Eropa Barat Makin Panas, Rekor Suhu Juni-Juli Kembali Pecah

August 2026 ยท 3 minute read

Secara global, 2026 sejauh ini menjadi tahun terpanas ketiga, berada di bawah 2024 dan 2025. Namun, para ilmuwan menilai masih ada kemungkinan posisi tersebut berubah hingga akhir tahun.

Pemanasan global yang semakin cepat akibat aktivitas manusia, ditambah fenomena El Nino yang menguat, meningkatkan peluang 2026 menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat, mengalahkan rekor 2024 atau setidaknya berada sangat dekat dengan rekor tersebut.

El Nino merupakan fenomena pemanasan berkala di sebagian wilayah Samudra Pasifik yang dapat menyebabkan perubahan suhu di berbagai wilayah dunia.

Suhu Permukaan Laut Juli Capai Rekor Tertinggi

Copernicus melaporkan suhu rata-rata permukaan laut pada Juli mencapai rekor tertinggi untuk bulan tersebut di wilayah lautan di luar kawasan kutub, yakni lautan yang tidak mengalami es laut musiman.

Suhu rata-rata permukaan laut pada Juli tercatat 20,96 derajat Celsius, mengalahkan rekor sebelumnya pada 2023 yang mencapai 20,89 derajat Celsius.

Namun, suhu udara permukaan rata-rata global pada Juli berada di angka 16,90 derajat Celsius. Angka tersebut menjadikan Juli 2026 sebagai bulan Juli terpanas kedua bersama Juli 2024.

Di Eropa Barat, suhu rata-rata untuk periode Juni-Juli mencapai 21,62 derajat Celsius, mencatat rekor baru.

Gelombang Panas Memperparah Kekeringan

Samantha Burgess, pemimpin strategis bidang iklim di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, mengatakan sistem tekanan tinggi yang bertahan lama telah memerangkap panas di Eropa Barat.

Kondisi tersebut turut memperparah kekeringan yang meluas.

"Ketika tanah mengering, kemampuannya memberikan pendinginan alami berkurang, sehingga panas lebih mudah terakumulasi," kata Burgess.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi contoh bagaimana perubahan iklim memperkuat cuaca panas ekstrem, sementara panas dan kekeringan semakin saling memperburuk.

Suhu di Sejumlah Negara Tembus 40 Derajat

Gelombang panas juga berdampak terhadap sejumlah negara Eropa. Pada pekan sebelumnya, Kementerian Kesehatan Italia menempatkan seluruh 27 kota besar di negara tersebut dalam status peringatan panas tertinggi.

Suhu di beberapa negara bahkan mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, sehingga pemerintah mengeluarkan peringatan kesehatan bagi jutaan orang.

Untuk pertama kalinya tahun ini, seluruh jaringan kota tersebut secara bersamaan berada pada level peringatan tertinggi.

Peringatan tersebut berlaku mulai dari Trieste di Italia bagian timur laut hingga Palermo di Sisilia. Kondisi ini dinilai menjadi risiko kesehatan bagi seluruh populasi, bukan hanya kelompok rentan seperti lansia dan orang dengan penyakit kronis.

Otoritas mengimbau warga dan wisatawan menghindari paparan langsung sinar matahari pada jam-jam terpanas, tetap berada di dalam ruangan jika memungkinkan, serta memperbanyak konsumsi air.

Jam Operasional Destinasi Wisata Diubah

Gelombang panas juga memaksa sejumlah destinasi wisata utama melakukan penyesuaian.

Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan Italia memperpanjang jam buka malam sejumlah landmark, termasuk Colosseum dan Pantheon di Roma.

Langkah tersebut dilakukan ketika suhu ekstrem terus melanda sejumlah wilayah Eropa dan meningkatkan risiko kesehatan bagi penduduk maupun wisatawan.

Sumber: Independent