MilkLife Soccer Challenge dan Pokemon Hadirkan Coaching Clinic, Ajak Legenda Sepak Bola Putri Jepang |Republika Online

September 2026 · 5 minute read

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife dan The Pokemon Company menggelar coaching clinic bertajuk “MilkLife Soccer Challenge with Pokemon” bersama dua legenda sepak bola putri Jepang, Mana Iwabuchi dan Aya Miyama di Lapangan KingKong Arena, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (17/9/2026). Acara ini merupakan bagian dari rangkaian MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 1 musim 2026 - 2027.

Coaching Clinic tersebut diikuti oleh 74 pesepakbola putri di rentang usia 10 sampai 13 tahun yang berasal dari Jakarta, Tangerang dan Bekasi. Mereka juga merupakan peserta MilkLife Soccer Extra Training yang dipersiapkan untuk berlaga di MilkLife Soccer Challenge All-Stars tahun depan. Melalui kegiatan coaching clinic ini, para peserta mendapatkan kesempatan mengembangkan kemampuan teknis dan koordinasi fisik sekaligus merasakan pengalaman berlatih serta bermain bersama dua anggota skuad timnas sepak bola wanita Jepang yang menjadi juara Piala Dunia Wanita FIFA di tahun 2011 tersebut.

Dalam sambutannya ketika opening ceremony, President Director Djarum Foundation, Victor Rachmat Hartono menyampaikan terima kasih pada seluruh pihak yang ambil bagian dan turut memeriahkan Pokemon di MilkLife Soccer Challenge Jakarta Raya Seri 1 2026 - 2027. “Terima kasih untuk tamu-tamu dan adik-adik yang sudah hadir, khususnya dari Jepang yaitu Fukunaga-san, Mana Iwabuchi dan Aya Miyama. Terima kasih datang ke Jakarta. Terima kasih juga untuk Pokemon Company dan Pikachu, terima kasih sudah mendukung program MilkLife Soccer Challenge. Semoga kita semua bisa tumbuh dan makin sukses bersama, dan MLSC ini akan makin populer bersama Pikachu,” katanya.

Coaching clinic bersama Pokemon merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan program pengembangan pemain sepak bola putri usia dini. Menurutnya, kegiatan ini melengkapi pengalaman yang didapat para pemain dari kompetisi MilkLife Soccer Challenge dengan memperoleh pembelajaran langsung dari figur sepak bola perempuan berpengalaman di level internasional.

MLSC menghadirkan Aya Miyama dan Mana Iwabuchi sebagai role model. Dengan kehadiran keduanya, kami ingin memberikan bukti nyata bahwa dari kegiatan sepak bola yang mereka lakukan dari kecil bisa membuahkan prestasi yang luar biasa pada saat mereka dewasa. Aya dan Mana membuktikan bahwa sepak bola yang mereka tekuni sejak kecil, jika dijalani secara konsisten akan memetik hasil luar biasa seperti mendapatkan medali Olimpiade dan Juara Piala Dunia Wanita FIFA.

Sementara itu, Corporate Officer The Pokemon Company, Susumu Fukunaga menjelaskan keterlibatan Pokemon dalam kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan pengalaman baru bagi peserta, tetapi juga mendorong terciptanya ruang olahraga yang menyenangkan dan inklusif bagi para peserta. Kolaborasi dengan MLSC menjadi salah satu bentuk dukungan Pokemon terhadap perkembangan sepak bola putri Indonesia dengan mempertemukan para peserta berbakat untuk belajar langsung pada sosok inspiratif di dunia sepak bola putri.

Coaching clinic bersama Mana Iwabuchi dan Aya Miyama berlangsung selama 90 menit dengan rangkaian kegiatan yang dimulai dari opening dan warm-up. Sesi ini menjadi tahap awal untuk mempersiapkan kondisi fisik sekaligus mengenalkan alur latihan kepada para peserta.

Selanjutnya, peserta mengikuti latihan yang berfokus pada kemampuan dasar dan koordinasi fisik. Dalam sesi tersebut, mereka melakukan sejumlah drill seperti ball touch, juggling, gerakan mengecoh, step work, hingga teknik yang dapat diterapkan dalam situasi pertandingan.

