Jakarta (ANTARA) - Politisi Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia meluncurkan empat buku di Reuni Aktivis in the ADK SHOW atau Arena Demokrasi & Kritik di Jakarta pada Ahad (26/7) yang dihadiri ratusan aktivis.
Empat buku itu terbaru masing-masing berjudul Perspektif, Kacamata Doli Kurnia (2), Quote of The Day, dan Kacamata versi Komik.
"Secara keseluruhan saya telah menulis 14 buku sejak 1999," kata Doli dalam keterangannya, Sabtu.
Doli mengatakan buku dengan judul Perspektif bercerita tentang perjalanan hidup Doli dari Medan hingga menjadi politisi seperti saat ini.
Namun berbeda dengan biografi buku tersebut justru menceritakan berbagai fenomena dan orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidupnya.
"Buku ini tidak menceritakan diri saya, melainkan menulis tentang lingkungan dan orang-orang yang berkesan dalam hidup," ungkapnya.
“Bukan autobiografi; justru ini merupakan cara pandang, POV, atau perspektif saya tentang apa yang saya lihat dan rasakan sejak kecil hingga sekarang. Mungkin satu peristiwa bisa dilihat secara berbeda oleh masing-masing dari kita, dan itulah kekayaan perspektif. Bahwa perbedaan cara pandang itu biasa,” ungkap ayah dua anak itu.
Sementara buku Kacamata Doli Kurnia, ia menjelaskan bahwa merupakan kumpulan tulisan Wakil Ketua Baleg tersebut selama setahun terakhir.
Ia menulis tentang isu UU Pemilu, sistem politik, kekerasan terhadap anak, hingga Palestina dan Iran.
“Dan saya, sebagai anggota parlemen, pada dasarnya tidak hanya mewakili satu bidang atau satu dapil saja. Namun semua isu yang menjadi kegelisahan rakyat,” tambahnya.
Doli berharap buku-buku tersebut dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengisi acara, para roaster, serta rekan-rekan aktivis yang telah memberikan testimoni dan masukan.
“Terima kasih atas semuanya. Saya merasa bahwa saya akan tetap menjadi aktivis ke depan,"
"Manusia harus bersedia menerima kritik dan saran. Artinya, saya ingin menjadi orang yang tidak antikritik dan selalu terbuka," ucap Doli.
Menurutnya, ADK Show bukan sekadar ajang reuni. Tetapi juga menjadi ruang refleksi pribadi.
“Masukan-masukan ini sangat berharga bagi saya. Karena itu, saya berterima kasih kepada keluarga besar aktivis,” ungkap Doli.
Sementara itu legenda Partai Golkar, Akbar Tandjung mengatakan “Kehormatan dan ketenaran juga merupakan bagian dari cobaan. Karena itu, selalu membumi dan ingat pada janji-janji yang menanti untuk diwujudkan,” ujarnya.
Selain itu, Akbar menilai demokrasi harus tetap memberi ruang bagi kritik.
Namun, menurutnya, demokrasi juga memerlukan keteraturan agar mampu menghasilkan kehidupan berbangsa yang lebih baik.
“Hakikat demokrasi juga sebetulnya keteraturan. Kalau demokrasi tidak diatur, bisa kacau,” katanya.
Tokoh senior yang juga mantan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, turut memberikan testimoni mengenai kerja sama dengan Doli Kurnia dalam proses penyusunan Undang-Undang Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ia mengingat kejelian Doli saat mengusulkan perlunya Perpres untuk memastikan kapan pembangunan ibu kota dimulai.
Lalu Guru Besar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro menilai Doli sebagai representasi kader Golkar dan HMI yang sangat diperhitungkan.
Namun, ia menyampaikan catatan dengan nada ringan tentang karakter yang bersangkutan.
“Saya melihat Doli kurang punya sense of humor,” ucap Mbak Wiwiek—demikian panggilan akrabnya—disambut tawa hadirin.
Aktivis senior Fachry Ali menilai Ahmad Doli Kurnia dapat menjadi figur yang memberi pegangan di tengah dinamika politik yang penuh ketidakpastian.
“Di tengah politik praktis yang terasa seperti teka-teki, publik membutuhkan tonggak yang kuat. Salah satunya adalah Ahmad Doli Kurnia Tandjung,” ujar Fachry.
Terkait acara itu dihadiri ratusan aktivis, akademisi dan politisi dari beragam latar belakang.
Baik mereka yang kini berada di koalisi pemerintah, menjadi penyeimbang, atau bahkan oposisi.
Di antaranya Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur Great Institute, lembaga think tank yang dekat dengan pemerintah. Hadir juga Rocky Gerung, kritikus papan atas yang populer dengan tagline “No Rocky No Party”;
Bursah Zarnubi, legenda aktivis Jakarta yang kini menjadi bupati di Kabupaten Lahat; Mardani Ali Sera, politisi PKS; serta Adian Napitupulu, anggota parlemen PDIP yang dikenal lantang. Dari kalangan akademisi, tampak Titi Anggraini, pembina Perludem, dan Feri Amsari, pakar hukum tata negara.
Sementara itu, kalangan jurnalis diwakili oleh mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Budiman Tanuredjo, dan mantan Ketua Forum Pemred, Arifin Ashydad.
Aktivis yang kini menjadi konten kreator dan youtuber rujukan juga terlihat hadir, di antaranya Akbar Faizal dan Syukur Mandar.
Hadir pula tokoh-tokoh senior yang pernah malang-melintang di panggung politik nasional: Akbar Tandjung, Marzuki Darusman, Jimly Assidiqie, Suharso Monoarfa, Fachri Ali, dan MS Kaban.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.