El Nino Super Diperkirakan Picu Kerugian Ratusan Triliun di Afrika

July 2026 · 3 minute read

Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena El Nino kuat diperkirakan dapat menimbulkan kerugian ekonomi sebesar US$10 miliar (Rp179,2 triliun) hingga US$20 miliar (Rp358,4 triliun) bagi negara-negara Afrika yang terdampak.

Direktur Perubahan Iklim dan Pertumbuhan Hijau Bank Pembangunan Afrika (AfDB) Anthony Nyong mengatakan fenomena itu juga berpotensi memicu migrasi massal dari daerah yang terdampak paling parah.

"Peristiwa ini saja akan mengurangi produk domestik bruto negara-negara yang terdampak berat rata-rata sebesar 1 hingga 2 persen, atau sekitar US$10 miliar hingga US$20 miliar di seluruh benua," kata Nyong, dikutip dari Reuters, Minggu (26/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

El Nino merupakan pola iklim yang ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur.

Di Afrika, fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan kekeringan parah, banjir, dan badai di sejumlah wilayah.

Para ahli prakiraan cuaca memperingatkan El Nino tahun ini dapat menjadi salah satu yang terkuat sepanjang pencatatan fenomena tersebut apabila tren pemanasan Samudra Pasifik terus berlanjut.

Selain mengancam ketersediaan pangan dan air, dampak El Nino berpotensi menekan keuangan pemerintah dan sektor perbankan.

Bencana dapat merusak infrastruktur sekaligus menyulitkan negara-negara yang kekurangan dana untuk membayar pinjaman yang digunakan dalam pembangunan fasilitas tersebut.

AfDB sebelumnya memperkirakan ekonomi Afrika secara keseluruhan tumbuh 4,2 persen tahun ini dan meningkat menjadi 4,4 persen pada 2027.

Namun, proyeksi pada Mei tersebut dibuat sebelum munculnya prakiraan mengenai kemungkinan El Nino kuat yang kerap dijuluki El Nino Super atau El Nino Godzilla.

Estimasi Nyong menjadi perkiraan kerugian ekonomi pertama yang dikeluarkan oleh bank pembangunan multilateral besar terkait El Nino mendatang.

Ia tidak merinci perkiraan kerugian untuk setiap negara. Namun, Nyong memperingatkan dampaknya tidak akan berhenti dalam satu tahun.

Kondisi kekeringan yang melanda sebagian besar kawasan Sahel dalam beberapa tahun terakhir dapat berlanjut.

Pengalaman Mozambik setelah Topan Idai pada 2019 menunjukkan pemulihan dari badai besar dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Anggaran kesehatan terancam terpangkas

Nyong mengatakan sejumlah pemerintah Afrika terjebak dalam kondisi yang ia sebut sebagai perangkap pembiayaan iklim.

Negara-negara tersebut tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk merespons bencana sehingga terpaksa mengambil dana dari anggaran kesehatan, pendidikan, atau pembangunan infrastruktur.

El Nino 2023-2024 sebelumnya memicu kekeringan parah di Afrika bagian selatan serta hujan lebat dan banjir di Afrika Timur.

Kondisi tersebut menyebabkan gagal panen meluas, lonjakan harga pangan, serta kenaikan muka laut yang mencapai rekor di sepanjang pesisir benua itu.

AfDB memperkirakan petani Afrika telah menghadapi kehilangan pendapatan hampir US$330 juta tahun ini. Industri perikanan juga berpotensi terdampak oleh peningkatan suhu laut dan badai.

"Ketika guncangan ini terjadi, negara-negara mundur dua langkah," ujar Nyong.

"Kami tidak ingin negara-negara kami jatuh ke dalam kemiskinan," lanjut dia.

Ancaman migrasi massal

Tekanan kemanusiaan diperkirakan turut meningkat akibat El Nino.

AfDB mengidentifikasi Sudan, Sudan Selatan, Republik Demokratik Kongo, Somalia, Mali, Burundi, dan Nigeria sebagai negara-negara yang kemungkinan menghadapi dampak berat.

"Ketika El Nino ini datang, akan terjadi migrasi massal," kata Nyong.

Harga jagung, yang menjadi makanan pokok di banyak negara terdampak, diperkirakan dapat meningkat dua kali lipat.

"Anda tidak akan tetap tinggal. Anda akan berpindah," tuturnya.

Kekurangan sumber daya serta persaingan untuk memperebutkan lahan penggembalaan dan air juga dapat memperparah kerentanan yang telah terjadi di sejumlah wilayah.

Kerugian sektor pertanian diperkirakan mencapai sekitar US$327 juta, sementara produktivitas perikanan berpotensi turun 1 hingga 4 persen.

Nyong mengatakan negara-negara Afrika perlu memperkuat ketahanan sebelum bencana terjadi.

Upaya tersebut akan menjadi salah satu tema utama perundingan iklim global berikutnya yang dijadwalkan berlangsung di Turki pada November.

"Lebih murah membangun pagar di sekitar jurang daripada membayar ambulans mahal untuk menunggu orang-orang jatuh di bawah," katanya.

"Jadi, mari kita bangun pagar," pungkas Nyong.

(lom)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]