Di balik jeruji penjara, ada keluarga yang ikut menjalani hukuman

August 2026 · 5 minute read

● Penjara mengubah kehidupan seluruh anggota keluarga, bukan hanya mereka yang menjalani hukuman.

● Media sosial menjadi ruang mempertahankan hubungan dan ingatan dari balik jeruji.

● Kerja perawatan keluarga menunjukkan dampak pemenjaraan yang sering tak terlihat.


Semuanya bermula dari sebuah notifikasi di Instagram.

Seorang teman lama—atau lebih tepatnya seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak saya dengar kabarnya—mengirim permintaan untuk mengikuti akun saya. Sebut saja namanya Lupus. Saya menerimanya begitu saja. Keesokan harinya, sebuah pesan masuk: “Follow back, Pak.”

Saya pun mengikuti balik. Tidak ada yang istimewa. Namun beberapa hari kemudian, story Instagram Lupus mulai muncul di layar ponsel saya. Awalnya hanya foto makanan, potongan lagu, lelucon, dan percakapan sehari-hari. Sampai saya menyadari satu hal: dinding di belakangnya selalu sama, ruangannya sempit, dipenuhi laki-laki, dan sesekali terlihat pintu besi.

Lupus ternyata mengunggah kisahnya dari dalam penjara.

Yang menarik bukan sekadar bagaimana ia bisa mengakses smartphone untuk bermedia sosial, melainkan betapa biasa kehidupan yang ia tampilkan. Ia tetap bercanda, mendengarkan musik, dan berinteraksi dengan teman.

Dari sana, saya mulai melihat penjara bukan hanya sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat orang tetap membangun relasi dan mempertahankan identitas.

Penelitian tentang budaya penjara menunjukkan bahwa kehidupan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya dibentuk oleh aturan formal, tetapi juga hubungan personal dan berbagai kesepakatan informal.

Kisah Lupus memperlihatkan sisi lain dari kehidupan sosial tersebut: bagaimana relasi bahkan terus bekerja ketika seseorang berada di balik jeruji.

Ketika akun berubah menjadi arsip

Suatu hari, story Lupus berhenti.

Saya tidak tahu apakah telepon genggamnya disita, aksesnya dibatasi, atau perangkat itu berpindah tangan. Akunnya tetap aktif, tetapi suara yang bercerita bukan lagi suaranya.

bagaimana kehidupan narapidana di penjara indonesia.

Seorang ibu memeluk anaknya usai mendapatkan remisi bebas di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Tangerang, Tangerang, Banten. Muhammad Iqbal/Antara Foto

Kini, akun tersebut tampaknya dikelola oleh sang kekasih. Foto-foto kehidupan di penjara berganti menjadi foto lama mereka berdua, tangkapan layar percakapan, dan tulisan tentang rindu serta beratnya mempertahankan hubungan dari luar penjara.

Akun yang sama pun berubah fungsi. Jika sebelumnya menjadi jendela kecil untuk melihat kehidupan Lupus di dalam penjara, kini ia menjadi arsip sebuah hubungan yang terputus oleh pemenjaraan.

Riset tahun 2025 menemukan bahwa arsip surat-surat penjara dapat menjadi cara keluarga mempertahankan hubungan dan ingatan ketika seseorang dipisahkan oleh tembok penjara. Akun Lupus menjalankan fungsi serupa dalam bentuk digital.

Ironisnya, ketika Lupus tidak lagi bisa menceritakan hidupnya sendiri, ketidakhadirannyalah justru menjadi pusat cerita.

Kering tempe dan kerja merawat

Dalam kasus-kasus seperti ini, ada satu jenis unggahan yang terus berulang: kunjungan ke penjara.

Suatu hari, sang kekasih mengunggah foto gerbang lembaga pemasyarakatan. Unggahan lain memperlihatkan percakapan dengan ibu Lupus tentang apa yang perlu dibawa saat menjenguk. Ibunya menyiapkan kering tempe, sementara sang kekasih membawa sabun, pasta gigi, dan perlengkapan mandi.

Sekilas, semua itu tampak sepele. Namun justru dari detail tersebut terlihat bahwa kehidupan seseorang di dalam penjara tetap ditopang oleh kerja perawatan dari luar.

