Kabupaten Cianjur antisipasi dampak kemarau dengan siapkan suplai air bersih - ANTARA News Jawa Barat

July 2026 · 2 minute read

Cianjur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat melakukan antisipasi terkait dengan dampak kemarau melanda 14 kecamatan, salah satunya menyiapkan suplai air bersih dengan mobil tangki.

Kepala BPBD Cianjur Iwan Karyadi di Cianjur, Senin, mengatakan dampak kemarau mulai dirasakan masyarakat di sejumlah kecamatan karena sumber air mulai dari sungai hingga air bawah tanah mengalami penyusutan bahkan di sejumlah wilayah mulai kering.

Laporan sementara yang diterima BPBD Cianjur, tercatat 14 kecamatan mulai mengalami kekeringan seperti Kecamatan Cianjur, Ciranjang, Karangtengah, Mande, Cikalongkulon, Sukaresmi, Cibeber, Cibinong, Sukaluyu, Gekbrong, Camapakamulya, Kadupandak, dan Agrabinta.

"Kami meminta kecamatan yang mulai dilanda kekeringan untuk melakukan identifikasi sumber air yang tersedia seperti sumur serapan dangkal, kolam retensi, bendungan, dan sumur bor, serta memaksimalkan fasilitas penampungan air sebagai cadangan," katanya.

Pihaknya telah melakukan pemetaan dan antisipasi guna meringankan beban warga, termasuk mendistribusikan air bersih menggunakan truk tangki bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cianjur.

Pendistribusian air bersih ke sejumlah desa terdampak di Kecamatan Cibinong, dilakukan selama dua hari, di mana petugas dan relawan mendistribusikan 20 ribu liter air ke wilayah yang dapat terjangkau truk tangki.

"Kami juga sudah memetakan sejumlah upaya cepat yang akan dilakukan di kecamatan yang mulai terdampak, termasuk memberikan bantuan pompa air bagi warga untuk mempermudah menampung air bersih," katanya.

Bahkan pihaknya telah melakukan pemetaan dan langkah antisipasi di peralihan musim berikutnya, di mana retakan tanah yang muncul akibat musim kemarau, dapat berpotensi menimbulkan bencana longsor atau pergeseran tanah saat memasuki musim hujan.

"Kami juga telah melakukan pemetaan wilayah rawan longsor dan pergerakan tanah saat peralihan musim yang diprediksi terjadi pada bulan September, karena retakan tanah yang terkena hujan deras dengan intensitas lama dapat memicu bencana hidrometeorologi," katanya.

Pewarta: Ahmad Fikri
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.