Salah satu ujian terberat akhlak di era digital adalah ujian keikhlasan. Media sosial bekerja dengan sistem penghargaan instan berupa tombol likes, komentar pujian, dan jumlah pengikut (followers).
Mataram (ANTARA) - Peradaban manusia hari ini sedang berada di titik persimpangan yang paling riuh sepanjang sejarah. Kehadiran ruang digital, internet, dan media sosial telah mengubah lanskap interaksi kita secara radikal. Batas-batas geografis runtuh, kecepatan informasi melesat melampaui kedipan mata, dan setiap individu kini memiliki panggungnya masing-masing untuk bersuara.
Namun, di balik segala kemudahan teknologi yang kita agungkan, ada harga mahal yang diam-diam sedang dibayar oleh kemanusiaan kita: merosotnya nilai-nilai akhlak.
Setiap hari, lini masa kita disuguhi oleh karnaval caci maki, penyebaran berita bohong (hoaks), pembunuhan karakter (character assassination), pamer kemewahan yang memicu hasad, hingga hilangnya privasi demi kejar tayang popularitas algoritma.
Ruang digital yang sejatinya diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, justru sering kali menjauhkan kita dari hakikat kedamaian batin dan keluhuran budi pekerti.
Di tengah situasi yang serba bising, penuh kepura-puraan, dan minim empati ini, umat Islam dihadapkan pada satu pertanyaan besar: Ke mana kita harus mencari arah kompas moral? Jawabannya tetap sama, tidak pernah berubah sejak 14 abad yang lalu, yaitu pada diri Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab: 21). Mentauladani akhlak Rasulullah SAW di era digital bukan lagi sekadar pilihan spiritual, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial agar kita tidak terseret dan tenggelam dalam arus anarki digital.
Digitalisasi dan Krisis Kemanusiaan Modern
Sebelum melangkah lebih jauh pada aspek keteladanan Nabi, kita perlu memetakan apa yang sebenarnya terjadi pada psikologi masyarakat di dunia siber. Ruang digital menciptakan apa yang disebut para psikolog sebagai online disinhibition effect—efek di mana seseorang merasa lebih bebas, lebih berani, dan minim rasa bersalah ketika berkomentar di balik layar gawai, dibandingkan saat berbicara tatap muka.
Rasa anonimitas ini membuat runtuhnya tembok rasa malu (haya’). Seseorang yang di dunia nyata dikenal santun, bisa berubah menjadi sangat beringas di kolom komentar media sosial.
Selain itu, algoritma media sosial hari ini dirancang untuk memanen emosi manusia. Konten yang memicu kemarahan, perdebatan, dan kontroversi terbukti mendapatkan keterikatan (engagement) yang jauh lebih tinggi. Akibatnya, kita secara tidak sadar dididik oleh sistem untuk menjadi manusia yang reaktif, gemar berdebat, dan gemar mencari kesalahan orang lain (tajassus).
Di sinilah urgensi menghadirkan kembali figur Rasulullah SAW. Beliau diutus oleh Allah tidak lain adalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia (li-utammima makarimal akhlaq). Jika prinsip-prinsip hidup beliau ditarik ke dalam konteks modern, maka akhlak kenabian akan bertransformasi menjadi panduan etika digital yang sangat visioner dan menyelamatkan.
Menghidupkan Sifat Jamaah Nabi di Media Sosial
Nabi Muhammad SAW dibekali dengan empat sifat utama: Siddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathanah (cerdas). Mari kita bedah bagaimana keempat sifat ini harusnya menjadi fondasi jempol kita saat berselancar di dunia maya.
1. Shiddiq dan Amanah: Penawar Wabah Hoaks
Siddiq berarti benar atau jujur. Dalam ekosistem digital, siddiq adalah kewajiban untuk memastikan bahwa setiap informasi yang kita bagikan adalah kebenaran yang valid. Kita dilarang keras menjadi agen penyebar syak wasangka atau kabar burung. Tantangan terbesar hari ini adalah fenomena post-truth, di mana sentimen emosional lebih dipercaya daripada fakta objektif. Orang cenderung membagikan berita bukan karena berita itu benar, melainkan karena berita itu memuaskan kebencian atau keberpihakan politik mereka.
Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam sebuah hadits: "Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila dia menceritakan setiap apa yang didengarnya." (HR. Muslim). Hadits ini adalah prinsip utama dari etika sharing di media sosial. Sebelum menekan tombol share atau retweet, akhlak siddiq menuntut kita untuk melakukan konfirmasi menyeluruh (tabayyun). Sementara itu, amanah menuntut kita untuk menjaga data pribadi orang lain, tidak menyebarkan aib, dan menghormati hak kekayaan intelektual (tidak melakukan plagiasi konten).
2. Tabligh yang Santun: Meluruskan Konten Dakwah
Tabligh berarti menyampaikan kebaikan. Di era digital, setiap Muslim adalah dai. Melalui status, video pendek, atau cuitan, kita memiliki kesempatan untuk menyebarkan syiar Islam ke seluruh penjuru dunia. Namun, bagaimana cara kita menyampaikan? Di sinilah banyak dari kita yang terjebak. Sering kali, niat baik menyampaikan kebenaran dibungkus dengan bahasa yang kasar, menghakimi, dan penuh kesombongan spiritual.
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling lembut tutur katanya. Beliau tidak pernah membalas makian dengan makian. Ketika berdakwah, prinsip beliau adalah bassyiru wala tunaffiru (gembirakanlah dan jangan membuat orang berlari menjauh). Dunia digital membutuhkan konten-konten yang menyejukkan, bukan yang memecah belah. Dakwah digital yang meneladani Rasulullah adalah dakwah yang merangkul, bukan memukul; dakwah yang mengajak, bukan mengejek.
