
Sumber gambar, Iwan Bahagia
- Penulis, Iwan Bahagia
- Peranan, Jurnalis di Aceh Tengah
Telah diterbitkan 5 jam yang lalu
Waktu membaca: 7 menit
Batang-batang kayu dan bambu tersebar di atas hamparan tanah cokelat di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah. Bagi orang awam, gundukan-gundukan itu mungkin terlihat seperti bekas longsor yang mulai mengering.
Namun di bawah timbunan tanah tersebut, ratusan orang kerabat warga Aceh Tengah bersemayam.
Sekitar 500 makam di tiga kompleks pemakaman warga Mendale, yakni Belacan, Bebuli, dan Lukub Tungel, masih tertimbun material longsor—hampir delapan bulan setelah banjir bandang dan longsor melanda Aceh Tengah pada akhir November 2025. Banyak nisan hilang. Sebagian makam tak lagi bisa dikenali.
Bagi warga Mendale, longsor menghilangkan tempat mereka berziarah dan mengenang orang tua, pasangan, serta leluhur yang telah lebih dulu pergi.
Sejak bencana terjadi, para keluarga berusaha mencari sendiri lokasi makam yang hilang. Mereka mengandalkan ingatan dan petunjuk seadanya untuk menebak keberadaan pusara kerabat mereka.
Sejumlah warga berharap pemerintah merehabilitasi ratusan makam di tiga lokasi itu. Namun, terdapat dilema karena ada sebagian penduduk yang khawatir pengerjaan rehabilitasi justru akan mengganggu makam-makam yang sudah berhasil ditemukan secara manual.
Jurnalis Iwan Bahagia yang melaporkan untuk BBC News Indonesia menemui tiga warga Mendale yang mengalami kehilangan dengan cara berbeda; seorang anak yatim piatu yang mencari makam kedua orang tuanya, seorang janda yang berusaha menemukan kembali pusara suaminya, dan seorang nelayan yang kehilangan sembilan makam anggota keluarganya sekaligus.
Batang kayu di atas timbunan longsor
Langit Mendale sore itu cerah. Di sebuah gundukan tanah di kompleks permakaman Belacan, seorang remaja berdiri mematung.
Di tangannya, ia menggenggam sebatang kayu yang kemudian dia tancapkan perlahan ke dalam tanah.
Itulah satu-satunya penanda makam ayah dan ibunya.
Muslim Al Faruq Daulay, siswa kelas II Madrasah Tsanawiyah swasta di Aceh Tengah, kehilangan ayahnya ketika berusia dua tahun. Ibunya menyusul meninggal saat ia masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Sejak itu, makam menjadi satu-satunya tempat yang masih menghubungkan remaja berusia 14 tahun itu dengan kedua orang tuanya. Sebulan sekali, atau paling tidak dua bulan sekali, ia datang bersama keluarga untuk membersihkan makam dan berziarah.
Namun bencana pada 25 hingga 28 November 2025 mengubah segalanya.
Hujan deras melanda Aceh Tengah. Banjir bandang dan longsor menimpa daerah itu. Faruq bersama bibi dan pamannya terpaksa mengungsi ke Masjid Al Abrar di Kecamatan Kebayakan. Berhari-hari mereka bertahan di sana, menunggu air surut dan kondisi aman.
Ketika akhirnya kembali ke Kampung Mendale, kabar buruk menanti. Kompleks permakaman Belacan, tempat ayah dan ibunya dimakamkan, telah rata dengan tanah. Longsor menimbun ratusan makam di lokasi itu.
"Jadi waktu kami pulang dari pengungsian, kami ramai-ramai gotong royong untuk mencari perkuburan ini, ternyata kuburan ini sudah terkubur sedalam tiga meter," kata Faruq, di lokasi pemakaman Belacan, Kamis (18/06).

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Sekitar tiga minggu setelah bencana, ia bersama bibi, paman, kakak, nenek, dan warga lain datang membawa cangkul dan peralatan sederhana untuk mencari makam keluarga mereka.
Mereka menggali tanah dan lumpur yang mengering, berusaha menemukan kembali pusara yang telah hilang dari pandangan.
Karena seluruh nisan telah hilang, Faruq dan keluarganya hanya bisa menebak lokasi makam orang tuanya dengan mengandalkan ingatan.
Baca juga:
- Pilu perempuan Aceh penyintas tsunami, enam bulan pascabencana 2025 – 'Masih trauma kali. Mau hujan, mau air pasang, saya tidak bisa tidur'
- Bayang-bayang referendum dan konflik bersenjata di balik penanganan banjir di Aceh
Karena tidak ada lagi nisan yang tersisa, mereka menancapkan sebatang kayu sebagai penanda.
"Kami lega makam ini ditemukan, kami bisa berkunjung lagi ke makam ini," kata Faruq.
Meski lega, Faruq masih menyimpan harapan.
"Harapan saya untuk kuburan ini biar bisa disemen lagi, supaya kami bisa sering kembali ke sini, dan keluarga lain yang kehilangan keluarganya bisa rutin kembali ke sini lagi," katanya sedih.
Menebak makam suami di antara batu dan lumpur
Di kompleks permakaman Bebuli, Masdiana, 42 tahun, berdiri terpaku menatap hamparan tanah longsor.
Tiga hari setelah longsor, ia bersama kedua anaknya datang ke Bebuli untuk melihat makam suaminya, Bukhari Puteh, yang meninggal pada 2019. Namun yang mereka temukan hanyalah pemandangan yang membuat napas mereka sesak.
"Pas kami tiga hari bencana, kami datang kemari. Kami tidak membawa apa-apa, cuma tangan kosong. Kami lihat itu sudah rata, sudah tertimbun tanah," kenang Masdiana.
Tidak ada lagi nisan yang berdiri. Tidak ada lagi tanda yang bisa dikenali.

