Eksklusif The Changcuters: Kembali ke Akar Lewat Album Wow Ma - Pophariini

July 2026 · 12 minute read

Kalau boleh berkata jujur, sampai sesi wawancara ini terjadi, saya tidak sadar kalau The Changcuters sudah berkarier selama lebih dari 20 tahun, tepatnya genap 22 tahun pada tahun ini. Ketidaksadaran ini mungkin terjadi karena intensitas saya mendengarkan mereka yang sudah berkurang sejak album Tugas Akhir (2011), ketika beberapa lagu dari album tersebut saya dengarkan untuk mengulik permainan gitar saat pertama kali belajar memainkan alat musik berdawai enam itu.

Mungkin juga saya tidak terlalu menyadari usia karier mereka karena secara fisik tak banyak yang berubah dari Tria, Qibil, Alda, Dipa, dan Erick. Cara berpakaian, gaya rambut, hingga kelincahan mereka di atas panggung masih terasa begitu akrab seperti yang saya ingat bertahun-tahun lalu.

Tahun ini, The Changcuters resmi merilis album terbaru mereka yang diberi judul Wow Ma. Mendengar judul tersebut, saya—dan mungkin banyak pendengar lain—langsung bertanya-tanya mengenai maknanya. Rasa penasaran itu akhirnya saya utarakan saat berkesempatan bertemu The Changcuters di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada 25 Juni lalu, bertepatan dengan konferensi pers peluncuran album Wow Ma.

Dipa menjelaskan bahwa ungkapan “Wow Ma” merupakan pengembangan dari ekspresi khas Medan, “Oh, mak”, yang memang kerap ia gunakan dalam percakapan sehari-hari. Mengingat Dipa merupakan anak Medan yang merantau ke Bandung untuk berkuliah, ungkapan tersebut kemudian menjadi bagian dari kesehariannya. Tria pun menambahkan bahwa “Wow Ma” awalnya merupakan internal joke di antara personel The Changcuters yang juga sudah dipahami oleh para penggemar mereka, Changcut Rangers.

“Ini internal banget lah intinya. Baru kali ini kami sematkan lah ya untuk publik yang lebih luas. Kalau gue bayangannya sesederhana, kenapa Wow Ma? Karena mungkin ini buat kami album ke-7 yang banyak menceritakan hal-hal yang lebih personal. Jadi si Wow Ma ini cocok nih, karena orang gak akan langsung nangkap maksudnya,” jelas Tria.

Hal menarik lainnya dari album Wow Ma adalah proses perilisannya yang harus menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari pandemi Covid-19 hingga kondisi kesehatan Tria yang menurun saat The Changcuters tampil di salah satu festival musik pada 2024. Peristiwa tersebut membuat rencana perilisan Wow Ma, yang semula ditargetkan terbit pada 2024, harus ditunda lebih dahulu.

Dipa menjelaskan bahwa sejak 2022 hingga insiden yang dialami Tria pada 2024, intensitas kegiatan The Changcuters memang sedang sangat padat. Setelah pembatasan aktivitas akibat pandemi mulai dilonggarkan, mereka kembali menjalani jadwal manggung yang begitu padat untuk memenuhi kerinduan para penonton.

“Kami tuh bisa 16–17 event sebulan. Jadi pada saat itu memang capek. Di 2024 juga, selain harusnya album, ada konser tunggal kan. Jadi semua itu, di usia 20 tahun, terlalu over yang dilakukan. Manusia ada batasnya juga ya. Nah, itulah diingetin, bahwa harus istirahat dulu dua bulan. Alhamdulillah dua bulan, tadinya kami belum tahu berapa lama kan, alhamdulillah cuma dua bulan,” kenang Dipa.

Setelah Tria pulih, The Changcuters memilih memprioritaskan konser tunggal mereka lebih dahulu sebelum kembali menuntaskan album. Saat itu, Wow Ma bahkan masih setengah jadi karena belum seluruh lagu memasuki proses rekaman.

Berbagai dinamika tersebut akhirnya mengantarkan The Changcuters pada perilisan album ketujuh mereka. Dalam percakapan bersama Pophariini berikut ini, mereka bercerita tentang arah musikal terbaru di Wow Ma, proses kreatif yang kembali dibuat lebih sederhana, hingga cara mereka terus berkarya di tengah perubahan industri musik saat ini.


Dari 11 lagu di album ini, mana yang menurut kalian paling merepresentasikan identitas Wow Ma, dan kenapa?

Dipa: Semuanya sih. [tertawa]

Qibil: Identitas Wow Ma, ya? Semua lagu itu elaborasinya ada di judul-judulnya. Ungkapan Wow Ma kami jabarkan menjadi judul lagu-lagu di album ini.

Dipa: Tapi kalau memang harus memilih, ya pasti dari hit singelnya, yaitu “Memang Beda“, “Karunia Semesta”, dan sekarang “Ruang Riang”. Jadi kalau dibilang mewakili, ya tiga lagu itu yang paling mewakili. Tapi kalau secara keseluruhan, makanya kami menaruh lagu pembuka berjudul “Wow Ma”. Seakan-akan kami membayangkan, karena kami band yang besarnya memang di panggung, kalau satu album ini dibawakan secara live, urutan lagunya memang sudah pas.

The Changcuters selalu punya karakter yang kuat sejak awal. Di tengah tren musik yang terus berubah, apa yang sengaja kalian pertahankan dan apa yang justru kalian ubah di Wow Ma?

Dipa: Yang paling kami pertahankan itu dari sisi penciptaan lagu. Mau itu aransemen ataupun cara kami menulis lirik, semuanya masih sama seperti sejak awal. Tidak ada terpaan. Waktu masih di Sony Music pun tidak ada intervensi. Jadi itu yang pasti bertahan. Secara musik, kami tetap mempertahankan garage rock ala kami.

Alda: Ala kami, garasi rock and roll.

Dipa: Nah, itu belum keluar lagi tuh. Dulu kami memang sering menyebut musik The Changcuters sebagai “ala kami garasi rock and roll”, waktu kami muncul di era garage rock.

Mungkin di album selanjutnya?

Dipa: Mungkin. Bagus juga tuh jadi nama album. Nah, itu yang kami pertahankan. Yang berubah tentu eksplorasi sound. Teknologi sekarang jauh berbeda dibanding saat kami rekaman pada 2005. Mulai dari alat rekam sampai instrumen yang digunakan juga sudah berkembang. Menurut gue, perubahan paling signifikan secara musikal datang dari situ.

Qibil: Kalau yang diubah, justru saat bikin album ini kami sepakat, “Udah lah, bikin lagunya enggak usah ribet-ribet.” Itu yang kami ubah. Biasanya kan band semakin tua semakin eksperimental. Justru kami balik lagi, “Udah lah, bikin lagu yang kalau tiba-tiba disuruh manggung, kami langsung bisa bawain.” Di album-album sebelumnya, terutama trilogi kemarin, enggak ada yang simpel. Buat kami malah, “Ini gimana sih mainnya?” Jelimet. Nyusahin diri sendiri lah, ibaratnya. Nah, itu yang kami ubah.

Dipa: Makanya balik lagi tadi, akhirnya kami merilis album ini secara independen lagi. Dulu waktu album pertama, kami memang bikin lagu tanpa banyak pertimbangan atau distorsi apa pun. Istilahnya mungkin back to origin. Bukan kembali ke titik nol, tapi kembali ke spirit awal. Cara pembuatannya tanpa distorsi dari luar. Walaupun sekarang kami sudah berkeluarga semua, ya sudah, kami kumpul berlima tanpa ada ego masing-masing. Album trilogi kemarin terlalu banyak keinginan. Misalnya ada lagu dari guide-nya Qibil, ya sudah kami nge-jam, lalu langsung, “Oke ya semua.”

Seseru apa proses berkarya The Changcuters di album Wow Ma ini?

Dipa: Ya seseru bapak-bapak umur 40-an berkarya.

Seluruh personel: [tertawa]

Alda: Seru-seruan lagi kayak di awal.

Dipa: Nah itu. Dulu kami masih umur 20-an, sekarang 20 tahun kemudian sudah 40-an. Kami mencoba mengesampingkan semua distorsi yang ada di diri masing-masing. Berusaha lepas lagi, tapi sebagai orang yang usianya sudah 40-an.

