar yang terdampak.

"Tim medis dan tim penyelamatan YIARI kami siagakan selama 24 jam untuk merespons laporan dan melakukan tindakan penyelamatan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan," ujar Argitoe.

Penyelamatan Sampurna menambah daftar orangutan yang dievakuasi BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI akibat ancaman karhutla sepanjang Agustus 2026.

Baca selanjutnya
Kemenhut evakuasi orangutan...
 

Pewarta : Rendra Oxtora
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.