Janur Dorong Ulama Perempuan Masuk AHWA pada Muktamar NU ke-35

August 2026 · 2 minute read

AKURAT.CO Jaringan Nahdlatul Ulama Kultural (Janur) mendorong keterlibatan ulama perempuan dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.

Penggerak Janur, Aan Anshori, menilai AHWA memiliki posisi strategis dalam pengambilan keputusan organisasi, terutama dalam menentukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Menurut Aan, keanggotaan AHWA semestinya ditentukan berdasarkan kapasitas keilmuan, integritas, keteladanan, pengabdian, pengaruh, serta kemampuan menjaga kemaslahatan organisasi.

“AHWA semestinya diisi berdasarkan kapasitas keilmuan, integritas, keteladanan, pengabdian, pengaruh, dan kemampuan menjaga kemaslahatan jam'iyah,” kata Aan dalam keterangan tertulis di Jombang, Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: Jelang Muktamar NU, Alissa Wahid Dorong Nilai Gus Dur Diwujudkan dalam Tindakan

Ia menilai mekanisme AHWA perlu dikaji kembali. Pasalnya, sejak mekanisme tersebut digunakan dalam Muktamar Ke-35 NU, seluruh anggota AHWA yang terpilih merupakan laki-laki.

Aan menyebut tidak terdapat ketentuan eksplisit yang menyatakan bahwa anggota AHWA harus laki-laki.

Ia juga menilai NU memiliki tradisi panjang dalam melahirkan ulama perempuan yang berkontribusi di bidang pendidikan pesantren, pelayanan sosial, pemikiran keislaman, hingga kehidupan kebangsaan.

Menurut Aan, setidaknya terdapat dua ulama perempuan yang dinilai memiliki kualifikasi untuk menjadi anggota AHWA, yakni Nyai Dr (HC) Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid.

Sinta Nuriyah disebut memiliki rekam jejak dalam memperjuangkan penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan kehidupan beragama yang inklusif. Istri Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu juga pernah menjadi bagian dari kepengurusan Mustasyar PBNU dalam beberapa periode.

Sementara itu, Machfudhoh Aly Ubaid memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan pesantren dan perjuangan NU. Putri KH Abdul Wahab Chasbullah tersebut juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU.

“Kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa NU memiliki sumber daya keulamaan perempuan yang tidak dapat dipandang sebagai pelengkap,” ujar Aan.

Ia menegaskan, pemberian ruang bagi ulama perempuan dalam AHWA tidak semata-mata berkaitan dengan keterwakilan gender. Menurutnya, langkah tersebut juga penting untuk memperluas perspektif keulamaan dalam proses pengambilan keputusan organisasi.

Baca Juga: Gus Lilur Minta Presiden Pastikan Tak Ada Intervensi Pemerintah di Muktamar NU

“Sudah waktunya NU tidak hanya berbicara tentang pentingnya peran ulama perempuan, tetapi juga memberikan ruang nyata kepada mereka dalam forum strategis pengambilan keputusan organisasi, termasuk dalam sembilan anggota AHWA,” katanya.

Muktamar Ke-35 NU akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Forum tersebut menjadi permusyawaratan tertinggi NU untuk membahas berbagai agenda organisasi, termasuk pemilihan kepengurusan baru.