Qibil: Ibaratnya kalau dulu riot to the max, sekarang riot yang…

Alda: …terkontrol.

Qibil: [tertawa] Iya, terkontrol.

Tria: Bayanginnya gini. Band yang sudah lebih dari 20 tahun berkarier dan sudah merilis enam album, dari dulu memang setiap bikin karya, bahkan dalam satu album pun, lagu kedua enggak boleh sama dengan lagu pertama. Kebayang enggak? Sampai kami pernah di titik, “Bikin kayak gimana lagi, ya?” Justru keseruannya dimulai dari situ karena kami harus sama-sama mencari jalan keluarnya. Rasanya semuanya sudah pernah dilakukan. Tema apa lagi yang harus diangkat?

Qibil: Udah tahu susahnya, kan? Rasain kan susah? Ya udah, balik lagi bikin yang simpel. [tertawa]

Tria: Karena kalau pikiran itu diterusin, jadinya malah overthinking dan ke mana-mana. Ya sudah, pelan-pelan aja, mulai lagi dari awal. Santai aja. Simpel aja.

Dipa: Tanpa beban.

Tria: Yang lucunya, kami baru sadar bahwa sesimpel apa pun lagu yang kami buat sekarang, pengalaman lebih dari 20 tahun ini tetap ikut terbawa. Lagu “Suka Suka” di album Misteri Kalajengking Hitam (2009), misalnya, memang simpel. Tapi ketika menggarap “Sebagai”, yang menurut saya adalah lagu paling sederhana di album ini, hasilnya tetap jauh berbeda.

Qibil: Simpelnya sudah enggak simpel ya.

Tria: Waktu kami bilang, “Yuk bikin yang simpel,” ternyata pengalaman membuat kami sudah bukan orang yang sama seperti dulu. Bayangan kami soal lagu sederhana itu sebenarnya seperti zaman dulu, tapi sekarang sudah berbeda. Kalau Changcut Rangers atau orang yang sudah mengikuti karya-karya The Changcuters mendengarkan album ini, menurut saya mereka tidak akan merasa asing. Mereka justru akan merasa ini adalah versi yang lebih matang. Bukan berbeda, tapi upgrade. Dari penulisan lagu sampai produksinya terasa jauh lebih megah.

Berarti bertambahnya umur berbanding lurus dengan bertambahnya kemampuan?

Tria: Gue tadi sebenarnya mau bilang gitu, cuma kayaknya enggak enak. [tertawa] Ternyata selama ini kami memang nambah kemampuan juga. [tertawa]

Ada enggak momen selama proses pembuatan Wow Ma yang bikin kalian merasa, “Oke, ini album yang berbeda dari sebelumnya”?

Dipa: Makanya dari awal, seperti yang Tria bilang, itu sudah terasa banget. Walaupun tadi kami bilang mau balik lagi senang-senang, ternyata setelah didengarkan hasilnya, “Wah gila, beda ya jadinya.”

Tria: Lucunya gini. Album trilogi itu adalah fase ketika kami benar-benar berpikir untuk membuat sesuatu yang sangat berbeda, sampai akhirnya mentok. Makanya di album ini kami justru menurunkan ekspektasi itu. Tapi hasilnya malah jadi album yang, dari enam album sebelumnya, paling berbeda. Kalau menurut gue ya. Gue lempar lagi ke pendengar… eh, pendengar. [tertawa]

Apa sih pentingnya merilis album penuh bagi The Changcuters di era industri musik saat ini?

Alda: Soalnya singelnya enggak laku. [tertawa]

Qibil: Kalau saya pribadi, banyak content creator musik yang bilang, “Ngapain bikin satu album? Mending bikin satu singel, tapi kontennya seribu.” Secara kami kan milenial, bahkan milenial awal. Jadi ya bakal susah kalau kami disuruh ngonten seperti itu. Mending kami bikin 10 album daripada bikin satu lagu terus kontennya 10.

Dipa: Iya, itu sudah jadi pembicaraan kami sejak awal memasuki era digital. Ternyata memang di diri kami berlima, bikin konten bukan sesuatu yang dekat. Yang dekat sama kami ya masuk studio dan bikin album. Itu salah satu alasan kenapa kami tetap lebih mementingkan merilis album penuh dibanding strategi yang tadi dibilang Qibil.

