Orang Indonesia Jarang ke Dokter Gigi, Inikah Masalahnya?

September 2026 · 3 minute read

Jakarta -

Rutinitas menyikat gigi memang sudah tidak asing dalam keseharian, hampir 90 persen orang Indonesia sudah memiliki kebiasaan menyikat gigi setiap hari. Namun apakah caranya benar-benar sudah tepat?

Tingginya angka tersebut rupanya belum berbanding lurus dengan status kesehatan gigi dan mulut secara nasional. Kebiasaan yang salah, seperti menyikat gigi di waktu yang kurang tepat, membuat berbagai masalah mulut tetapi menjadi tantangan tersendiri.

Jika membedah lebih dalam mengenai sebaran masalah kesehatan gigi di Indonesia, muncul sebuah ironi besar di provinsi dengan populasi terbanyak: Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak, Jawa Barat seharusnya menjadi percontohan. Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tingginya populasi sejalan dengan tingginya masalah kesehatan gigi yang mengintai, termasuk gigi dan mulut.

Wakil Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PD PDGI), drg Tari Tritarayati memaparkan, Jawa Barat adalah wilayah yang harus menjadi prioritas.

"Khusus untuk gigi, kalau saya kembali lagi ke data yang kita lihat dari Survei SKI menunjukkan bahwa 63 persen masyarakat Jawa Barat itu mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Nah, ini memang di atas rata-rata nasional (59,9 persen)," ujar drg Tari saat Konferensi Pers Bulan Kesehatan Gigi Nasional di Jakarta, Jumat (17/9/2026).

Hal yang lebih memprihatinkan adalah rendahnya kesadaran di wilayah ini untuk mencari pertolongan medis atau sekadar memeriksakan kondisi giginya.

"Nah, kemudian ketika dilihat lagi dari hasil survei 89,9 persen itu bahkan mereka tidak pernah berkunjung ke dokter gigi. Nah, ini kan suatu hal yang menjadi tantangan gitu, ya," jelas drg Tari menyoroti ironi tersebut.

Menghadapi tantangan kesenjangan edukasi dan fasilitas yang nyata di daerah-daerah pada penduduk maupun pelosok, berbagai asosiasi profesi dokter gigi merapatkan barisan.

Ahli Kesehatan Masyarakat, drg Ratu Mirah menjelaskan, terdapat langkah strategis yang akan dilakukan bersama PDGI untuk melakukan intervensi langsung, tidak hanya di Jawa Barat tetapi juga hingga ke pelosok timur Indonesia.

"Dan juga nanti di PDGI kami juga akan bekerja sama dengan 6 PDGI Jawa Barat dan juga di area-area yang terdampak oleh bencana dan juga di tempat-tempat di Papua, di mana jumlah dokter gigi mungkin masih kurang," kata drg Mirah.

Untuk memastikan edukasi dan layanan kesehatan menjangkau masyarakat yang tidak pernah pergi ke dokter gigi, metode pelayanan pun diubah.

Sinergi ini juga didukung penuh oleh dunia pendidikan kedokteran gigi. Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), Prof drg Suryono, S.H., M.M, PhD, mengutarakan komitmen kuat untuk terus menggerakkan edukasi besar-besaran agar kesadaran masyarakat mengenai kebersihan mulut meningkat.

"Makanya, di tahun ini kita akan bergerak bagaimana menyadarkan masyarakat kita terkait dengan tentu kesehatan apa jadikan mulut, khususnya tadi menjaga kebersihan rongga mulut, agar tidak timbul disbiosis," jelasnya.

"Bahkan, tahun depan kami siap gerakkan 52 FKG," tutupnya.

@detikhealth_official Cuma segede biji polong? Tapi emang cukup ya segitu buat bersihin gigi? Jawabannya: cukup banget! 🦷 Ternyata, pasta gigi modern sudah punya kandungan aktif seperti fluoride yang pas. Makin banyak pasta gigi bukan berarti makin bersih, ya! Yuk, mulai perhatiin kebiasaan kamu sikat gigi,biar ga salah lagi! Creator: Nima #detikHealth #tipskesehatangigi #tipskesehatan #pastagigi ♬ original sound - detikHealth

Halaman 2 dari 2

Simak Video "Video: Data SKI Ungkap Karies Jadi Masalah Gigi Nomor Satu di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)