Penjara mengubah kasih sayang menjadi persoalan logistik: barang harus diperiksa, kunjungan harus mengikuti jadwal, dan kebutuhan sehari-hari (termasuk makanan seperti kering tempe) harus dikirim melalui prosedur yang berlaku.

Secara hukum, Lupus memang yang menjalani hukuman. Namun, kehidupan orang-orang terdekatnya ikut menyesuaikan diri dengan keberadaan penjara.

Hukuman yang menjalar ke luar

Kondisi ini mengingatkan pada konsep secondary prisonisation (pemenjaraan sekunder), bahwa dampak pemenjaraan juga dirasakan oleh orang-orang yang merawat narapidana dari luar. Sebab, mereka harus menyesuaikan hidup dengan jadwal kunjungan, prosedur keamanan, keterbatasan ekonomi, dan tekanan emosional.

Kisah Lupus memperlihatkan hal serupa. Penjara menentukan kapan kekasihnya bisa bertemu dengannya, apa yang boleh dibawa, bahkan bagaimana hubungan mereka dirawat.

Menariknya, sebagian besar kerja perawatan dalam kisah ini dilakukan oleh perempuan. Ibu Lupus menyiapkan makanan dan kebutuhan anaknya. Sang kekasih datang menjenguk, membawa barang, menjaga komunikasi, sekaligus mempertahankan kenangan hubungan mereka.

Riset tahun 2020 mengenai perempuan yang dipenjara di Indonesia juga menunjukkan pentingnya hubungan dan kisah cinta dalam menghadapi penderitaan pemenjaraan. Dalam kasus Lupus, kerja menjaga hubungan bahkan dilakukan oleh orang yang berada di luar penjara.

napi narkoba di penjara

Beberapa warga binaan pemasyarakatan (WBP) risiko rendah dan petugas menyaksikan pertandingan final Piala Dunia di Lapas Narkotika Kelas II B Muara Sabak, Tanjung Jabung Timur, Jambi. Wahdi Septiawan/Antara Foto

Siapa yang berhak menceritakan?

Perubahan akun Lupus juga menimbulkan pertanyaan lain: siapa yang berhak menceritakan pengalaman seseorang yang dipenjara?

Ketika masih memiliki akses ke telepon, Lupus dapat menentukan bagaimana menampilkan kehidupannya. Ia hadir sebagai subjek yang menceritakan dirinya sendiri.

Ketika akses itu hilang, ia berubah menjadi tokoh yang diceritakan oleh orang lain.

Sang kekasih mengambil alih peran tersebut melalui foto lama, percakapan, dan catatan tentang kerinduan. Media sosial menjadi ruang untuk mempertahankan kehadiran seseorang yang secara fisik tidak dapat hadir.

Namun, setiap foto lama sekaligus mengingatkan bahwa mereka tidak lagi dapat membuat foto baru bersama. Setiap tangkapan layar percakapan menunjukkan bahwa hubungan mereka telah berubah.

Media sosial dapat mempertemukan dunia di dalam dan luar penjara, tetapi tidak menghapus batas yang diciptakan oleh pemenjaraan.

Penjara yang melampaui tembok

Awalnya saya mengira sedang mengikuti kisah seseorang yang hidup di dalam penjara. Belakangan saya sadar bahwa yang saya lihat jauh lebih luas: bagaimana hukuman seseorang ikut mengubah kehidupan orang-orang yang tetap berada di luar.

Semua itu terlihat melalui hal-hal sederhana—sebuah foto gerbang, tangkapan layar percakapan, sekotak kering tempe, perlengkapan mandi, dan kenangan yang terus diunggah.

Lupus memang berada di balik jeruji. Namun ibunya tetap memasak, kekasihnya tetap menjenguk, dan keduanya terus menjaga agar ia tidak terputus dari kehidupan di luar.

Penjara memang membatasi kebebasan seseorang. Tetapi dampaknya tidak berhenti pada orang yang dikurung. Hukuman itu juga dijalani—dalam berbagai bentuknya—oleh mereka yang menunggu, mengirim makanan, datang menjenguk, menjaga kenangan, dan merawat hubungan dari seberang tembok penjara.