Sumber gambar, Iwan Bahagia

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Dua minggu kemudian, Masdiana kembali dengan membawa cangkul dan parang. Bersama anak-anaknya, ia mencoba menggali lokasi yang diyakini sebagai makam sang suami.
"Kami mencari-mencari, namun hasilnya nihil," ungkapnya.
Barulah sebulan setelah bencana, Masdiana kembali lagi bersama saudara dan kerabat. Mereka mencoba mengingat dan menebak-nebak posisi makam berdasarkan tanda-tanda yang masih mungkin ditemukan.
Untuk makam ayahnya, mereka berhasil menemukan keramik yang dahulu dipasang keluarga.
Namun untuk makam suaminya, tidak ada petunjuk serupa.
Sebuah batu yang mereka temukan kemudian disusun kembali sebagai penanda makam.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Meski sudah menandai lokasi yang mereka yakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Bukhari Puteh, Masdiana mengaku belum benar-benar yakin.
"Menurut keyakinan memang sudah di sini," katanya.
Baginya, kesulitan itu tidak hanya dialami keluarganya.
"Banyak kuburan yang belum dicari sama keluarganya, karena mungkin orang itu pun enggak bisa nyari. Sulit," ungkapnya
Dia berharap ada bantuan untuk membersihkan area pemakaman yang masih tertimbun longsor sehingga pihak keluarga bisa menemukan makam kerabat mereka.
Sembilan makam di bawah tanah setebal delapan meter
Ombak kecil memecah permukaan Danau Laut Tawar ketika perahu motor yang ditumpangi Tuahdi Aramiko bergerak perlahan menuju tepian danau.
Dari atas perahu, pria 34 tahun itu menunjuk ke arah tebing yang berdiri di sisi barat daya danau.
Di sanalah kompleks permakaman Lukub Tungel berada, atau lebih tepatnya, pernah berada.
"Ini salah satu kuburan di Kampung Mendale yang terkena longsor waktu tujuh bulan ke belakang," kata Tuahdi.
Dari atas perahu motor, ia menunjukkan deretan bambu di tepi danau yang kini berdiri di atas gundukan tanah. Bambu-bambu itu menjadi satu-satunya penanda keberadaan makam yang tertimbun.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Di bawah timbunan tanah itu terdapat sembilan anggota keluarganya.
"Kita di situ ada sembilan keluarga, nenek, kakek, datu, bibi dan anak dari kakak. Satu pun tidak kelihatan lagi karena tertutup sama longsor," katanya.
Kompleks permakaman Lukub Tungel, menurut Tuahdi, tidak mencapai 100 kuburan.
Lokasinya menjorok ke Danau Laut Tawar yang dikelilingi pegunungan. Danau itu adalah pusat kehidupan mereka—tempat mereka mencari ikan, tempat mereka bercocok tanam, dan tempat mereka berpulang.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Sebagai nelayan, Tuahdi juga menggantungkan hidup pada Danau Laut Tawar. Namun sejak bencana, ekonominya terpuruk. Ia mengaku sudah berupaya membersihkan makam keluarganya secara mandiri, tetapi terkendala biaya dan tenaga.
Dia berharap ada bantuan untuk membersihkan kawasan pemakaman yang tertimbun longsor.
Dilema
Apa yang dialami Faruq, Masdiana, dan Tuahdi dirasakan warga Mendale.
Kepala desa Mendale, Syaifullah, mengatakan sekitar 500 makam di tiga kompleks pemakaman desa itu terdampak longsor.
Di kompleks Sagi Onom atau Bebuli, sekitar 300 makam tertimbun longsor dengan kedalaman dua hingga tiga meter. Di Lukub Tungel, ada timbunan material longsor setinggi tujuh hingga delapan meter. Sementara di Belacan, sekitar 100 hingga 200 makam mengalami kondisi serupa.
"Sampai saat ini masih tertimbun, dan sampai saat ini belum ada perbaikan," kata Syaifullah.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Namun merehabilitasi ratusan makam di tiga lokasi tidaklah mudah. Terdapat perbedaan pandangan di antara para anggota keluarga. Sebagian khawatir pengerukan dengan alat berat justru akan mengganggu makam-makam yang sudah berhasil ditemukan secara manual.
Pemerintah Desa Mendale telah berkomunikasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (Dinas PU) Aceh Tengah.
Pemerintah desa juga sudah menyampaikan persoalan ini kepada Kementerian Agama.
Pemerintah masih koordinasi
Kepala Bidang Penataan Ruang PUPR Aceh Tengah, Tirtanico Pratama, mengakui tiga kompleks pemakaman di Mendale mengalami kerusakan berat akibat bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025.
"Masyarakat yang terdampak telah menghubungi pihak dinas PUPR dalam hal ini meminta bantuan," tambahnya.
Namun hingga kini pemerintah masih berada pada tahap koordinasi dengan sejumlah pihak terkait untuk membahas langkah yang akan diambil.
"Terutama dari pihak kepala desa dan instansi terkait lainnya," ungkapnya.

Sumber gambar, Iwan Bahagia
Pemerintah berharap rehabilitasi lokasi pemakaman dapat dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai masukan dari masyarakat dan keluarga yang terdampak.
Selagi pemerintah berkoordinasi, Tuahdi Aramiko memandang dengan tatapan nanar ke arah kompleks pemakaman keluarganya di tepi Danau Laut Tawar.
"Kalau enggak ada orang itu [para leluhur], enggak ada kita," katanya.