Jakarta (ANTARA) - Di sebuah gerai kopi asal China di Jakarta, sebuah panel berisi biji kopi bernama "Komet" menarik perhatian.
Panel tersebut memperkenalkan karakter kopi medium roast yang menawarkan aroma floral dan fruity dengan perpaduan rasa manis dan asam yang lembut.
Bagi sebagian penikmat kopi di Indonesia, pilihan karakter seperti itu mungkin terdengar tidak biasa.
Selama bertahun-tahun, kopi lebih identik dengan rasa pahit yang kuat dan aroma yang pekat.
Namun, seiring berkembangnya budaya minum kopi di kalangan masyarakat, preferensi konsumen mulai mengalami perubahan.
Berkembangnya gerai-gerai kopi yang menawarkan beragam profil rasa kopi menunjukkan bahwa masyarakat tertarik mencoba kopi dengan karakter rasa yang lebih ringan, segar, dan kompleks.
Selain kopi susu yang masih populer, berbagai varian kopi dengan nuansa rasa dan aroma buah, bunga, maupun tingkat keasaman yang lebih menonjol mulai mendapatkan tempat di kalangan konsumen perkotaan.
Pergeseran preferensi tersebut turut mendorong hadirnya berbagai jaringan kopi internasional di Indonesia, termasuk Cotti Coffee asal China.
Jaringan kedai kopi ini didirikan di Beijing pada 2022 dan mulai berekspansi ke pasar internasional pada tahun berikutnya.
Berdasarkan informasi yang disampaikan melalui akun Instagram resminya pada 22 Juni, Cotti Coffee telah memiliki 61 gerai di Indonesia.
Di balik segelas kopi yang disajikan, Cotti Coffee memadukan biji kopi Arabika dari berbagai daerah penghasil kopi dunia, termasuk Ethiopia, Brasil, Kolombia, Guatemala dan Yunnan di China, sebagaimana dijelaskan di laman situs resmi perusahaan itu.

Perpaduan tersebut kemudian diolah menjadi sejumlah profil sangrai, di antaranya Platinum Specialty dengan karakter medium roast bercita rasa floral dan fruity, serta Gold Roast yang menonjolkan cita rasa dark roast, karamel, dan cokelat hitam.
Selain itu, salah satu menu inovatif lainnya, yaitu kopi dengan kelapa atau coconut coffee, lebih banyak diminati oleh konsumen dewasa.
"Kalau coconut coffee, yang sering pesan justru ibu-ibu. Mereka biasanya penasaran sama perpaduan kopi dan kelapa. Setelah dicoba, banyak yang bilang rasanya lebih lembut dan mudah dinikmati," ujar Alfa, yang biasanya memang menawarkan menu inovatif tersebut kepada konsumen yang menanyakan apa saja menu favorit di gerainya
Aldo (24), seorang pelanggan yang ditemui di salah satu gerai Cotti Coffee, mengaku mulai menyukai kopi dengan karakter fruity dalam beberapa bulan terakhir.
Menurutnya, rasa kopi seperti itu lebih ringan dan mudah dinikmati dibandingkan kopi yang terlalu pahit.
"Kalau dulu, saya lebih sering minum kopi susu atau kopi yang rasanya kuat, sekarang lebih suka yang ada aroma buahnya. Rasanya lebih segar dan tidak terlalu pahit di lidah," ujarnya kepada Xinhua.
Dia mengatakan tren serupa juga terlihat di kalangan teman-teman kuliahnya. Menurutnya, banyak mahasiswa kini memilih americano dengan biji kopi berkarakter buah dibandingkan kopi dengan profil rasa yang lebih pahit.
"Teman-teman saya juga banyak yang pesan americano pakai biji kopi yang fruity. Mungkin karena rasanya lebih ringan, jadi lebih gampang diminum meski tanpa gula atau susu. Bisa diminum terus-terusan tanpa terasa terlalu pahit. Aromanya juga lebih menarik daripada kopi yang cuma ada rasa pahit," jelas pemuda itu.
Seorang barista turut melihat perubahan preferensi tersebut secara langsung. Alfa (27), barista di salah satu gerai Cotti Coffee yang berlokasi di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, mengatakan bahwa sebelum bekerja di Cotti Coffee, dia telah bekerja di gerai kopi lainnya di mana konsumen umumnya memilih kopi dengan cita rasa pahit yang orisinal.
Namun, di Cotti Coffee yang menawarkan dua pilihan karakter biji kopi, yakni Gold Roast (cita rasa pahit) dan Platinum Specialty (bernuansa bunga dan buah), dia melihat preferensi konsumen menjadi lebih beragam.
"Gold Roast lebih dipilih pelanggan yang suka kopi dengan rasa lebih kuat dan pahit. Kalau Platinum Specialty, karakter asamnya lebih terasa dengan nuansa buah yang lebih menonjol, jadi banyak anak muda pesan yang ini," ujar Alfa.
Menurut pengamatan barista itu, konsumen muda sebagian besar memesan menu americano yang menggunakan biji kopi berkarakter fruity.
"Rasanya lebih ringan dan segar. Banyak yang memang mencari rasa seperti itu," katanya kepada Xinhua.
Sementara Gold Roast sendiri biasanya dipesan oleh konsumen yang lebih menyukai rasa pahit tanpa tingkat keasaman menonjol. Peminatnya relatif beragam, mulai dari kalangan anak muda hingga pelanggan yang lebih dewasa, bergantung pada preferensi masing-masing.

Fenomena tersebut menunjukkan bagaimana budaya minum kopi di Indonesia terus berkembang.
Jika sebelumnya konsumen lebih akrab dengan kopi yang menonjolkan rasa pahit dengan body yang kuat, kini semakin banyak yang tertarik mengeksplorasi profil rasa yang lebih beragam.
Pergeseran preferensi itu turut mendorong hadirnya pilihan-pilihan baru di pasar, termasuk melalui jaringan kopi internasional yang menawarkan karakter rasa berbeda.
Dari perkebunan kopi di Yunnan hingga secangkir kopi yang dinikmati di Jakarta, perjalanan kopi kini tidak lagi sekadar berbicara tentang asal biji kopi, tetapi juga bagaimana cita rasa berkembang mengikuti selera konsumen.
Melalui ragam profil rasa, perpaduan biji kopi dari berbagai negara, serta inovasi menu, gerai kopi asal China turut memperkaya pilihan yang tersedia bagi konsumen sekaligus menjadi bagian dari perkembangan budaya minum kopi di Indonesia.
Oleh Indalia Jayadinata
(Xinhua)
Pewarta: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.