Kenapa Namanya Lubang Buaya, Ternyata Begini Ceritanya

September 2026 ยท 2 minute read

Jakarta -

Tragedi G30S/PKI tak bisa dipisahkan dari Lubang Buaya. Namun, tahukah kamu, nama Lubang Buaya ternyata sudah ada jauh sebelum kawasan ini menjadi lokasi tragedi tersebut?

Awalnya, Lubang Buaya merupakan nama sebuah jalan di wilayah Jakarta Timur. Lokasi tepatnya berada di Jalan Lubang Buaya, Kelurahan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur.

Tempat itu begitu lekat dengan tragedi peristiwa G30S/PKI ini memiliki sejarah awal mula kenapa disebut sebagai Lubang Buaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut cerita awal mengenai penamaan Lubang Buaya yang menjadi saksi bisu tragedi G30S/PKI di kawasan Monumen Pancasila Sakti.

Cerita Awal Penamaan Lubang Buaya

Saat dijumpai detikTravel pada Kamis (24/9/2026), Mayor Marinir Masnen sebagai Kasubsi Koleksi Monumen Pancasila Sakti, memberi keterangan mengenai sejarah penamaan Lubang Buaya yang dikisahkan dalam cerita rakyat Pangeran Syarif atau Datok Banjir sebagai jawara Betawi.

"Lubang Buaya itu adalah nama sebuah desa. Ada sebuah cerita rakyat, di sini dulu ada seorang jawara Betawi. Kemudian jawara ini dikejar oleh orang Belanda, saat itu kita masih dijajah Belanda. Karena dikejar, jawara ini melarikan diri, kemudian menceburkan diri ke Sungai Sunter," ujar Mayor Marinir Masnen kepada detikTravel.

"Di Sungai Sunter itu banyak buaya yang sedang membuat lubang-lubang untuk bertelur. Nah, si Jawara ini lari ke situ (sungai), ngumpetlah dan akhirnya lolos dari kejaran Belanda," katanya.

Setelah selamat dari kejaran Belanda, si Jawara menamakan desa tersebut menjadi Desa Lubang Buaya. Dari pencetusan itu, sampai sekarang masih digunakan sebagai nama Kelurahan Lubang Buaya.

"Orang konotasinya sumur yang bekasnya lubangnya buaya. Padahal, Lubang Buaya sendiri nama desanya dan sampai sekarang pun sama, namanya Lubang Buaya, Kelurahan Lubang Buaya," kata dia.

Kaitannya dengan Sumur Maut Lubang Buaya G30S/PKI Nama desa berkaitan erat dengan sumur yang dibuat oleh Bambang Harjono dan istri Sri Ningsih.

Sumur itu menjadi saksi bisu kekejaman Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Karena letaknya di daerah Lubang Buaya maka disebut sebagai Sumur Maut Lubang Buaya.

Waktu itu, sumur dijadikan tempat pembuangan sejumlah jenazah perwira Angkatan Darat (AD) yang terdiri atas Jenderal Ahmad Yani, Letjen R Soeprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S Parman, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, Mayjen DI Pandjaitan, dan Lettu Pierre Tendean.

Sumur Maut Lubang Buaya bisa dikunjungi di kawasan Monumen Pancasila Sakti, Jakarta Timur. Bentuk sumur masih sama persis dengan kejadian G30S/PKI yang mengingatkan pada sejarah kelam di masa lalu.