Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan penerapan pajak minimum global atau global minimum tax (GMT) dapat menarik investor untuk mendorong proyek hilirisasi batu bara.
"Dengan insentif ini (GMT) akan menjadi daya tarik, dari pemerintah memiliki ruang fiskal, dan bagi pemerintah memiliki ruang fiskal bagi negara," ujar Wakil Menteri ESDM Yuliot ketika dijumpai di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat.
GMT menetapkan tarif pajak efektif minimum sebesar 15 persen bagi perusahaan multinasional.
Menurut Yuliot, GMT menjadi menarik bagi investor karena pajak penghasilan (PPh) badan sebesar 22 persen jadi tak berlaku.
Dengan kata lain, investor multinasional mendapat keringanan pajak sekitar 7 persen.
"Kemudian, pemerintah masih mendapat 15 persen," ucap Yuliot.
Pernyataan tersebut terkait dengan dorongan insentif untuk proyek-proyek hilirisasi batu bara.
Dalam kesempatan tersebut, Yuliot menyampaikan pemerintah terus mendorong proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol maupun dimethyl ether (DME).
Yuliot mengatakan untuk proyek pengolahan batu bara menjadi metanol sudah terdapat investor yang masuk dan saat ini sudah berlangsung pengembangannya di Kutai Timur, Kalimantan Timur.
"Kami mengharapkan dari metanol itu juga bisa dilakukan pengolahan lebih lanjut. Apakah sebagai bahan baku biodiesel, atau bisa diolah lebih lanjut dengan proses kimia menjadi DME atau menjadi bensin juga," ucap Yuliot.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya kemandirian pangan dan energi sebagai fondasi agar Indonesia mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dan tidak bergantung pada negara lain, saat resepsi kesyukuran 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).
Dalam sambutannya, Prabowo menyinggung akan membuat bensin dari batu bara, setelah berhasil membuat solar dari kelapa sawit.
"Sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit. Dan, kita juga nanti akan bikin juga, bensin dari batu bara," kata Prabowo.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pun menyatakan siap melaksanakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengubah batu bara menjadi bensin.
"Kami sebagai Menteri ESDM akan menindaklanjuti setiap perintah dan arahan Bapak Presiden terkait dengan optimalisasi dalam rangka meningkatkan ketahanan energi dengan memakai sumber energi dalam negeri," ujar Bahlil.
Baca juga: ESDM dorong kerja sama teknologi dengan AS untuk capai 1 juta barel
Baca juga: Indonesia buka peluang kerja sama hidrogen dengan AS
Baca juga: Kementerian ESDM bidik DIM RUU Migas tuntas 22 Oktober
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.