Bahkan untuk album ini kami merilis semuanya, mulai dari kaset, CD, sampai piringan hitam (vinyl). Jadi orang bisa menikmati album ini lewat format digital, kaset, CD, maupun vinyl. Kami siapkan semuanya. Buat kami itu memberi kepuasan tersendiri karena kami tumbuh di era tersebut.

Makanya kami enggak mau terlalu memikirkan, “Sekarang harus begini, harus begitu.” Enggak. Sekali-sekali berbeda itu sesuatu yang baik. Enggak ada salahnya kalau kami tetap memilih cara ini. Pada akhirnya, sekarang kami sudah independen, jadi mau melakukan apa pun ya kami tentukan sendiri. Balik lagi ke spirit awal The Changcuters. Berbeda itu ternyata bagus. Makanya salah satu lagunya juga berjudul “Memang Beda”.

Agak kaget waktu kalian bilang susah bikin konten, karena setahu gue kalian sempat rajin bikin vlog di YouTube.

Qibil: Maksudnya gini. Kami juga tetap harus mengikuti perkembangan. Vlog itu salah satu usaha maksimal kami untuk tetap relevan dengan apa yang terjadi sekarang. Tapi kalau kami harus memaksakan diri mengikuti semua tren, ya susah. Misalnya satu singel harus dijadikan puluhan konten. Biasalah, selalu ada yang bilang, “Bikin yang begini, Pak. Bikin yang begitu, Pak.” [tertawa]

Dipa: Karena kami berasal dari era sebelum digital, ketika yang sekarang disebut “konten” dulu bentuknya media massa atau media cetak. Sekarang medianya berubah menjadi media sosial. Kami akhirnya sepakat menggunakan setiap platform sesuai fungsinya.

Instagram untuk menampilkan foto-foto yang bisa merepresentasikan The Changcuters. Orang melihat, “Oh, The Changcuters memang seperti ini.” Di TikTok mungkin ada sisi bercandanya. YouTube juga punya fungsi sendiri. Jadi akhirnya kami membuat konten secukupnya sesuai karakter masing-masing media.

Tria: Gampangnya begini. Kami tumbuh di masa ketika yang sekarang disebut “konten” itu dulu kami anggap sebagai karya. Misalnya bikin video. Dulu, bikin video saja kami harus memikirkan konsepnya seperti apa, breakdown-nya bagaimana. Ketika sekarang zamannya konten yang kadang enggak terlalu memikirkan kualitas atau konsep, memang ada bagian yang agak sulit kami terima.

Tapi setidaknya masih ada irisan. Makanya sampai sekarang kami memperlakukan semua media sosial kami sebagai ruang berkarya, bukan sekadar tempat membuat konten. Kalau ditanya, “Mending viral atau bagus?” Ya jelas mending bagus. Kami masih mengutamakan kualitas dan estetikanya dulu.

Dipa: Kalau ada yang viral, ya itu bonus.

Jadi penasaran. Untuk band yang usianya sudah lebih dari 20 tahun, kalian terlihat cukup fit. Ada usaha khusus untuk menjaga kondisi badan?

Dipa: Semua yang terlihat itu pasti ada usahanya. [tertawa]

Alda: Cuma mungkin enggak diperlihatkan secara vulgar. Enggak dikontenin.

Dipa: Usahanya pasti ada. Jaga makan, olahraga, itu sudah pasti.

Tria: Kalau mau ngambil minuman, ada di sebelah sana. [Tria menunjukkan otot lengannya.]

Seluruh personel: [tertawa]

Alda: Ada lah usahanya, tapi enggak yang dedicated banget. Sewajarnya aja.

Dipa: Mereka punya Instagram, saya malah enggak punya. Mereka saja juga enggak terlalu aktif. Balik lagi, karena kami merasa kekuatan utama kami memang ada di karya, dan kami ingin tetap konsisten di situ.

Alda: Mungkin sama seperti di media sosial, kami juga enggak banyak menampilkan…

Qibil: Kemewahan ya? [tertawa]

Alda: Mewah sih.

Qibil: Bercanda.

Alda: Tapi memang ada ranah-ranah yang enggak perlu dipublikasikan. Mungkin karena kami tumbuh di era milenial, jadi masih percaya ada wilayah privasi yang enggak harus diumbar ke publik.

