Menteri LH nilai mangrove punya potensi jadi motor ekonomi hijau - ANTARA News Bali

July 2026 · 2 minute read

Denpasar, Bali (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menyatakan rehabilitasi mangrove tidak hanya penting untuk memulihkan lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi hijau melalui mekanisme perdagangan karbon internasional.

Saat menghadiri acara puncak Hari Mangrove Sedunia di Denpasar Selatan, Bali, Minggu, Jumhur mengatakan pemerintah tengah membangun gerakan nasional pemulihan mangrove yang melibatkan berbagai kementerian, pemerintah daerah, serta masyarakat.

"Penanaman mangrove dapat dikolaborasikan dengan kegiatan bisnis melalui mekanisme pasar karbon internasional. Aktivitas yang menghasilkan karbon dapat dikompensasi melalui pasar karbon, sehingga menghasilkan pendanaan yang cukup besar," katanya.

Menurut dia, rehabilitasi mangrove kini telah dilakukan secara serentak di 162 titik yang tersebar di 37 provinsi dengan melibatkan sekitar 2.000 peserta secara langsung dan puluhan ribu peserta lainnya dari berbagai daerah.

Jumhur menegaskan mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon empat hingga lima kali lebih besar dibandingkan vegetasi daratan pada umumnya.

Karena itu, penanaman satu hektare mangrove dinilai setara dengan sekitar empat hektare tanaman daratan dalam menyerap emisi karbon.

Ia menilai kemampuan tersebut menjadikan mangrove sebagai salah satu solusi penting untuk mengimbangi peningkatan emisi karbon akibat aktivitas ekonomi sekaligus mendukung target pengendalian perubahan iklim.

Ke depan, rehabilitasi mangrove tidak hanya mengandalkan pembiayaan dari APBN maupun APBD, tetapi juga akan dikolaborasikan dengan dunia usaha melalui mekanisme pasar karbon internasional.

Menurut Jumhur, skema tersebut akan menarik investasi untuk penanaman mangrove dalam skala besar sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat dalam pemeliharaan kawasan mangrove.

Ia mengungkapkan sejumlah investor besar telah menyatakan minat untuk berinvestasi dalam rehabilitasi ratusan ribu hektare mangrove di Indonesia.

Selain memberikan keuntungan bagi investor, program tersebut diproyeksikan menciptakan lapangan kerja hijau (green jobs), memberikan upah kepada masyarakat selama proses pemeliharaan, hingga menghadirkan skema pembagian manfaat (benefit sharing) dari hasil perdagangan karbon.

Pemerintah saat ini juga sedang menghitung besaran kontribusi sektor pemulihan lingkungan berbasis pasar karbon terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dalam satu hingga dua tahun mendatang, termasuk potensi penyerapan jutaan tenaga kerja.

"Berdasarkan berbagai perhitungan yang kami lakukan, membangun Indonesia melalui pemulihan lingkungan dengan memanfaatkan mekanisme pasar karbon merupakan kegiatan usaha yang menguntungkan," ungkapnya.

Jumhur menilai Indonesia memiliki keunggulan besar karena didukung wilayah laut yang luas, ekosistem mangrove yang melimpah, serta kondisi geografis yang menjadikan ekonomi hijau sebagai potensi ekonomi baru yang menjanjikan.

Ia pun mengajak seluruh pihak menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove agar kekayaan alam Indonesia dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pewarta: Rolandus Nampu
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.