Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
17 August 2026 10:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia menjadi momentum untuk melihat sejauh mana Bursa Efek Indonesia telah "merdeka" dari ketergantungan terhadap modal asing.
Sejak 1 Januari hingga 14 Agustus 2026, investor asing membukukan jual bersih Rp72,873 triliun. Nilainya tergolong jumbo, tetapi tidak membuat pasar saham Indonesia kehilangan seluruh kekuatannya.
Investor lokal justru semakin dominan. Mereka menguasai mayoritas nilai saham, menyumbang hampir dua pertiga transaksi, dan mencakup lebih dari 99% rekening investor saham.
Lokal Menang di Tiga Arena
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia atau KSEI, nilai saham yang tercatat di sistem penyimpanan KSEI mencapai sekitar Rp6.961,42 triliun pada 31 Juli 2026.
Investor domestik memegang Rp4.156,43 triliun atau 59,71%. Sementara itu, investor asing menguasai sekitar Rp2.805 triliun atau 40,29%.
Dominasi lokal juga terlihat dalam perdagangan. Sepanjang Januari-Juli 2026, investor domestik menyumbang sekitar 64,05% nilai transaksi saham, sedangkan kontribusi asing mencapai 35,95%.
Perbedaan terbesar terlihat dari jumlah rekening. Statistik KSEI per Juni menunjukkan sekitar 99,61% investor saham merupakan investor domestik. Porsi investor asing hanya 0,39%.
Jumlah investor juga terus bertambah. Hingga 7 Agustus 2026, investor pasar modal telah mencapai 30.274.265 Single Investor Identification atau SID, bertambah hampir 9,93 juta investor sejak awal tahun.
Khusus investor saham, jumlahnya mencapai 10.052.059 SID, naik 16,83% dibandingkan akhir 2025. Pertumbuhan ini membuat pasar mempunyai bantalan domestik yang semakin lebar.
Asing Jual Rp72,87 Triliun
Pada penutupan 31 Juli, BEI mencatat jual bersih asing sepanjang tahun sebesar Rp72,987 triliun. Memasuki Agustus, arah modal asing sempat berbalik.
Selama 3-7 Agustus, asing membukukan beli bersih sekitar Rp1,697 triliun. Posisi net sell year-to-date pun menyusut menjadi Rp71,29 triliun.
Arus tersebut tidak bertahan lama. Pada periode 10-14 Agustus, asing kembali mencatatkan jual bersih sekitar Rp1,583 triliun. Pada Jumat, 14 Agustus saja, penjualan bersih asing mencapai Rp1,034 triliun.
Setelah seluruh pergerakan diperhitungkan, investor asing mencatatkan beli bersih tipis Rp114 miliar selama 10 hari perdagangan pertama Agustus. Namun, secara kumulatif sejak 1 Januari, asing masih membukukan jual bersih Rp72,873 triliun.
Grafik tersebut memperlihatkan karakter dana asing yang cepat berubah. Uang asing masuk cukup agresif pada pekan pertama Agustus, kemudian hampir seluruhnya kembali keluar menjelang 17 Agustus.
Asing Keluar, Pasar Masih Bertahan
Meski asing mencatatkan net sell jumbo sejak awal tahun, pasar tidak kehilangan seluruh tenaganya. Pada 10 hari perdagangan pertama Agustus, IHSG naik dari 6.236,126 menjadi 6.401,888 atau menguat 2,66%.
Kapitalisasi pasar meningkat dari Rp10.923 triliun menjadi Rp11.243 triliun. Artinya, nilai pasar saham Indonesia bertambah sekitar Rp320 triliun hanya dalam dua pekan.
Aktivitas perdagangan juga tetap ramai. Rata-rata volume dan frekuensi transaksi harian pada pekan 10-14 Agustus masih lebih tinggi dibandingkan pekan terakhir Juli.
Catatan: Data aktivitas akhir Juli menggunakan rata-rata perdagangan 27-31 Juli, sedangkan data 14 Agustus menggunakan periode 10-14 Agustus.
Pada pekan 3-7 Agustus, IHSG melesat 2,78% ketika asing melakukan pembelian bersih. Namun, ketika asing kembali menjual Rp1,583 triliun pada pekan berikutnya, IHSG hanya terkoreksi tipis 0,12%.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa asing masih mampu mempercepat kenaikan, tetapi likuiditas domestik semakin mampu meredam tekanan ketika modal global keluar.
Penguasa Terbesar Ternyata Korporasi Lokal
Dominasi domestik bukan hanya berasal dari jutaan investor ritel. Kelompok pemilik saham terbesar justru korporasi lokal dengan kepemilikan sekitar Rp2.525,80 triliun atau 36,28%.
Investor individu lokal berada di posisi kedua dengan Rp1.112,77 triliun atau 15,98%. Sementara itu, kekuatan asing tersebar pada korporasi, institusi keuangan, reksa dana, dan kelompok investor lainnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa kekuatan domestik merupakan gabungan korporasi, institusi, dana pensiun, asuransi, pemerintah, reksa dana, dan investor individu. Statistik KSEI per Juni memperlihatkan investor institusi menguasai 82,02% nilai saham, sedangkan individu memegang 17,98%.
Jadi, Siapa Penguasa Bursa RI?
Investor lokal merupakan penguasa struktural Bursa RI. Lokal unggul dalam nilai kepemilikan, aktivitas transaksi, dan jumlah rekening.
Namun, investor asing masih menjadi pengendali momentum. Kepemilikan mereka mencapai 40,29% dan banyak terkonsentrasi pada saham perbankan, telekomunikasi, konsumsi, energi, dan komoditas berkapitalisasi besar.
Kesimpulannya, lokal sudah memegang takhta, tetapi asing masih mempunyai tombol untuk mempercepat atau memperlambat pasar. Bursa RI semakin mandiri, meskipun belum sepenuhnya bebas dari pengaruh modal global.-
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls)