Mencari jalan tanpa membelah kota

August 2026 · 2 minute read

Surabaya (ANTARA) - Jalan tol dibangun untuk mempercepat perjalanan. Di kota yang sudah padat, pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa cepat kendaraan bergerak, melainkan ke mana ruang kota diarahkan dan siapa yang memperoleh manfaatnya.

Pertanyaan itu kembali muncul di Kota Surabaya, Jawa Timur. Wacana tol tengah kota yang bertahun-tahun menjadi polemik kini mendapat alternatif baru. Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni mengusulkan agar trase tol digeser dari kawasan tengah menuju sisi timur Surabaya.

Usulan tersebut tidak sepenuhnya menolak kebutuhan jalan berkapasitas besar. Gagasan itu mencoba mempertemukan kebutuhan konektivitas menuju Pelabuhan Tanjung Perak dengan kepentingan menjaga kawasan tengah kota. Di sisi timur, jalan tol dapat dikaitkan dengan rencana jalan luar lingkar timur atau JLLT.

Wacana tersebut muncul ketika tol tengah kota masih tercantum dalam dokumen tata ruang. Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 3 Tahun 2025 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surabaya 2025–2045 masih mencantumkan rencana jalan tol Waru–Wonokromo–Tanjung Perak serta koridor Bandara Juanda–Tanjung Perak.

Hanya saja, kedua rencana itu bersifat indikatif dan pelaksanaannya harus memperhatikan dampak sosial, ekonomi, serta lingkungan. Artinya, keberadaan proyek dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) bukan berarti pembangunan fisiknya harus segera dilakukan.

Denah rencana koridor Tol Tengah Kota Surabaya yang menghubungkan Waru–Wonokromo–Tanjung Perak. Rencana dalam Perda RTRW 2025–2045 ini memicu usulan pengalihan trase ke sisi timur (JLLT) demi memperkuat konektivitas pelabuhan tanpa membelah kawasan pusat kota yang padat. (ANTARA/HO-ylpkjatim.com/Bapeda Jatim)

Kota padat

Tol tengah kota bukan cerita baru. Rencana Waru atau Aloha–Wonokromo–Tanjung Perak telah lama menjadi bagian dari perencanaan transportasi Surabaya.

Kajian Universitas Gadjah Mada pada 2024 mencatat adanya perbedaan sikap antara kebijakan tingkat nasional dan provinsi dengan Pemerintah Kota Surabaya. Penelitian itu juga menyebut kondisi tengah kota sebagai pusat perdagangan dan jasa, pendapat masyarakat, jalan alternatif, serta transportasi umum turut memengaruhi penolakan terhadap rencana tersebut.

Persoalannya cukup jelas. Kawasan tengah Surabaya telah berkembang sebagai ruang perdagangan, jasa, permukiman, dan berbagai aktivitas perkotaan. Infrastruktur berskala besar tidak hanya menambah kapasitas jalan, tetapi juga dapat mengubah pola ruang di sekitarnya.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.