Lombok Utara (ANTARA) - Pengelolaan sampah di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai mengandalkan teknologi insinerator Park Pyro asal Korea Selatan untuk mengurangi timbunan sampah di salah satu destinasi wisata unggulan daerah tersebut.
Mesin tersebut menjadi satu-satunya dari tiga unit insinerator yang tersedia di lokasi pengelolaan sampah Gili Trawangan yang saat ini masih dapat dioperasikan. Sementara dua mesin lainnya yang merupakan produk dalam negeri dihentikan penggunaannya setelah menghadapi kendala dalam pengujian emisi.
Pengurus Yayasan Front Masyarakat Peduli Lingkungan (FMPL) Gili Trawangan, Cahyo Kurniawan, mengatakan insinerator Park Pyro memiliki sistem pembakaran yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan pengelolaan sampah di kawasan wisata.
"Yang dari Korea ini lebih ramah lingkungan. Kalau yang Korea hanya membutuhkan gas dan listrik," kata Cahyo di Gili Trawangan, yang ditemui beberapa waktu lalu.
Cahyo menjelaskan, gas pada mesin Park Pyro berfungsi sebagai pemicu awal proses pembakaran. Setelah pembakaran berlangsung, sistem mesin dapat mempertahankan proses pengolahan sampah dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan.
Kapasitas pengolahan menjadi salah satu keunggulan yang diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan sampah di Gili Trawangan. Berdasarkan informasi dari penyedia teknologi, satu unit mesin tersebut diperkirakan mampu mengolah hingga sekitar 20 ton sampah per hari apabila dioperasikan selama 24 jam.
Kapasitas itu cukup penting mengingat produksi sampah di Gili Trawangan meningkat seiring bertambahnya aktivitas pariwisata. Pada periode kunjungan wisatawan yang tinggi atau high season, volume sampah di kawasan tersebut disebut dapat mencapai sekitar 22 ton per hari.
"Kalau insinerator ini beroperasi 24 jam nonstop, menurut penyedia layanan bisa sampai 20 ton per hari," ujarnya.
Dengan kemampuan tersebut, FMPL berharap mesin Park Pyro dapat menjadi salah satu fasilitas utama untuk mengurangi volume sampah yang masuk dan menumpuk di tempat pengolahan sampah Gili Trawangan.
Namun, FMPL belum dapat mengoperasikan mesin tersebut secara maksimal. Keterbatasan tenaga kerja menjadi salah satu kendala utama dalam pengoperasian mesin selama 24 jam.
Pengoperasian secara penuh membutuhkan tiga pola kerja atau tiga shift. Kondisi itu membuat pengelola membutuhkan tambahan tenaga kerja agar mesin dapat berjalan secara berkesinambungan.
Cahyo mengatakan FMPL selama ini ikut menanggung biaya tenaga kerja untuk mendukung kegiatan operasional pengolahan sampah. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah memberikan dukungan agar pemanfaatan fasilitas tersebut dapat berlangsung secara optimal.
"Kalau 24 jam kita operasikan, kita lihat berapa ton sampah yang bisa diselesaikan. Tapi sekarang kendalanya operasional dan tenaga kerja," ucapnya.
Dua Mesin Berhenti Beroperasi
FMPL juga memiliki dua unit mesin pengolahan sampah buatan dalam negeri. Namun, kedua mesin tersebut belum dapat digunakan kembali karena menghadapi persoalan emisi.
Cahyo mengatakan pengelola sempat menguji kedua mesin tersebut selama sekitar 15 hari. Hasil pengujian menunjukkan mesin menghasilkan asap yang sangat pekat dan berwarna hitam.
Kondisi tersebut kemudian membuat Dinas Lingkungan Hidup menghentikan pengoperasian kedua mesin tersebut.
"Dua mesin ini pernah diuji coba sekitar 15 hari. Setelah itu karena polusinya sangat pekat dan asapnya sangat hitam, akhirnya dihentikan oleh Dinas Lingkungan Hidup," jelasnya.
Menurut Cahyo, kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi pengolahan sampah tidak cukup hanya memiliki kapasitas besar. Pengelola juga harus memastikan teknologi yang digunakan mampu memenuhi ketentuan lingkungan dan menghasilkan emisi yang terkendali.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Utara meningkatkan perhatian terhadap pengelolaan sampah di Gili Trawangan. Pertumbuhan sektor pariwisata yang mendorong peningkatan jumlah wisatawan juga berdampak terhadap volume sampah yang dihasilkan.
"Sekarang pembangunan di mana-mana, wisatawan semakin banyak. Kami meminta peran pemerintah lebih besar, khususnya Dinas Lingkungan Hidup," ujarnya.
