5 Agustus 1962: Nelson Mandela Ditangkap Saat Melawan Rezim Apartheid

August 2026 · 2 minute read

Kemudian di 1960, sekelompok orang melakukan demonstrasi menentang apartheid di Sharpeville dekat Johannesburg. Polisi menembak mati 69 orang kulit hitam. Walaupun begitu, pemerintah menyalahkan ANC atas kejadian tersebut dan kemudian melarang organisasi itu.

Pada titik inilah, alih-alih menjadi pemimpin ANC, Mandela justru menjadi pemimpin sebuah pasukan rahasia yang dikenal sebagai Umkhonto we Sizwe, atau “Tombak Bangsa.” Akibatnya, ia diburu oleh polisi dan terpaksa bersembunyi bahkan menyamar. Ia juga bepergian ke negara-negara lain untuk meminta bantuan. 

Namun, pada 5 Agustus 1962, Mandela ditangkap kembali dan dituduh merencanakan kudeta terhadap pemerintah. Ia dijatuhi hukuman seumur hidup pada 1964, saat usianya 46 tahun.

Mandela ditempatkan di sebuah penjara di Pulau Robben, ia menghabiskan 18 tahun di sana. Ia dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan berat dan hanya diberikan akses terhadap pengunjung enam bulan sekali. Bertahun-tahun kemudian, ia dipindahkan ke penjara lain. Tidak lama dari kepindahannya, Mandela menjadi pusat perhatian kampanye global untuk membebaskannya. Sayangnya, baru pada tahun 1988 pemerintah Afrika Selatan mulai melakukan perubahan.

Presiden baru Afrika Selatan di 1990, FW de Klerk, membebaskan Nelson Mandela. Kemudian, Mandela dan de Klerk menandatangani kesepakatan yang menyatakan tidak akan ada lagi pertempuran. Mandela juga menyerukan kepada seluruh warga Afrika Selatan untuk bekerja sama dalam damai.

Tahun berikutnya, ANC dipulihkan dan dipimpin kembali oleh Mandela. Lalu, pada tahun 1994, seluruh warga kulit hitam di Afrika Selatan akhirnya dapat menggunakan hak pilihnya untuk pertama kali. ANC memenangkan pemilihan umum demokratis pertama yang sepenuhnya bebas, dan pemerintahan baru pun mengambil alih kekuasaan.

Setelah akhirnya meraih kemenangan dan mewujudkan ambisi seumur hidupnya, Nelson Mandela terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan.