Teheran (ANTARA) - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa Teheran tidak akan membiarkan Amerika Serikat (AS) menentukan akhir perang.
Seraya menyampaikan AS telah "terjebak dalam situasi rumit" selama lima bulan, Baghaei mengatakan dalam sebuah taklimat pers, sebagaimana dilansir kantor berita semiresmi Iran, Mehr. Senin (27/7), bahwa Teheran tidak akan membiarkan pihak AS "menentukan waktu berperang dan berdamai, dan kami akan mempertahankan diri selama diperlukan."
Baghaei menambahkan bahwa AS tidak terlibat dalam perundingan baru-baru ini dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz, yang dia gambarkan sebagai hal "positif".
"Perundingan-perundingan ini tidak ada hubungannya dengan AS. Ini merupakan urusan bilateral antara Iran dan Oman, dan perundingan tersebut masih berlanjut," ujarnya, seraya mengimbuhkan bahwa Selat hormuz "masih ditutup."
Baghaei menyebutkan beberapa negara Teluk telah terlibat dalam perang AS melawan Iran, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Dia juga memperingatkan soal konsekuensi "tak terduga" usai Ukraina menyerang sebuah kapal Iran di Laut Kaspia pada akhir pekan lalu.
Dalam pernyataan terpisah yang diunggah di platform X, Baghaei mengatakan, "Zelensky telah menyerang sebuah kapal komersial Iran, mengakibatkan tewasnya seorang pelaut."
Dia menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB yang "dilakukan atas perintah Israel untuk menyeret Eropa ke dalam perangnya (Israel)."
"Tindakan Ukraina ini merupakan perbuatan yang benar-benar ilegal dan tidak berdasar ... serta bentuk petualangan berbahaya yang dipastikan tidak akan dibiarkan begitu saja oleh kami," sebut Baghaei dalam taklimat pers tersebut, seraya menambahkan bahwa konsekuensi dari tindakan Ukraina itu "pasti akan tidak terduga."
Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.