Nabire (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire mencatat kualitas udara di wilayah itu berada pada kategori sangat tidak sehat dengan nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 258 pada Senin (14/9) pukul 10.00 WIT.
Kepala DLH Nabire Arfan Natan Palumpun di Nabire, Senin, mengatakan data tersebut dipantau secara akurat dan real time melalui alat pemantau kualitas yang dimiliki DLH Nabire.
"Data yang dihasilkan dari alat ini sudah akurat dan betul-betul sesuai serta real time," katanya.
Baca juga: Kabut asap ganggu penerbangan di Bandara Douw Aturure Nabire
Ia mengatakan nilai ISPU 258 menunjukkan kualitas udara berada dalam kategori sangat tidak sehat yang dapat meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, terutama apabila aktivitas di luar ruangan dilakukan dalam waktu lama.
Pada pengukuran tersebut, selain ISPU 258, alat mencatat kelembapan udara 52,35 persen, tekanan udara 1,011 mBar, dan suhu 34 derajat Celsius.
Ia mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan serta menghindari kegiatan yang dapat menambah pencemaran udara, seperti membakar hutan maupun sampah secara terbuka.
"Kami harapkan masyarakat tidak membakar hutan dan sampah di mana-mana, karena itu sangat berdampak kepada kualitas udara," ujarnya.
Menurutnya, kondisi udara yang memburuk juga terlihat dari jarak pandang yang semakin terbatas. Karena itu, mitigasi perlu dilakukan sejak awal dengan melibatkan perangkat daerah terkait untuk menangani pencemaran udara di Nabire.
Ia menambahkan jika pembakaran hutan masih terus terjadi, tidak menutup kemungkinan kualitas ISPU Nabire bisa mencapai di atas 300 dan masuk kategori berbahaya seperti di Kalimantan.
Ia mengatakan DLH terus berkolaborasi dengan organisasi perangkat daerah terkait untuk mengantisipasi dampak pencemaran udara dan meningkatkan perlindungan terhadap masyarakat.
Baca juga: Dinkes Papua Tengah: Cegah dampak kabut asap dengan protokol kesehatan
Baca juga: Hotspot Nabire melonjak dari 12 menjadi 268 titik dalam empat hari
Selain itu, masyarakat dapat memantau kondisi kualitas udara melalui aplikasi ISPU Net yang dapat diunduh pada perangkat Android, sehingga informasi mengenai kualitas udara dapat diakses secara terbuka.
Ia juga meminta masyarakat terus memantau perkembangan ISPU, karena nilai tersebut dapat berubah mengikuti kondisi lingkungan dan sumber pencemar yang ada di wilayah Nabire.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat hotspot di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, melonjak dari 12 titik pada 10 September menjadi 268 titik pada 13 September 2026.
Hal itu membuat kabut asap melanda Nabire sejak Minggu (13/9) sore hingga Senin (14/9) pagi.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.