Indonesia dan Qatar Siapkan Agenda Budaya Sambut 50 Tahun Hubungan Diplomatik

August 2026 · 2 minute read

Bagikan:

JAKARTA - Indonesia dan Qatar mulai menyiapkan sejumlah agenda budaya menjelang 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Rencana itu dibahas Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat menerima Duta Besar Qatar untuk Indonesia Sultan bin Mubarak Saad Al-Dosari di Kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Rabu, 5 Agustus.

Pertemuan itu membahas potensi kerja sama budaya, termasuk agenda untuk memperingati Golden Jubilee hubungan diplomatik Indonesia-Qatar. Kedua negara menjalin hubungan diplomatik sejak 1976.

Salah satu agenda yang dibahas adalah pameran prangko yang menampilkan ragam budaya Indonesia dan Qatar.

Fadli mengatakan Qatar memiliki perhatian besar dalam pengembangan kebudayaan. Ia menyebut sejumlah kawasan dan institusi budaya di Qatar, seperti Museum of Islamic Art, Qatar National Library, dan Katara Cultural Village.

“Kami mengagumi bahwa Negara Qatar yang semakin aktif berpartisipasi dalam merawat dan mengembangkan kebudayaannya, karena salah satu kekuatan terbesar kita ada di budayanya,” kata Fadli.

Dalam pertemuan itu, Fadli dan Dubes Al-Dosari juga membahas koleksi lukisan di Kantor Kementerian Kebudayaan. Salah satunya lukisan Syekh Yusuf Al-Makassari, tokoh yang menjadi pahlawan nasional di Indonesia dan Afrika Selatan.

BACA JUGA:


Fadli menjelaskan, Syekh Yusuf Al-Makassari adalah ulama dan sufi yang membawa ajaran Islam ke Afrika Selatan dan Sri Lanka. Ia pernah diasingkan ke beberapa negara dan wafat di Afrika Selatan.

“Beliau satu-satunya tokoh yang diangkat menjadi pahlawan nasional di dua negara, yaitu Indonesia dan Afrika Selatan. Bahkan Nelson Mandela menyebut Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai salah seorang putra Afrika terbaik,” ujar Fadli.

Dubes Al-Dosari menyambut baik rencana kerja sama budaya Indonesia-Qatar. Ia juga mengajukan kolaborasi untuk perayaan Qatar National Day.

Sejumlah agenda yang diusulkan antara lain ekshibisi lukisan dan pertunjukan orkestra.

Fadli mendorong penandatanganan nota kesepahaman atau MoU sebagai payung kerja sama budaya kedua negara. Menurut Fadli, kerja sama itu perlu diterjemahkan dalam agenda konkret.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Second Secretary Saad Mohammed I.M. Al-Emadi dan political researcher Hayder Alhadey. Dari Kementerian Kebudayaan hadir Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti serta Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Ismunandar.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+