Setelah mendapatkan materi teknik, para peserta kemudian diminta mengaplikasikan kemampuan tersebut melalui simulasi pertandingan. Mereka dibagi ke dalam delapan tim dan bermain di empat lapangan secara bersamaan dengan format pertandingan yang disesuaikan dengan jumlah pemain. Mana Iwabuchi dan Aya Miyama juga turut bergabung dalam setiap rotasi pertandingan untuk memberikan pengalaman bermain secara langsung kepada para peserta.

Bagi Mana Iwabuchi, kesempatan mendampingi para pemain muda tersebut menjadi momentum untuk melihat sekaligus memberikan masukan terhadap kemampuan dasar yang mereka miliki. Mantan pemain Arsenal Women itu menilai pondasi teknik menjadi aspek penting yang perlu terus diasah sejak usia dini, terutama ketika pemain mulai mempersiapkan diri menuju level kompetitif yang lebih tinggi.

“Dalam sesi kali ini, saya fokus mengajarkan teknik dasar seperti kontrol bola yang presisi dan akurasi tembakan, karena itu adalah kunci utama seorang pesepakbola di level mana pun. Saya melihat mereka sangat semangat, ada power, dan mereka sangat enjoy untuk bermain sepak bola dan saya kira itu sangat bagus. Saya sejak kecil setiap hari memegang bola. Saya main bola, maka dari itu saya bisa sampai di posisi seperti sekarang. Maka saya kira peserta di sini pun jika main bola setiap hari, pegang bola setiap hari, mereka juga bisa akan menjadi seperti saya,” ujar penyerang yang mengawali karirnya di klub Nippon TV Beleza tersebut.

Sementara itu, Aya Miyama memberikan pandangannya mengenai proses yang perlu dijalani para pemain muda untuk mengejar cita-cita sebagai pesepakbola profesional. Dari pengalamannya sebagai mantan kapten timnas Jepang, Aya menekankan bahwa kemampuan pemain tidak hanya dibentuk melalui latihan teknis, tetapi melalui keberanian untuk belajar dari kesalahan dan menjaga konsistensi sejak usia dini. Selain itu, dukungan pihak-pihak yang bisa mewadahi perkembangan mereka dengan turnamen-turnamen kompetitif juga menjadi hal penting yang harus dilakukan secara berkesinambungan.

“Secara skill, saya melihat para peserta bisa sangat berkembang ke depannya. Saya pribadi beruntung dapat bermain bola di lingkungan yang sangat support perkembangan saya. Maka dari itu, menurut saya lingkungan juga penting untuk lingkungan untuk bisa mendukung mereka berkembang jadi pesepakbola putri di Indonesia. Dan dengan adanya acara ini, Indonesia bisa punya timnas yang kuat ke depannya. Jepang membutuhkan 30 tahun untuk menjadi nomor satu di dunia dan mungkin Indonesia bisa lebih cepat daripada itu,” ucap midfielder yang tiga kali menyabet gelar AFC Women’s Player of the Year tersebut.

Usai mengikuti coaching clinic, siswi SDN Cilangkap 01 Pagi Zavinna Latisya Istiana bersyukur dapat belajar langsung dari Mana Iwabuchi dan Aya Miyama. Sebagai satu peserta extra training pengalaman tersebut memberikan gambaran baru mengenai hal-hal teknis yang perlu diperhatikan ketika berada di lapangan.

“Senang dan bangga sekali bisa main langsung sama pemain legendaris dari Jepang. Kami bisa mendapat pengalaman baru, bisa dapat ilmu baru dari mereka. Selain teknik dasar bermain sepak bola, kami juga diajarkan kerja sama tim, cara berkomunikasi di lapangan,” ucap dia.

Di sisi lain, kembaran Zavinna, yakni Zivanna Talitha Istiana, menyebut motivasi yang diberikan Aya Miyama selama pelatihan menambah keinginannya untuk menjadi pesepakbola profesional. Dengan arahan dan pembelajaran yang didapat, ia bertekad untuk jadi bagian dari kesuksesan timnas sepak bola putri Indonesia di masa depan.

“Mereka (Mana Iwabuchi dan Aya Miyama) passing sama shoot-nya bagus, terus control master-nya bagus banget. Mereka juga meminta kami untuk jangan mudah menyerah dan terus bersemangat jika mau menjadi pemain sepak bola profesional. Pengalaman ini makin menambah semangat saya untuk terus disiplin berlatih agar cita-cita saya menjadi pesepakbola profesional dan membela Timnas Indonesia bisa terwujud,” ungkapnya.