Google Cloud Ungkap Strategi Percepat Adopsi AI Agentik di Indonesia, Fokus pada Implementasi Nyata

July 2026 · 3 minute read

Winna Wandayani

| 16 Juli 2026, 16:28 WIB

Google Cloud Ungkap Strategi Percepat Adopsi AI Agentik di Indonesia, Fokus pada Implementasi Nyata

Karim Siregar selaku Country Director Google Cloud Indonesia (kiri), bersama Moe Abdula selaku Vice President of Technology and Customer Engineering APAC, Google Cloud (kanan). (AKURAT.CO/Winna Wandayani)

AKURAT.CO Google Cloud memaparkan strategi terbarunya untuk mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia dalam ajang Indonesia Leaders' Connect 2026. Perusahaan mengubah fokus dari pendekatan cloud first menjadi AI ready untuk mendukung penerapan AI dalam skala yang lebih luas.

Country Director Google Cloud Indonesia, Karim Siregar, mengatakan strategi tersebut ditujukan untuk mempercepat transformasi AI agentik di berbagai organisasi. Menurutnya, AI juga diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi operasional, serta pengalaman pengguna.

Karim menilai Indonesia menjadi pasar yang menantang karena memiliki jutaan pengguna perangkat seluler yang tersebar hingga kota tingkat dua dan tiga. Karena itu, dibutuhkan infrastruktur AI yang mampu menangani beban kerja berskala besar.

"Di era agentic AI, salah satu tolak ukur penting bagi kapabilitas engineering adalah kemampuan untuk menghadirkan solusi dalam skala Indonesia yang sesungguhnya," ujar Karim, saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Karim menjelaskan Google Cloud menghadirkan AI stack terpadu dan platform Gemini Enterprise bagi perusahaan. Solusi ini ditujukan untuk memodernisasi sistem lama dan mempercepat penerapan agen AI dari tahap uji coba hingga produksi.

Google Cloud juga memaparkan sejumlah penerapan AI di berbagai sektor industri. Salah satunya Emtek Group yang memanfaatkan platform VidioGen berbasis AI untuk mendukung produksi konten.

Menurut Google Cloud, penggunaan VidioGen membantu memangkas waktu dan biaya pengembangan ulang serial hingga 30 persen. Sementara di sektor telekomunikasi, Indosat memanfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan pengelolaan jaringan.

Indosat mengklaim penggunaan AI berhasil menurunkan tingkat pelanggan yang berhenti berlangganan hingga 50 persen. Teknologi tersebut juga disebut meningkatkan rata-rata pendapatan per pengguna lebih dari 6 persen serta berpotensi menghemat biaya sekitar US$86,5 juta.

Di sektor perbankan, PT Bank CIMB Niaga Tbk bekerja sama dengan Google Cloud dan Artefact untuk menghadirkan agen AI bagi layanan nasabah. Karim menilai tantangan saat ini bukan lagi mencoba AI, melainkan mengintegrasikannya ke dalam proses bisnis agar menghasilkan manfaat yang terukur.

"Peluangnya kini bukan lagi sekadar bereksperimen dengan teknologi baru. Peluang sesungguhnya adalah menggunakan AI untuk menyelesaikan masalah nyata, di dalam organisasi nyata, dan dalam skala yang nyata," katanya.

Selain memperkenalkan strategi pengelolaan biaya AI melalui Gemini Enterprise, Google Cloud juga memperluas tim Forward-Deployed Engineer (FDE) di Indonesia. Tim ini akan membantu pelanggan mempercepat implementasi AI ke lingkungan produksi.

Menurut Karim, perluasan tim FDE dilakukan karena semakin banyak perusahaan di Indonesia yang mulai mengadopsi AI generatif. Karena itu, perusahaan dinilai membutuhkan pendampingan teknis agar proses implementasi berjalan lebih optimal.

"Pemimpin bisnis di Indonesia kini tidak lagi mempertanyakan apakah mereka perlu mengadopsi AI generatif, melainkan seberapa cepat mereka dapat menerapkannya secara aman," jelas Karim.