Lulusan S2 Psikologi Banting Setir Jual Cireng Modal Rp2 Juta

September 2026 · 4 minute read

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelar magister dan pekerjaan sebagai dosen tak membuat Piarre Zulghan ragu mengambil jalan berbeda. Dari dunia psikologi dan ruang kelas, ia kini memilih menghabiskan sebagian besar waktunya mengembangkan usaha cireng.

Keputusan itu bukan karena Piarre tak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan pendidikannya. Pria lulusan Magister Psikologi pada 2017 tersebut sebelumnya bekerja sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Yogyakarta sekaligus menjadi praktisi psikologi. Berjualan cireng awalnya bahkan hanya menjadi pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan sehari-hari. Namun tak disangka-sangka, usaha tersebut perlahan menghasilkan pendapatan yang lebih besar dibandingkan gajinya sebagai pengajar.

"Awalnya ini hanya side job untuk menambah kebutuhan sehari-hari. Ternyata setelah dijalani hasilnya melebihi ekspektasi, bahkan lebih besar dari gaji mengajar," kata Piarre kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/9/2026).

Dari situlah Piarre mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memilih fokus membesarkan Cireng Endud, usaha yang kini telah memasuki tahun keempat. Kendati begitu, perjalanan Cireng Endud tidak instan. Piarre masih mengingat modal awal usahanya berasal dari sisa gaji yang dimilikinya saat itu. Jumlahnya bahkan tidak mencapai Rp2 juta.

"Modalnya dari sisa uang gaji. Masih ingat banget modal enggak sampai Rp2 juta. Awalnya aku jualan pakai gerobak dorong," ujarnya.

Dari gerobak tersebut, pembeli perlahan berdatangan. Produk buatannya semakin dikenal hingga kapasitas produksi ikut bertambah.

Kini, Piarre mengakui, Cireng Endud telah memiliki sejumlah reseller. Usahanya juga pernah berkolaborasi dengan sejumlah merek besar.

Piarre memang tidak mengungkapkan secara terperinci omzet yang diperolehnya. Namun, bisnis tersebut kini telah menjadi sumber penghasilan utamanya sekaligus memberikan pekerjaan bagi orang lain.

"Wah ini sudah jadi penghasilan utama. Setidaknya bisa menghidupi lima karyawan dan kebutuhan sehari-hari," kata ia.

Baginya, berpindah jalan dari psikologi menjadi pengusaha makanan juga tidak membuat pendidikan yang telah ditempuh terasa sia-sia.

"Setelah melihat hasilnya saya enggak merasa sayang, justru saya bangga. Produk saya banyak yang suka, pelanggan senang dengan Cireng Endud saja sudah jadi kepuasan sendiri," tuturnya.

Banyak Sarjana Banting Setir

Cerita Piarre ternyata bukan satu-satunya. Hal itu baru benar-benar disadarinya ketika ia membuat unggahan di Threads pada April lalu.

"Mau ngumpulin owner yang banting stir dari pendidikan sebelumnya. Mulai dari aku ya. SARJANA PSIKOLOGI sekarang jualan CIRENG ISI namanya Cireng Endud. Kalau kalian apa?" tulis Pierre di akun Threads @mr_endud.

Unggahan sederhana itu kemudian berubah menjadi tempat warganet berbagi perjalanan karier mereka. Latar belakangnya beragam, tetapi memiliki satu kesamaan, yaitu pekerjaan atau usaha yang kini dijalankan jauh berbeda dari pendidikan mereka.

Ada lulusan pendidikan guru yang kini berjualan kue. Lulusan D4 Bidan Pendidik memilih menjadi penjual donat dan sosis solo. Seorang lulusan Pendidikan Kimia menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjahit dan membuat roti.

Lulusan Sarjana Komputer dalam kolom yang sama bercerita kini berjualan sate taichan. Sementara seorang Sarjana Fisika menjalankan bisnis puding dan burrito, selain sesekali menjadi koki dan guru.

Ada pula lulusan Pendidikan Bahasa Inggris yang menjadi makeup artist (MUA), serta lulusan DKV yang menjadi ibu rumah tangga sekaligus menjual Sala Lauak khas Minangkabau dan sesekali tetap bekerja sebagai art director atau stylist.

Piarre mengaku tidak menyangka unggahannya akan mempertemukannya dengan begitu banyak orang yang memiliki perjalanan serupa.

"Wah saya juga enggak nyangka ya, ternyata kondisi ini bukan saya aja yang merasakan. Banyak banget orang-orang hebat di situ," katanya.

Menurutnya, faktor ekonomi bukan satu-satunya alasan seseorang memilih jalur yang berbeda dari latar belakang pendidikan. Menjalankan usaha juga dapat memberikan ruang lebih besar untuk menekuni sesuatu yang disukai.

"Melihat ini saya tahu banget menjalani usaha itu adalah passion. Dan ada kebebasan berekspresi. Jadi kemungkinan besar akan sama memilih banting setir selain faktor ekonomi untuk mencari kepuasan," ujarnya.

Tak Harus Selalu Sesuai Jurusan

Kondisi ini memperlihatkan perjalanan setelah lulus kuliah tak selalu berakhir pada pekerjaan yang linier dengan jurusan. Bagi Piarre, kemampuan untuk beradaptasi dan mencoba sesuatu yang baru justru penting, terutama ketika kesempatan kerja sulit didapat. Ia berpesan kepada para sarjana dan pencari kerja agar tidak menutup kemungkinan mencari penghasilan dari kemampuan lain yang mereka miliki.

"Ketika sulit mencari pekerjaan, kemampuan kreatif itu penting untuk bertahan. Salah satunya coba saja mulai dari yang disukai walaupun itu tidak sesuai dengan perjalanan pendidikan. Siapa tahu lebih menghasilkan," kata Piarre.

Sementara untuk dirinya sendiri, jalan yang bermula dari gerobak dorong belum selesai. Piarre punya satu keinginan untuk Cireng Endud, yaitu membawa makanan yang dibangunnya dari sisa gaji tersebut menjadi salah satu buah tangan khas Yogyakarta.

"Cireng Endud suatu saat nanti bisa jadi pilihan oleh-oleh dari Jogja," kata ia menutup.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]