Kemenkes gandeng Takeda bangun industri obat derivat plasma di Indonesia

July 2026 · 4 minute read

Kemenkes gandeng Takeda bangun industri obat derivat plasma di Indonesia

Senin, 13 Juli 2026 18:20 WIB

Image Print

Ilustrasi produksi obat derivat plasma (PODP). (ANTARA/HO-Takeda)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menggandeng perusahaan biofarmasi global Takeda membangun ekosistem produk obat derivat plasma (PODP) di Indonesia melalui investasi tahap awal hingga 30 juta dolar AS (sekitar Rp539 miliar) untuk memperkuat ketahanan kesehatan nasional dan memperluas akses masyarakat terhadap terapi berbasis plasma.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan inisiatif ini mencerminkan komitmen Pemerintah Indonesia untuk membangun industri strategis di sektor kesehatan dan memastikan masyarakat memiliki akses yang lebih baik terhadap pengobatan penting dan inovatif.

"Melalui kemitraan dengan Takeda, kami berharap dapat memperkuat sistem kesehatan nasional sekaligus mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan," kata Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resmi Takeda yang diterima di Jakarta, Senin.

Baca juga: Perbaikan ribuan faskes di Sumatera butuh Rp529,3 miliar

Penetapan Takeda sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma memungkinkan perusahaan tersebut melakukan pengumpulan plasma dan proses fraksionasi secara bertahap sebagai bagian dari pembangunan ekosistem industri plasma nasional.

Langkah itu diharapkan memperkuat ketersediaan produk obat derivat plasma di dalam negeri sekaligus mendukung pengembangan industri biofarmasi nasional.

Kemitraan tersebut juga melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Baca juga: PBI nonaktif akan direaktivasi otomatis selama tiga bulan, kata Menkes

Program itu menjadi inisiatif pertama di Asia Tenggara yang berfokus pada pembangunan sistem pengumpulan plasma berkualitas tinggi secara berkelanjutan dan pengembangan manufaktur produk obat derivat plasma dalam skala besar.

Pada tahap awal, Takeda akan menginvestasikan hingga 30 juta dolar AS (sekitar Rp539 miliar) dalam jangka waktu dua tahun untuk membangun sejumlah bank plasma di Indonesia. Hasil tahap pengembangan awal tersebut akan menjadi dasar evaluasi bersama Kementerian Kesehatan terhadap kelayakan model operasional sebelum dikembangkan menjadi jaringan bank plasma nasional.

Seluruh bank plasma akan menerapkan standar mutu dan regulasi internasional dengan memanfaatkan pengalaman global Takeda dalam pengelolaan donor plasma.

Baca juga: Tak perlu takut, Menkes sebut kanker bisa disembuhkan

Pengembangan jaringan tersebut juga diharapkan membuka peluang kerja baru bagi tenaga kesehatan dan teknisi laboratorium serta mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan transfer pengetahuan.

"Sejak menghadirkan PODP pertama kami di Indonesia pada awal tahun ini hingga investasi dalam infrastruktur industri plasma dari hulu ke hilir, kami bangga dapat memperluas kerja sama dengan Pemerintah Indonesia," kata President, Plasma-Derived Therapies Takeda Ramy Riad.

"Kami berharap pengalaman global Takeda dapat mendukung tujuan jangka panjang Indonesia dalam meningkatkan layanan kesehatan, menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi, dan memperkuat ketersediaan layanan dan pengobatan yang menyelamatkan serta menopang kehidupan pasien," ujar Ramy Riad.

Baca juga: Indonesia resmi nyatakan KLB Polio berakhir, upaya vaksinasi berbuah hasil

Selain membangun jaringan bank plasma, Takeda juga akan mengkaji potensi pembangunan fasilitas manufaktur produk obat derivat plasma berteknologi tinggi di Indonesia untuk mendukung kebutuhan dalam negeri maupun pasar global. Fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri kesehatan dan manufaktur obat.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P Roeslani mengatakan investasi tersebut tidak hanya menghadirkan modal baru, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penciptaan lapangan kerja.

"Investasi ini merupakan investasi yang strategis. Selain menghadirkan investasi baru, kemitraan ini juga membuka peluang transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia nasional, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem kesehatan Indonesia, tetapi juga mendukung visi kami untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju," kata Rosan.

Baca juga: Mulai 2026, sistem rujukan JKN beralih ke skema berbasis kompetensi

Bank plasma pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 sebagai bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda.

Selama fasilitas fraksionasi plasma di Indonesia masih dalam tahap pengkajian, ia mengatakan, plasma yang dikumpulkan akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda dengan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan Indonesia terhadap produk obat derivat plasma sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pewarta : Ida Nurcahyani
Editor: Rajib Rizali
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.