Gus Kikin Pantas Pimpin NU, Sosoknya Tidak Suka Gaduh

September 2026 · 2 minute read

Gus Kikin merupakan cicit pendiri NU, KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Ia juga dipercaya meneruskan kepemimpinan Pesantren Tebuireng setelah wafatnya KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Baca Juga: Kala “Utang” Gus Yahya ke Prabowo Dilunasi oleh Gus Kikin

Proses regenerasi kepemimpinan di Tebuireng sendiri telah dipersiapkan sejak jauh hari. Sejak 2016, Gus Sholah disebut telah mempersiapkan Gus Kikin melalui musyawarah keluarga besar keturunan KH Hasyim Asy’ari.

Bagi Gus Kikin, Tebuireng bukan sekadar lembaga pendidikan pesantren, tetapi juga menjadi bagian penting dari penjagaan sanad keilmuan dan tradisi NU.

Pengalaman Gus Kikin tidak berhenti di lingkungan pesantren. Ia juga memiliki rekam jejak dalam organisasi NU dan dunia usaha. Ia pernah menjadi Penjabat Ketua PWNU Jawa Timur sebelum kemudian terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029.

Pengalaman tersebut membuat Gus Kikin dinilai memiliki pemahaman terhadap berbagai bidang, mulai dari keumatan, kebangsaan, pendidikan hingga ekonomi.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School Jombang, KH A Junaidi Hidayat, menilai seorang pemimpin NU harus memiliki kemampuan yang tidak hanya bersifat keilmuan, tetapi juga manajerial.

"Pemimpin NU harus punya kemampuan keilmuan sekaligus manajerial, jaringan, ekonomi, dan pendidikan. Gus Kikin punya itu semua, bahkan pernah mengelola media televisi,” ujarnya.

Dukungan terhadap Gus Kikin juga datang dari PWNU Jawa Timur dan PCNU se-Jawa Timur. Pada Juli 2026, mereka sepakat menugaskan Gus Kikin maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Wakil Rais PWNU Jawa Timur KH Abdul Matin Djawahir menegaskan, pencalonan tersebut bukan berasal dari keinginan pribadi Gus Kikin, melainkan hasil keputusan bersama.

“Ini bukan keinginan pribadi beliau. Semua PCNU satu garis mengusung kiai. Selain dzurriyah KH Hasyim Asy’ari, Gus Kikin juga berpengalaman hingga PBNU. Sosoknya teduh, tidak gaduh, dan mementingkan ukhuwah,” katanya.

Gus Kikin sendiri merespons mandat tersebut dengan sikap sederhana. Ia menyatakan siap apabila dipercaya oleh muktamirin, sembari tetap menjalin silaturahmi dengan pesantren dan sejumlah tokoh NU tanpa mengedepankan kampanye terbuka.

“Ini amanah, bukan niat pribadi,” ujar Gus Kikin.

Baca Juga: Persis Punya Harapan Besar dari PBNU yang Baru

Dalam gagasannya, Gus Kikin menekankan pentingnya kembali menjadikan Qanun Asasi KH Hasyim Asy’ari sebagai salah satu pijakan NU. Ia juga mendorong NU tetap berlandaskan adab dan politik kebangsaan, sekaligus menjaga sanad keilmuan serta persatuan organisasi.

Pada akhirnya, karakter Gus Kikin yang dinilai teduh dan tidak gaduh menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya dipandang layak memimpin NU. Dengan pengalaman pesantren, organisasi, pendidikan, dan dunia usaha, kepemimpinannya diharapkan mampu membawa NU menghadapi dinamika internal sekaligus memperkuat peran organisasi memasuki abad kedua.