Kemenkes: Deteksi Tb bagi penyandang disabilitas perlu diperkuat - ANTARA News Jawa Timur

August 2026 · 2 minute read

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyebutkan pentingnya memperkuat deteksi hingga penanganan tuberkulosis (Tb) bagi para penyandang disabilitas, termasuk melalui pengembangan teknologi skrining yang lebih inklusif, mengingat kelompok tersebut masih menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses layanan kesehatan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mengatakan hal tersebut di Jakarta, Senin, merespons penelitian teknologi TBScreen.AI yang dikembangkan KONEKSI, platform kemitraan Australia–Indonesia untuk pengetahuan dan inovasi, guna meningkatkan efisiensi skrining Tb.

“Kelompok disabilitas perlu mendapatkan perhatian lebih karena mereka berpotensi terkena Tb juga. Namun jika kita berbicara tentang kelompok disabilitas, sebenarnya ada empat ragam kelompok utama yang tercakup di sini, termasuk disabilitas fisik, intelektual, mental, dan sensorik," katanya.

Dia menjelaskan, saat ini, yang paling banyak dibahas oleh publik masih terkait disabilitas fisik. Sementara ada tantangan berbeda yang dihadapi, misalnya saat harus foto ronsen, diagnosis, dan pengobatan.

"Maka itu, diseminasi penelitian ini jadi kesempatan penting untuk memastikan Tb dapat dideteksi lebih dini bagi penyandang disabilitas, sehingga pengobatan dapat segera diberikan agar sembuh,” ujar Imran.

Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam beban kasus Tb setelah India. Pada 2024, diperkirakan terdapat 1.090.000 kasus TB dan 125.000 kematian setiap tahun. Data ini menegaskan urgensi peningkatan upaya pencegahan dan pengobatan di seluruh wilayah Indonesia.

Merespons hal itu, Kemenkes pun mengadopsi strategi pengendalian penyakit tuberkulosis (Tb) secara preventif, salah satunya dalam Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dengan yang mewajibkan pelacakan (tracing) 100 persen terhadap keluarga dan kontak erat pasien untuk memutus sumber penularan terdekat, sehingga target eliminasi Tb terakselerasi pada 2030.

Peneliti utama sekaligus dosen Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr. Antonia Morita Iswari Saktiawati menjelaskan, pihaknya akan terus mengembangkan sensitivitas model dengan ronsen dada yang lebih banyak dan mempertimbangkan komorbiditas serta kelompok rentan Tb yang lebih luas.

Hal itu, katanya, karena saat ini dataset yang digunakan TBScreen.AI masih didominasi oleh Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Papua, sehingga belum cukup mewakili variasi karakteristik populasi Indonesia.

Oleh karena itu, penambahan data dari provinsi lainnya menjadi prioritas utama. Adapun saat ini TBScreen.AI sudah dapat dioperasikan secara daring dan ke depan, tim akan membuat versi luring, sehingga efektif digunakan di wilayah terpencil, yang memiliki keterbatasan internet.

“Teknologi berbasis kecerdasan buatan ini kami kembangkan sebagai alat bantu skrining, dengan algoritma AI yang telah disesuaikan dengan karakteristik populasi Indonesia. Pengumpulan dan uji data yang dilakukan menghasilkan sensitivitas platform TBScreen.AI mencapai 83,16 persen," katanya.

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.