Jakarta, CNBC Indonesia - Kamboja sedang mengumpulkan bukti terhadap orang-orang yang diduga menjadi dalang di balik operasi penipuan siber (cyber fraud) berskala masif. Upaya ini dilakukan di tengah kritik kegagalan negara tersebut.
Chhay Sinarith, selaku pemimpin komisi pemerintah untuk memberantas penipuan menyebut tindakan hukum baik yang melibatkan otak kejahatan, antek-anteknya, pemilik, penyedia fasilitas, maupun pelindungnya, membutuhkan waktu dan bukti.
"Itulah mengapa sangat penting bagi kita untuk bekerja sama," katanya dikutip dari CNA, Minggu (27/9/2026).
Dia menambahkan bahwa informasi yang diberikan oleh mitra internasional memungkinkan tindakan terhadap beberapa tersangka. Namun pengungkapan penyelidikan yang terlalu dini dapat menyebabkan para tersangka melarikan diri.
Kamboja dan negara-negara Asia Tenggara lainnya muncul sebagai pusat pusat penipuan berskala industri selepas pandemi beberapa waktu lalu. Para pekerja ditindak secara tindak pidana perdagangan orang (TPPO), ditahan dalam kondisi yang mengenaskan, dan dipaksa untuk menipu orang tak dikenal secara daring.
AS menyatakan bahwa kompleks-kompleks penipuan di kawasan tersebut mencuri US$ 10 miliar dolar dari warga Amerika pada 2024.
Chhay menyatakan bulan lalu bahwa Kamboja telah memusnahkan kompleks penipuan skala besar sejak memulai tindakan tegas selama setahun, meskipun pemerintah belum memberikan daftar lengkap situs-situs yang telah digerebek.
Namun, para analis bersikap skeptis. John Wojcik, analis senior di firma intelijen blockchain TRM Labs mengatakan bahwa operasi tersebut tidak menyentuh figur-figur tingkat tinggi dan para pelindung industri tersebut.
"Jelas bahwa banyak kompleks besar yang tetap aktif meskipun operator lain telah membersihkan diri dan menyebar ke lokasi-lokasi yang lebih kecil dan terdesentralisasi. Teknologi, jalur pembayaran, jaringan pencucian uang, dan para fasilitator yang menopang industri ini juga terus beroperasi dalam skala besar," kata dia.
Chhay mengatakan pihak berwenang sedang memperluas penyelidikan terhadap jaringan keuangan Prince Group, konglomerat di Kamboja yang dituduh oleh AS sebagai kedok bagi operasi penipuan daring dan pencucian uang miliaran dolar. Pendirinya yang kelahiran Tiongkok, Chen Zhi, ditangkap dan dideportasi ke Tiongkok dari Kamboja awal tahun ini.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]