Dua anak muda Indonesia wakili negara di program global UNESCO

August 2026 · 2 minute read

Jakarta (ANTARA) - Dua talenta muda Indonesia, Salsabilla Nur Feranti dan Veldesen Yaputra, terpilih mewakili negara dalam program global "Capture the Future: Global Youth Storytelling Initiative for People and Nature" yang diselenggarakan oleh UNESCO melalui Man and the Biosphere (MAB) Programme.

Pendaftaran program global ini telah dibuka sejak 5 Maret hingga 31 Mei 2026. Selanjutnya, dewan juri pakar MAB Programme melakukan penetapan representatif pemuda berprestasi dari seluruh dunia di Kantor Pusat UNESCO pada 29 Juli 2026.

Duta Besar RI untuk UNESCO Mohamad Oemar menyambut positif capaian tersebut sebagai bukti besarnya kontribusi generasi muda Indonesia dalam agenda global.

"Indonesia memiliki salah satu kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya terbesar di dunia. Keberhasilan Salsabilla dan Veldesen menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia mampu menerjemahkannya melalui kreativitas, ilmu pengetahuan, dan storytelling sehingga dapat berbicara kepada masyarakat dunia," ujar Mohamad Oemar dalam keterangannya KBRI Paris, Kamis (13/8).

Salsabilla Nur Feranti, peneliti di Yayasan Lokahita berlatar belakang Rekayasa Kehutanan dan Biomanajemen ITB, mengusung seri foto "Shared Ground" yang diambil di Cagar Biosfer Serengeti–Ngorongoro, Tanzania.

Karya tersebut mengisahkan kehidupan masyarakat Maasai yang hidup berdampingan dengan alam dan satwa liar.

"Saya ingin mengajak orang-orang untuk melihat keberlanjutan sebagai pengetahuan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi," kata Salsabilla.

Sementara itu, Veldesen Yaputra, mahasiswa magister arsitektur di Tsinghua University asal Pontianak, membawa karya berjudul "From an Old House to New Hope: Youth and Villagers Reviving Mawei Embroidery". Karyanya mendokumentasikan revitalisasi rumah kayu tradisional masyarakat Shui di Libo, Guizhou, China.

Saat ini, Veldesen juga tengah menerapkan pendekatan arsitektur hijau berbasis pengetahuan lokal di Desa Tenganan, Bali, bekerja sama dengan Universitas Udayana.

"Bagi saya, konservasi bukan hanya menjaga masa lalu, tetapi menggunakan pengetahuan yang kita miliki untuk membantu warisan tersebut terus berkembang bagi generasi berikutnya," tutur Veldesen.

Sebagai tindak lanjut, kedua wakil Indonesia ini akan mengikuti UNESCO x vivo Co-Creation Camp di Cagar Biosfer Apennine Tuscan-Emilian, Italia, pada 31 Agustus hingga 6 September 2026.

Di sana, mereka akan bergabung dengan para peserta dari berbagai negara untuk memperkuat keterampilan bercerita dan membangun jaringan internasional.

Baca juga: Ada 25 objek baru yang ditambahkan dalam daftar Warisan Dunia UNESCO

Baca juga: Gaungkan Tempe Goes to UNESCO, Kowani gelar fun walk 10.000 langkah

Baca juga: KRP rawat tradisi dan perjuangan Reyog jadi warisan budaya dunia

Pewarta: Yashinta Difa
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.