Demo Besar-Besaran Tolak Data Center, Warga Sudah Resah

July 2026 · 4 minute read

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Amerika Serikat (AS) menggelar aksi demonstrasi besar-besaran untuk menolak pembangunan data center yang terus dilakukan demi perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Aksi tersebut berlangsung di 142 lokasi yang tersebar di 42 negara bagian pada Sabtu (18/7). Demonstrasi ini menjadi upaya nasional pertama untuk menyalurkan keresahan masyarakat terhadap ekspansi infrastruktur AI yang meningkat pesat dalam setahun terakhir dan mulai memicu gejolak politik lokal.

Kelompok HumansFirst mengoordinasikan aksi tersebut. Kelompok ini didirikan bersama oleh Amy Kremer, mantan pemimpin gerakan Tea Party modern.

Kremer membandingkan meningkatnya penolakan terhadap data center dengan gerakan populis sayap kanan yang muncul pada 2009 untuk memprotes kebijakan yang dianggap membebani masyarakat melalui pajak berlebihan dan campur tangan pemerintah.

Para demonstran memprotes pembangunan data center yang disebut HumansFirst sebagai pembangunan yang tidak akuntabel dan sebagai pelanggaran yang tidak dapat diterima terhadap kebebasan mereka.

Di Fredericksburg, Virginia, seorang pemuda membawa poster bertuliskan, "Kami hidup dari air, bukan data."

Sementara itu, sejumlah kecil demonstran di Atlanta membawa poster bertuliskan, "Georgia tidak pernah memilih data center AI hyperscale."

Chris Barron, Presiden Right Turn Strategies yang menangani hubungan media HumansFirst, mengatakan jumlah demonstran secara nasional maupun di masing-masing kota belum dapat segera dipastikan.

Sejumlah pengorganisasi aksi mengatakan jumlah peserta di beberapa wilayah pedesaan dan kota besar seperti Atlanta berada di bawah perkiraan. Meski demikian, HumansFirst tetap memuji aksi para aktivis komunitas.

Pilihan Redaksi

"Kami sangat senang dengan jumlah peserta yang hadir," kata Barron, dikutip dari Reuters, Selasa (21/7/2026).

Penolakan terhadap pembangunan data center menjadi salah satu dari sedikit isu yang mampu menyatukan warga Amerika dari berbagai spektrum politik. Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Juni, hanya sekitar sepertiga warga AS yang menyetujui laju pembangunan data center di negara tersebut.

Bahkan, hanya 14% responden yang mendukung pembangunan data center di komunitas mereka untuk menopang proyek AI perusahaan teknologi seperti Meta, Alphabet, Amazon, Microsoft, dan xAI milik Elon Musk.

Josh Levi, Presiden Data Center Coalition, kelompok asosiasi dan lobi industri data center, mengatakan industri terus berupaya berdialog dengan pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat.

"Industri data center terus bekerja sama dengan pembuat kebijakan, pemangku kepentingan, dan warga untuk memastikan data center memperkuat, bukan membebani, wilayah tempat mereka beroperasi, sembari memitigasi dampak negatif terhadap rumah tangga dan bisnis," kata Levi.

Meski Kremer membandingkan gerakan penolakan data center dengan gerakan Tea Party pada 2009, dia menegaskan bahwa kemarahan terhadap pembangunan data center tidak berpihak pada partai politik tertentu.

"Mereka tiba-tiba terbangun pada suatu hari dan mengetahui bahwa mereka akan memiliki monster ini di komunitas mereka, dan mereka tidak menginginkannya," kata Kremer.

Dia memprediksi isu pembangunan data center akan menjadi salah satu isu penting dalam pemilihan umum sela AS pada November serta pemilihan presiden 2028.

Kremer juga pernah mengkritik Partai Republik karena dianggap memberikan "jalan bebas" bagi perusahaan teknologi besar. Namun, dia dan sejumlah pengorganisasi aksi juga tidak mendukung kebijakan moratorium persetujuan pembangunan data center seperti yang diterapkan di negara bagian New York yang dikuasai Partai Demokrat.

Kelompok-kelompok penyelenggara aksi menuntut transparansi dalam proses pembangunan, perlindungan terhadap sumber daya alam dan kesehatan lingkungan, manfaat bagi masyarakat seperti penciptaan lapangan kerja dengan upah tinggi dan serikat pekerja, serta mekanisme untuk meminta pertanggungjawaban pengembang jika mereka melanggar janji.

Texas, yang menjadi basis kuat Partai Republik sekaligus salah satu pusat pembangunan data center terbesar di AS, menggelar 18 aksi demonstrasi. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak dibandingkan negara bagian lain.

Georgia menggelar 11 aksi, California delapan aksi, sementara Pennsylvania, Florida, dan Indiana masing-masing menggelar tujuh aksi.

Aksi di Atlanta pada Sabtu menjadi salah satu dari sejumlah demonstrasi serupa yang berlangsung bulan ini. Sekitar 12 orang mengikuti aksi tersebut, termasuk warga yang datang dari kota-kota kecil di Georgia tempat sejumlah data center terbesar sedang dibangun.

(fab/fab)

Add

as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]