Houthi klaim serang 2 kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah

July 2026 · 3 minute read

Sanaa (ANTARA) - Kelompok Houthi Yaman pada Kamis menyatakan telah melancarkan operasi militer yang menargetkan dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, dengan klaim bahwa kapal-kapal tersebut telah melanggar pembatasan maritim yang baru saja diumumkan oleh kelompok itu.

Dalam pernyataan yang disiarkan stasiun televisi Al-Masirah milik kelompok tersebut, juru bicara militer Houthi Yahya Sarea mengatakan pasukan Houthi menargetkan dua kapal tanker, yang diidentifikasi sebagai ENCELIA dan LAYLA, menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone.

Sarea mengatakan kedua kapal tersebut menjadi sasaran karena melanggar embargo yang diberlakukan oleh angkatan bersenjata Houthi terhadap kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan Arab Saudi. Dia mengeklaim serangan itu menyebabkan kedua kapal tanker dilalap api, dan serangan tersebut berhasil mencapai tujuannya.

Pernyataan Sarea tidak menyebutkan lokasi insiden ataupun memberikan bukti atas dugaan kerusakan yang diklaimnya, serta tidak menjelaskan apakah ada korban jiwa dalam insiden itu.

Klaim-klaim Houthi ini tidak dapat diverifikasi secara independen, dan belum ada tanggapan langsung dari otoritas Arab Saudi.

Sementara itu, Operasi Perdagangan Maritim Inggris (United Kingdom Maritime Trade Operations/UKMTO) menyatakan telah menerima laporan mengenai sebuah insiden yang melibatkan sebuah kapal tanker sekitar 70 mil laut di barat daya Al Shuqaiq, Arab Saudi.

Dalam laporan peringatan yang diunggah melalui platform media sosial X, UKMTO menyatakan nakhoda kapal melaporkan bahwa kapal dihantam sebuah proyektil tak dikenal, yang memicu kebakaran di atas kapal dan sedang berusaha dipadamkan oleh awak kapal.

Klaim Houthi tersebut muncul dua hari setelah kelompok itu mengumumkan perluasan pembatasan maritim yang menargetkan kapal-kapal yang melakukan perdagangan dengan pelabuhan Arab Saudi. Pembatasan tersebut memperingatkan bahwa kapal yang melanggar ketentuan tersebut dapat menjadi sasaran serangan.

Houthi menyampaikan bahwa pembatasan itu merupakan respons terhadap penutupan yang terus berlanjut terhadap Bandar Udara Internasional Sanaa. Houthi juga menuduh Arab Saudi mendukung pembatasan lalu lintas penerbangan menuju wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali Houthi.

Kelompok Houthi sebelumnya menggunakan rudal, drone, dan persenjataan laut untuk menyerang kapal-kapal yang mereka tuding memiliki kaitan dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) selama perang Gaza, sehingga memaksa perusahaan-perusahaan pelayaran mengalihkan rute kapal dari Laut Merah, salah satu jalur vital bagi perdagangan internasional dan pengiriman energi.

Perkembangan terbaru ini berpotensi kian memperbesar risiko terhadap pelayaran komersial di kawasan, di tengah konflik antara AS dan Iran terkait kendali atas Selat Hormuz.

Yaman dilanda konflik sejak akhir 2014, ketika kelompok Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara negara itu, yang mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman pada 2015.

Perkembangan terbaru ini memicu kekhawatiran bahwa deeskalasi yang telah dilakukan sejak gencatan senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2022 berpotensi gagal.

Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.