Pontianak (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kubu Raya, Kalimantan Barat, menghadapi keterbatasan tenaga guru untuk melayani sekitar 500 sekolah di wilayah yang tersebar di daratan dan 43 pulau.
"Kita menghadapi kekurangan tenaga guru yang harus disebar di sekitar 500 sekolah. Sementara ada sekolah yang hanya memiliki lima hingga 10 siswa," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kubu Raya Yusran Anizam di Sungai Raya, Selasa.
Dia mengatakan keterbatasan jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk tenaga pendidik, menjadi tantangan serius dalam pemerataan pelayanan pendidikan di daerah tersebut.
Menurut dia, kondisi geografis Kubu Raya yang merupakan salah satu kabupaten terluas di Kalimantan Barat (Kalbar) dengan jumlah penduduk sekitar 662 ribu jiwa membuat pemkab harus memiliki strategi khusus dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat.
Ia mengatakan penambahan tenaga guru juga tidak dapat dilakukan secara masif karena pemerintah daerah harus menjaga proporsi belanja pegawai agar tidak membebani kemampuan APBD dalam membiayai pembangunan dan pelayanan publik lainnya.
"Belanja pegawai kita sudah ditetapkan maksimal 30 persen. Kalau tenaga guru terus ditambah, tentu akan semakin berat bagi kemampuan anggaran kita untuk membiayai pembangunan," tuturnya.
Karena itu Pemkab Kubu Raya mendorong penataan dan penggabungan sekolah atau regrouping sebagai salah satu upaya mengoptimalkan ketersediaan tenaga pendidik, terutama pada sekolah dengan jumlah siswa yang sangat sedikit.
Yusran menilai persoalan pendidikan di Kubu Raya tidak hanya terkait kekurangan guru, tetapi juga mencakup keterbatasan sarana prasarana dan akses jalan menuju sekolah yang tersebar di wilayah yang luas.
Ia memperkirakan kebutuhan anggaran untuk memperbaiki satu ruang kelas atau rumah dinas guru di sekitar 500 sekolah mencapai Rp100 miliar per tahun. Sementara perbaikan akses jalan menuju sekolah juga membutuhkan anggaran sekitar Rp50 miliar setiap tahunnya.
"Kalau sekolahnya tidak baik, akses jalannya tidak baik, kemudian gurunya tidak ada, maka pendidikan tentu tidak akan maksimal. Ini menjadi persoalan yang harus kita selesaikan bersama," katanya.
Menurut Yusran, kondisi tersebut membutuhkan pola pendidikan yang lebih efisien dan mampu menjawab tantangan geografis, salah satunya melalui sistem sekolah berasrama atau boarding school.
Ia menyambut baik kebijakan pemerintah pusat melalui program Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, dan sekolah unggulan, yang menerapkan pola pendidikan berasrama karena dinilai dapat mengoptimalkan pemanfaatan tenaga guru, sekaligus memberikan pengawasan pendidikan yang lebih baik bagi peserta didik.
"Untuk daerah seperti Kubu Raya dengan wilayah yang luas dan kondisi geografis yang menantang, pola boarding school bisa menjadi salah satu solusi. Pemanfaatan guru bisa lebih optimal dan pendidikan anak-anak juga lebih terkontrol," kata Yusran.
Yusran mengatakan Pemkab Kubu Raya terus berupaya mendorong penataan sekolah serta menjajaki pengembangan sekolah berasrama agar pemerataan dan kualitas pendidikan dapat ditingkatkan tanpa mengabaikan keterbatasan kemampuan anggaran daerah.
Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.