3. Fathanah: Kecerdasan dan Kebijaksanaan Digital
Fathanah berarti cerdas atau bijaksana. Menjadi Muslim yang fathanah di era digital artinya kita tidak boleh menjadi konsumen informasi yang naif. Kita harus memiliki kecerdasan literasi media yang baik untuk memilah mana konten yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita, dan mana yang sekadar membuang waktu (laghwu). Orang yang fathanah tahu kapan harus mengetik dan kapan harus diam. Mereka paham bahwa berdebat kusir di kolom komentar dengan akun-akun anonim yang tidak jelas identitasnya adalah kesia-siaan yang menguras energi spiritual.
Menjaga Hati dari Penyakit "Likes" dan "Followers"
Salah satu ujian terberat akhlak di era digital adalah ujian keikhlasan. Media sosial bekerja dengan sistem penghargaan instan berupa tombol likes, komentar pujian, dan jumlah pengikut (followers). Secara psikologis, hal ini dapat memicu hormon dopamin yang membuat manusia ketagihan untuk terus-menerus mencari perhatian dunia.
Kondisi ini sangat rentan menumbuhkan penyakit hati yang paling ditakuti oleh Rasulullah SAW, yaitu Riya’ (ingin dipuji), Sum'ah (ingin didengar kehebatannya), dan Ujub (kagum pada diri sendiri).
Saat kita membagikan momen ibadah kita, sedekah kita, atau pencapaian hijrah kita di media sosial dengan harapan mendapat pujian netizen, saat itulah nilai pahala kita terancam sirna. Rasulullah SAW menyebut riya’ sebagai syirik khafi (syirik yang tersembunyi), yang jalannya lebih halus daripada semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di kegelapan malam.
Meneladani Nabi di posisi ini berarti kita harus memperketat penjagaan niat. Kita harus berani bertanya pada diri sendiri sebelum mengunggah sesuatu: Apakah postingan ini untuk rida Allah, atau untuk memuaskan ego egoistik saya agar dianggap shalih, pintar, atau hebat? Nabi mengajarkan kita untuk menyembunyikan amal kebaikan kita sebagaimana kita menyembunyikan aib-aib kita. Prinsip kesederhanaan dan ketulusan inilah yang harus menjadi rem darurat di tengah budaya pamer (flexing) yang merajalela di dunia siber.
Meneladani Sikap Pemaaf Nabi di Tengah Budaya Cancel Culture
Dunia digital hari ini adalah dunia yang sangat kejam dan menghukum. Ada fenomena yang disebut cancel culture, di mana ketika seseorang melakukan satu kesalahan atau salah ucap di masa lalu, maka netizen secara massal akan merundung, mengucilkan, dan menghancurkan reputasi hidupnya tanpa ampun. Ruang digital hampir tidak memberikan ruang bagi manusia untuk meminta maaf dan memperbaiki diri.
Bagaimana Rasulullah SAW mencontohkan penyelesaian konflik? Beliau adalah manusia yang paling pemaaf. Mari kita ingat kisah penduduk Thaif yang melempari beliau dengan batu hingga berdarah-darah.
Ketika Malaikat Jibril menawarkan diri untuk meruntuhkan gunung di atas kota Thaif sebagai balasan, apa jawaban Nabi? Beliau menolak dan justru mendoakan mereka: "Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Jika kita memiliki akhlak pemaaf seperti Nabi, kita tidak akan mudah ikut-ikutan melakukan perundungan siber (cyberbullying).
Kita akan memahami bahwa setiap manusia pasti pernah khilaf, dan tugas kita sebagai sesama Muslim adalah merangkul mereka untuk kembali ke jalan yang benar, bukan malah menyorakinya jatuh ke dalam jurang kehancuran.
Kesimpulan: Menjadi Oase di Padang Pasir Digital
Riuhnya dunia digital tidak bisa kita hindari. Melarikan diri sama sekali dari teknologi juga bukan pilihan yang bijak bagi umat Islam, karena kita akan tertinggal dalam peradaban. Maka, jalan satu-satunya yang tersisa adalah menjadi warna, bukan diwarnai.
Kita harus mendominasi ruang digital dengan vibrasi positif akhlak kenabian. Mari kita jadikan gawai di tangan kita sebagai saksi kebaikan di hari akhir kelak. Setiap ketikan adalah doa, setiap share adalah ladang pahala amal jariyah, dan setiap konten yang kita tonton adalah sarana mendekatkan diri pada sang pencipta.
Dengan membumikan kembali akhlak Rasulullah SAW—menjaga lisan digital kita dari menyakiti orang lain, membersihkan hati dari haus pujian netizen, serta menggunakan kecerdasan untuk menyebarkan kedamaian—kita bisa mengubah lini masa yang tadinya riuh dan beracun menjadi sebuah oase yang menyejukkan.
Semoga di bulan yang mulia ini, kita tidak hanya memperingati kelahiran jasad Nabi Muhammad SAW secara seremonial, tetapi benar-benar melahirkan kembali karakter, kelembutan, dan keagungan akhlak beliau di dalam jempol dan hati kita saat mengarungi luasnya samudera digital. Wallahu A’lam
* Dekan Fakultas Dakwah IAI Hamzanwadi NW Lombok Timur
Ketua Departemen Dakwah dan Penerangan PBNW
COPYRIGHT © ANTARA 2026