REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengingatkan dampak El Nino kuat 2026 mulai dirasakan di berbagai sektor. Curah hujan yang berada di bawah normal sepanjang Juli hingga Oktober memicu terganggunya ketersediaan air bersih, meningkatnya titik panas, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga potensi meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Rachmat mengatakan, kondisi tersebut perlu direspons melalui langkah antisipasi yang terkoordinasi agar tidak mengganggu stabilitas nasional maupun target pembangunan. Pemerintah memprioritaskan kesiapsiagaan di sektor pertanian, kehutanan, kesehatan, energi, dan sumber daya air.
“Potensi curah hujan saat ini di bawah normal yang terjadi sepanjang periode Juli hingga Oktober. Bahkan dampaknya telah mulai terbukti sampai hari ini ketersediaan air bersih terganggu, titik panas mulai bermunculan, kasus ISPA cepat atau lambat akan ada dan karhutla mulai meningkat,” kata Rachmat dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Menurut Rachmat, intervensi pemerintah harus difokuskan pada wilayah dan sektor yang paling terdampak. Seluruh kementerian dan lembaga juga diminta memperkuat koordinasi agar dampak El Nino dapat dimitigasi sejak dini.
Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan Indonesia telah mengantisipasi El Nino sejak awal 2026. BMKG mulai memprediksi kemarau yang berbarengan dengan El Nino sejak Maret, kemudian Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menetapkan El Nino aktif pada 2 Juni 2026. Berdasarkan analisis hingga Mei, Juni, dan Juli, fenomena tersebut kini telah memasuki fase kuat.
Menurut Faisal, El Nino akan memberikan dampak paling besar ketika terjadi bersamaan dengan musim kemarau karena menyebabkan kondisi menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.
“El Nino yang kita perlu waspadai ketika dia terjadi bersamaan dengan musim kemarau yang membuat kemarau menjadi lebih kering dan lebih panjang durasinya,” ujarnya.
BMKG mengidentifikasi wilayah yang paling terdampak berada di selatan garis khatulistiwa, meliputi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa terutama wilayah pesisir, Sumatra bagian selatan, hingga Papua Selatan. Karena itu, BMKG mendorong penyesuaian masa tanam, penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan, serta pendampingan melalui Sekolah Lapang Iklim bagi petani dan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan.
Selain itu, BMKG terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk mengurangi dampak El Nino, antara lain melalui operasi modifikasi cuaca guna menambah pasokan air ke waduk, menjaga kebutuhan irigasi pertanian, mendukung pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta membasahi lahan gambut untuk menekan risiko karhutla.