Era Uang Murah 30 Tahun Tamat! Mengapa Jepang Mendadak Jadi Galak?

September 2026 ยท 3 minute read

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral Jepang menaikkan suku bunga acuannya ke level tertinggi dalam 31 tahun. Kenaikan ini meninggalkan kebijakan biaya pinjaman ultra-rendah yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Pada pertemuan Jumat (18/9/2026), Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga dari 1% menjadi 1,25%. Level setinggi ini terakhir terlihat pada 1995 atau 31 tahun lalu.

Langkah tersebut terjadi ketika sejumlah bank sentral utama dunia kembali menaikkan suku bunga. Kenaikan harga energi akibat perang Iran turut memberikan tekanan terhadap inflasi global.

Pada Rabu, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) juga menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) juga menaikkan biaya pinjaman pada awal bulan ini.

BoJ Tinggalkan Era Bunga Supermurah

BoJ mulai menaikkan suku bunga sejak 2024, ketika tingkat bunga masih berada di -0,1%. Dengan kenaikan terbaru, bank sentral Jepang telah menaikkan suku bunga sebanyak enam kali dalam dua setengah tahun terakhir.

BoJ secara bertahap menaikkan suku bunga untuk membawa kebijakan moneternya menuju level yang lebih sejalan dengan negara-negara ekonomi utama lainnya.

Kenaikan suku bunga atau pengetatan kebijakan moneter biasanya membuat mata uang suatu negara menguat karena aset dalam mata uang tersebut menjadi lebih menarik bagi investor.

"One of the world's last sources of ultra-cheap money is disappearing," kata Lale Akoner, analis pasar dari perusahaan investasi eToro, kepada BBC.

Jepang Hadapi Tekanan Ekonomi

Jepang menghadapi sejumlah tantangan ekonomi, mulai dari yen yang terus melemah, kenaikan harga, hingga menyusutnya jumlah tenaga kerja.

Data resmi yang dirilis Jumat sebelum pengumuman BoJ menunjukkan inflasi sedikit melandai pada bulan lalu.

Inflasi inti turun menjadi 1,7% pada Agustus dari 1,8% pada bulan sebelumnya, tetapi masih berada relatif dekat dengan target BoJ sebesar 2%.

Meski tingkat inflasi Jepang tidak tinggi dibandingkan standar internasional, kenaikan harga merupakan fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Negeri Sakura.

Selama sekitar tiga dekade hingga beberapa tahun terakhir, Jepang justru mengalami inflasi yang sangat rendah bahkan deflasi atau penurunan harga.

Harga Energi Jadi Ancaman

Harga minyak dan gas dunia meningkat tahun ini setelah perang Iran mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran strategis dunia.

Jepang menjadi salah satu negara yang rentan terhadap gangguan tersebut karena sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, yen juga berada di bawah tekanan dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Agustus, Tokyo dan Washington mengonfirmasi telah melakukan intervensi bersama untuk menghentikan pelemahan yen setelah mata uang Jepang mencapai level terendah dalam 40 tahun.

Intervensi tersebut menjadi yang pertama dilakukan secara bersama oleh Jepang dan AS sejak 2011, ketika kedua negara mengambil langkah untuk melemahkan yen setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat melanda Jepang bagian timur.

Kementerian Keuangan Jepang dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent saat itu mengatakan tidak akan ragu melakukan intervensi bersama lagi jika diperlukan.

Bessent juga meningkatkan tekanan terhadap BoJ untuk menaikkan suku bunga guna menopang yen. Ia bahkan meminta Gubernur BoJ Kazuo Ueda untuk "do the right thing".

"Jika yen tetap lemah meski suku bunga lebih tinggi, tekanan inflasi yang muncul dapat memaksa BoJ memperketat kebijakan lebih cepat dari yang diinginkan pasar maupun pemerintah Jepang," kata Akoner.

10 Bank Sentral Kerek Suku Bunga

Jepang tak sendiri. Selain BoJ, setidaknya ada sembilan bank lain yang juga mengerek suku bunga pekan ini.
Lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi menjadi pemicu utama.

(mae/mae)