Di Argentina, Messi tidak hanya dikenang sebagai kapten tim nasional. Ia memasuki ruang yang lebih dalam—ruang tempat olahraga bertemu dengan identitas, mitos, bahkan religiositas. Di sanalah sepak bola tidak lagi dipahami semata sebagai pertandingan, melainkan sebagai bagian dari kebudayaan yang membentuk cara sebuah bangsa memaknai dirinya sendiri.
Dan dari titik itulah, pembahasan tentang Messi bergerak menuju wilayah yang lebih luas: hubungan antara sepak bola, agama, dan kebudayaan.
Ketika Lapangan Hijau Menjelma Ruang Sakral
Jika pada akhirnya Lionel Messi berhasil merevolusi cara dunia memahami sepak bola, maka pengaruh terbesarnya justru baru tampak ketika pertandingan usai. Sebab, ada sesuatu yang terus hidup jauh melampaui sembilan puluh menit di atas lapangan: sebuah makna yang perlahan menjadikan Messi bukan lagi sekadar atlet, melainkan simbol kebudayaan.
Sejarah menjelaskan mengapa Messi menjadi besar. Filsafat membantu kita memahami cara ia bermain. Namun, keduanya belum cukup menerangkan mengapa jutaan orang dari berbagai bangsa rela menangis untuk seorang pemain yang bahkan tidak mereka kenal secara pribadi.
Jawabannya terletak pada satu hal yang lebih mendasar: sepak bola bukan hanya olahraga.
Baca Juga: Messi dalam Sejarah, Filsafat, dan Renaisans Sepak Bola
Dalam banyak masyarakat, terutama di Amerika Latin, sepak bola telah berkembang menjadi bahasa kolektif yang menyimpan ingatan, harapan, identitas, bahkan keyakinan. Ia bukan lagi sekadar pertandingan, melainkan ruang tempat masyarakat menegosiasikan dirinya sendiri.
Argentina adalah contoh yang paling gamblang. Di negeri itu, sepak bola bukan hanya hiburan akhir pekan. Ia hadir dalam percakapan keluarga, ruang-ruang publik, sekolah, jalanan, hingga doa-doa yang dipanjatkan sebelum pertandingan. Kekalahan tim nasional dapat menghadirkan kesedihan yang terasa personal, sementara kemenangan mampu mengubah suasana sebuah bangsa dalam semalam.
Karena itu, tidak mengherankan apabila figur-figur besar sepak bola Argentina perlahan menempati ruang simbolik yang biasanya hanya diberikan kepada tokoh-tokoh kebudayaan atau keagamaan. Messi adalah salah satunya.
Kaki Kiri Tuhan
Di luar berbagai rekor resmi yang tercatat FIFA maupun lembaga statistik sepak bola dunia, Lionel Messi menyimpan sejumlah kisah yang memperlihatkan bagaimana masyarakat memaknai dirinya.
Menurut Marca, hampir setiap menit dalam pertandingan sepak bola pernah menjadi waktu Messi mencetak gol. Hanya menit pertama yang belum pernah ia taklukkan. Statistik tersebut memang menarik, tetapi bukan itu yang membuat namanya terus dikenang.
Pada tahun 2007, ketika Barcelona menghadapi Espanyol, Messi pernah mencetak gol menggunakan tangan kirinya. Gol itu segera mengingatkan publik pada salah satu momen paling legendaris dalam sejarah sepak bola: The Hand of God Diego Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986.
Hubungan simbolik antara Maradona dan Messi memang hampir tidak pernah berhenti dibicarakan. Keduanya bukan sekadar dua pemain besar. Mereka adalah dua generasi yang memikul harapan bangsa yang sama. Karena itu, berbagai metafora yang mengelilingi keduanya sering kali bergerak melampaui bahasa olahraga.
Menjelang semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris, misalnya, Zlatan Ibrahimovic pernah ditanya mengenai prediksinya atas pertandingan tersebut. Dengan gaya khasnya, ia menjawab, “Inggris dulu kalah oleh tangan Tuhan. Sekarang mereka akan menghadapi kaki kiri Tuhan. Kau tahu bagaimana akhirnya.”
Kalimat itu tentu bukan analisis taktik. Ia adalah metafora. Namun, justru di situlah letak menariknya. Dalam sepak bola Amerika Latin, metafora sering kali memiliki kekuatan yang hampir sama besarnya dengan fakta.