Gunakan Tiga Tahap Pembakaran
Direktur PT Park Tahta Berjaya, Anatolia Gita, mengatakan perusahaan menawarkan teknologi Park Pyro sebagai salah satu solusi untuk menangani persoalan sampah di Gili Trawangan.
Menurut dia, teknologi asal Korea Selatan tersebut dirancang untuk mengolah sampah melalui proses pembakaran bertingkat sekaligus mengendalikan emisi yang dihasilkan.
Gita menilai teknologi tersebut sesuai untuk diterapkan di Gili Trawangan karena kawasan tersebut merupakan salah satu destinasi wisata internasional yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.
"Untuk Gili Trawangan ini sangat tepat untuk mengatasi masalah sampah. Banyak wisatawan asing yang sensitif terhadap asap. Kalau ada asap hitam, mereka langsung tahu bahwa ada pembakaran," kata Ana saat mengunjungi TPST Gili Trawangan, Senin (10/8).
Ia mengatakan karakteristik Gili Trawangan membutuhkan teknologi pengolahan sampah yang tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga memperhatikan kualitas emisi.
Park Pyro menggunakan tiga ruang pembakaran atau chamber. Sistem tersebut memungkinkan sampah mengalami proses pembakaran secara bertahap sebelum gas hasil pembakaran masuk ke sistem penyaringan.
"Chamber pertama itu pembakaran, kemudian dibakar lagi ke chamber kedua dan ketiga. Setelah tiga kali pembakaran, baru masuk ke filter," jelasnya.
Teknologi tersebut dilengkapi sejumlah perangkat pengendalian polutan udara, seperti filter kantong, karbon aktif, dan pengumpul debu. Gita mengatakan setiap unit yang telah dipasang juga menjalani pengujian emisi setelah proses commissioning.
Gita menjelaskan Park Pyro dapat mencapai temperatur pembakaran hingga sekitar 1.600 derajat Celsius. Temperatur tinggi tersebut bertujuan mengoptimalkan pembakaran sekaligus mengurangi potensi terbentuknya senyawa berbahaya.
"Kalau teknologi lain pembakarannya sekitar 500 derajat, kita bisa sampai 1.600 derajat. Di 1.200 derajat Celsius itu sudah bisa menghancurkan dioksin," ujarnya.
Selain mengandalkan temperatur tinggi, sistem Park Pyro juga menggunakan perangkat penyaringan untuk mengendalikan polutan dari proses pembakaran.
Gita mengatakan mesin tersebut memiliki konsumsi listrik yang relatif rendah. Listrik terutama digunakan untuk pemantik dan perangkat pendukung pada tahap awal pembakaran.
"Listrik kita hanya untuk pemantik. Setelah api menyala, listriknya mati. Jadi seperti menyalakan kompor," katanya.
Untuk mesin dengan kapasitas sekitar 20 ton sampah per hari, biaya operasional terutama digunakan untuk kebutuhan gas dan listrik.
Gita mengatakan efisiensi operasional menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam mengembangkan dan menawarkan teknologi pengolahan sampah untuk berbagai daerah di Indonesia.
"Kenapa kita menghadirkan mesin ini? Karena kita tahu efisiensi di setiap daerah itu berbeda. Kita bikin harganya se-affordable mungkin," ujarnya.
Penuhi TKDN dan SNI
Gita mengatakan teknologi Park Pyro yang digunakan saat ini masih sepenuhnya diimpor dari Korea Selatan. Namun, perusahaan tengah mempersiapkan pengembangan produk agar dapat memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Perusahaan menargetkan tingkat komponen dalam negeri produk tersebut dapat mencapai sekitar 70 persen. Target tersebut akan ditempuh melalui pemanfaatan komponen serta tenaga kerja dari Indonesia.
Selain digunakan di Gili Trawangan, teknologi Park Pyro juga telah diterapkan di Kota Mataram. Perusahaan juga menjajaki kerja sama dengan sejumlah daerah lain di Indonesia, termasuk pengembangan fasilitas pengolahan sampah di kawasan Bandara Soekarno-Hatta.
Baca juga: Tumpukan sampah di TPS Sandubaya Mataram tersisa 2.000 ton
Gita berharap penggunaan teknologi pengolahan sampah yang disesuaikan dengan karakteristik daerah dapat membantu kawasan wisata mengurangi timbunan sampah tanpa mengabaikan aspek lingkungan.
"Teknologi pengelolaan sampah harus efisien, tetapi juga harus bertanggung jawab terhadap lingkungan. Apalagi untuk kawasan seperti Gili Trawangan yang menjadi tujuan wisata internasional," katanya.
Pewarta : Awaludin
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026