Gempa Kumamoto, Dua Meninggal Puluhan Masih Terjebak |Republika Online

July 2026 · 2 minute read

Warga menyaksikan laporan berita tentang gempa bumi yang melanda prefektur Kumamoto, Jepang, di Terminal 1 Bandara Haneda setelah gempa pendahuluan berkekuatan 7,1 yang menghentikan layanan penerbangan regional dan penerbangan penghubung di Tokyo, Jepang, Selasa (28/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,8 mengguncang Prefektur Kumamoto di Jepang selatan pada Rabu. Guncangan kuat itu menyebabkan sebuah pusat perbelanjaan ambruk sebagian, sehingga banyak orang dilaporkan terjebak di dalam bangunan.

Selain itu, sejumlah pekerja di sebuah pabrik kertas masih belum diketahui keberadaannya. Sebuah jembatan jalan raya juga mengalami deformasi akibat gempa, sehingga memicu kekhawatiran terhadap kondisi infrastruktur di wilayah terdampak.

Perdana Menteri Jepang menyatakan pemerintah akan bekerja "sepanjang malam" untuk mengoordinasikan operasi penyelamatan dan memastikan seluruh korban dapat segera dievakuasi.

Penyiar publik Jepang, NHK, melaporkan sedikitnya dua orang meninggal dunia akibat runtuhnya pusat perbelanjaan tersebut. Sebelumnya, stasiun televisi TV Asahi yang mengutip sumber kepolisian menyebut terdapat beberapa korban jiwa.

NHK juga melaporkan sekitar 20 hingga 30 karyawan yang berada di dalam pusat perbelanjaan belum dapat dihubungi setelah bangunan itu ambruk.

Selain korban jiwa, puluhan orang mengalami luka-luka. NHK melaporkan sedikitnya satu rumah sakit telah menerima lebih dari 50 korban cedera.

Surat kabar Nikkei juga melaporkan sejumlah penumpang kereta cepat (shinkansen) mengalami luka saat gempa mengguncang wilayah tersebut.

Badan Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency/JMA) mengingatkan warga, terutama yang merasakan guncangan paling kuat, agar tetap waspada terhadap potensi gempa susulan selama sekitar satu pekan ke depan. Selain itu, hujan yang terjadi setelah gempa dapat meningkatkan risiko tanah longsor di kawasan terdampak.

Kumamoto bukan kali pertama dilanda gempa besar. Pada 2016, rangkaian gempa kuat di prefektur tersebut menewaskan 275 orang dan menjadi salah satu bencana alam paling mahal dalam sejarah Jepang dalam beberapa dekade terakhir.