Tria: Apalagi zaman kami dulu masih ada infotainment. Kadang-kadang rasanya terusik juga. Makanya ketika sekarang punya media sendiri, justru itu yang paling enggak mau kami tampilkan.

Kalau 10 tahun lagi orang kembali mendengarkan Wow Ma, apa satu hal yang kalian harap masih mereka rasakan dari album ini?

Tria: Kalau gue sih suka dengerin lagi album-album The Changcuters yang dulu. Tapi gue enggak tahu ya kalau orang lain. Karena gue ada di dalamnya, album-album itu buat gue kayak diary-nya The Changcuters.

Qibil: Betul, itu dia.

Tria: Misalnya gue tahu kenapa lagu-lagu di album Mencoba Sukses jadinya seperti itu, karena gue tahu, “Oh iya, waktu itu kami lagi ada di fase ini, lagi ada di fase itu.” Akhirnya pas gue dengerin ulang semua album, rasanya, “Anjir, akurat banget.” Jadi buat gue pribadi, semua album itu seperti diary. Enggak tahu kalau buat pendengarnya ya.

Dipa: Jadi harapannya, kalau Wow Ma didengarkan lagi 10 tahun dari sekarang, orang bisa merasakan kalau album ini memang dibuat oleh bapak-bapak umur 40-an. Nanti ketika mereka ada di umur yang sama, mereka bisa bilang, “Oh iya, ternyata rasanya memang begini.”

Alda: Sama, kami juga berharap orang benar-benar bisa merasakan proses membangun sebuah band selama lebih dari 20 tahun yang akhirnya dituangkan ke dalam satu karya. Semua pengalaman itu kami ceritakan di album ini.

Qibil: Tapi mungkin gini. Kalau dari sudut pandang pendengar, misalnya gue dengerin album musisi favorit gue dari tahun 1997… eh, jangan deh, kejauhan. [tertawa]

Dipa: Tahun 2000 aja.

Alda: Tahun 2010 deh.

Qibil: Tahun 2010 album apa yang keluar?

Alda: AM dari Arctic Monkeys, bukan?

Dipa: Iya.

Qibil: Atau The Strokes aja, misalnya album tahun 2001. Waktu album itu keluar, gue dengerin terus. Nah, 10 tahun kemudian, yang gue ingat bukan cuma lagunya, tapi juga siapa yang nemenin gue waktu dengar album itu, lagi ada di fase hidup seperti apa. Semua memorinya ikut ke-recall. Nah, mudah-mudahan album Wow Ma juga bisa seperti itu buat pendengarnya.

Tria: Berarti harapannya, minimal album kami bisa jadi semacam landmark dalam hidup pendengarnya.

Qibil: Mudah-mudahan album ini didengarkan banyak orang dan menyimpan memori mereka sendiri. Ketika nanti mendengar “Ruang Riang” atau “Sebagai”, mereka langsung teringat pada satu fase dalam hidupnya. Itu yang kami harapkan.


Selama lebih dari dua dekade, The Changcuters telah melewati berbagai fase, mulai dari menjadi salah satu wajah garage rock Indonesia, menghadapi perubahan industri musik, hingga akhirnya memilih kembali ke akar dalam proses kreatif mereka melalui Wow Ma. Alih-alih mengejar kompleksitas, album ketujuh ini justru lahir dari keputusan untuk kembali menikmati proses berkarya secara sederhana.

Kesederhanaan itulah yang menjadi benang merah Wow Ma. Bukan berarti berhenti bereksperimen, melainkan memanfaatkan pengalaman panjang mereka untuk menghasilkan karya yang terasa lebih matang tanpa kehilangan identitas. Di tengah industri yang terus berubah dan semakin menuntut musisi untuk hadir sebagai kreator konten, The Changcuters memilih tetap percaya bahwa karya akan selalu menjadi pusat dari perjalanan mereka.

Mungkin karena itu pula, Wow Ma bukan sekadar penanda album ketujuh. Ia juga menjadi pengingat bahwa setelah lebih dari 20 tahun berkarier, The Changcuters masih mampu terdengar relevan tanpa harus kehilangan jati dirinya.