Jam Makan Siang Terbaik untuk Diet yang Disarankan Pakar Gizi

July 2026 ยท 3 minute read

Jakarta -

Waktu makan siang ternyata sangat berpengaruh terhadap fungsi tubuh. Jam makan yang tepat akan menstabilkan energi, kadar gula darah, hingga metabolisme tubuh sepanjang hari.

Ahli gizi Pham Hong Ngoc dari Vietnam Institute of Applied Medicine mengatakan bahwa waktu terbaik untuk makan siang adalah sekitar empat hingga lima jam setelah sarapan. Rentang pukul 11.30 hingga 12.30 dianggap ideal untuk menjaga energi tetap stabil sekaligus mendukung metabolisme tubuh.

"Makan siang sangat penting untuk mengembalikan energi pada siang hingga sore hari, menstabilkan kadar gula darah, serta mendukung fungsi metabolisme tubuh," ujar Pham Hong Ngoc, seperti dikutip dari VN Express.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengibaratkan tubuh seperti kendaraan. Jika sarapan adalah kunci untuk menyalakan mesin, maka makan siang merupakan bahan bakar yang membuat tubuh tetap bekerja dengan optimal.

Melewatkan makan siang atau menundanya terlalu lama dapat membuat tubuh kekurangan energi, menurunkan konsentrasi, dan memicu rasa lapar berlebihan pada malam hari.

Menurut Ngoc, jeda empat hingga lima jam setelah sarapan sesuai dengan siklus alami kadar glukosa dalam tubuh. Pada waktu tersebut, tubuh mulai membutuhkan asupan energi baru sebelum gula darah menurun.

Sebagai contoh, jika seseorang sarapan pukul 07.30, maka waktu makan siang yang disarankan adalah sekitar pukul 11.30 hingga 12.30.

Makan siang kurang dari tiga jam setelah sarapan tidak disarankan, karena dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang kemudian turun dengan cepat, sehingga meningkatkan risiko sakit kepala, mudah marah, hingga makan berlebihan di waktu berikutnya.

Risiko Jika Terlalu Lama Menunda Makan Siang

Menunda makan siang terlalu lama atau bahkan melewatkannya dapat berdampak pada kesehatan.
Menurut Ngoc, tubuh yang terlalu lama tidak mendapatkan asupan glukosa akan mengalami penurunan kewaspadaan, motivasi, dan produktivitas.

Kebiasaan ini juga dapat menggeser jadwal makan malam menjadi semakin larut, yang kurang baik bagi ritme alami tubuh. Beberapa risiko lain yang dapat muncul antara lain:

- Gula darah rendah, yang memicu lemas, gemetar, perubahan suasana hati, dan sulit berkonsentrasi.

- Asupan nutrisi tidak mencukupi, sehingga kebutuhan energi, fungsi otak, dan kesehatan emosional tidak terpenuhi secara optimal.

- Metabolisme melambat, karena tubuh berusaha menghemat energi saat kekurangan bahan bakar. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan.

Para ahli menyarankan untuk sarapan pada waktu yang sama setiap hari agar jam makan siang secara alami bisa konsisten empat hingga lima jam kemudian.

Sarapan yang kaya akan protein, serat, dan lemak sehat membantu menjaga rasa kenyang dan mengurangi rasa lapar di pertengahan pagi. Jika diperlukan, camilan kecil yang bergizi dapat menjadi pengganjal perut tanpa mengganggu nafsu makan saat jam makan siang.

Menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik juga penting, karena dehidrasi dapat menimbulkan sensasi yang menyerupai rasa lapar serta memicu kelelahan.

(hst/hst)