MEREKA hanya ingin hiburan. Tidak paham gejolak negeri. Nasib mereka sangat malang, tewas ditabrak mobil balapan. Seandainya yang ditabrak itu para koruptor, pasti negeri ini tepuk tangan.
Minggu 9 Agustus 2026, sekitar pukul 15.50 WITA, di Kotamobagu, suara mesin berubah menjadi jeritan. Sorak berubah menjadi tangisan. Arena balap berubah menjadi tempat orang menghitung kehilangan.
Kejuaraan Daerah Drag Race Kotamobagu Championship 2026 di sirkuit non-permanen Jalan AP Mokoginta, Kelurahan Upai, Kotamobagu Utara, mendadak menjadi panggung tragedi.
Tian Ngantung, pembalap dari tim Pangeran 05 McJoe, melaju dengan Honda Jazz di kelas Free For All (FFA). Setelah melewati garis finis, mobil memasuki zona pengereman sepanjang sekitar 100 meter.
Namun sesuatu terjadi. Mobil mengalami crash, keluar jalur, lalu menghantam kerumunan penonton.
Delapan orang meninggal dunia. Sembilan lainnya terluka. Delapan mengalami luka berat, satu luka ringan.
Delapan. Angka tampak sederhana ketika ditulis dalam laporan. Tetapi di balik angka itu ada delapan keluarga kehilangan dunia.
Ada rumah malam itu menunggu seseorang pulang, tetapi pintunya tidak pernah lagi diketuk. Ada ponsel mungkin terus menyimpan nama seseorang tak akan pernah lagi menjawab panggilan.
Ada anak mungkin bertanya, “Ayah kapan pulang?” dan tidak tahu, jawaban terakhirnya adalah peti mati.
Mereka bukan pejabat. Bukan koruptor. Bukan politikus. Mereka rakyat biasa datang menonton balapan.
Mereka tidak datang untuk memilih siapa berkuasa. Tidak datang untuk berebut proyek. Tidak datang membawa proposal anggaran. Mereka hanya ingin hiburan. Ironisnya, hiburan itu berakhir dengan delapan nyawa.
Seandainya yang ditabrak para koruptor, mungkin negeri ini sudah menggelar tepuk tangan nasional. Media sosial barangkali berubah menjadi pesta. Netizen mungkin berlomba membuat meme: “Akhirnya OTT tercepat sepanjang sejarah.”
Sayangnya, yang tertabrak adalah orang kecil. Yang terdengar bukan tepuk tangan. Yang terdengar adalah tangisan ibu, jeritan keluarga, dan kalimat birokrasi yang selalu datang setelah semuanya terlambat: “Ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak.”
Pembelajaran? Delapan manusia harus mati agar kita belajar tentang keselamatan? Kalau begitu, mahal sekali biaya kuliah bangsa ini.
Kapolda Sulawesi Utara Irjen Roycke Harry Langie menyatakan kasus ditarik ke tingkat Polda Sulut untuk memastikan penyelidikan berlangsung transparan dan menyeluruh. Semua pihak terkait akan diperiksa.
Tian Ngantung berpotensi menjadi tersangka jika ditemukan unsur kelalaian atau kealpaan menyebabkan kematian berdasarkan Pasal 359 KUHP.
Hingga 10 Agustus, ia belum dapat diperiksa karena masih menjalani perawatan intensif di Manado akibat luka serius pada wajah.
Penyidik telah memeriksa lima orang saksi, termasuk pembalap tersebut. Ketua Panitia Lucky Sugeha menyatakan siap bertanggung jawab penuh, terutama menanggung biaya pengobatan korban yang dirawat di rumah sakit.
Namun panitia tetap diperiksa terkait aspek keamanan dan perizinan. UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan juga menjadi sorotan karena penggunaan jalan umum di luar fungsi utamanya membawa konsekuensi tanggung jawab atas segala akibat yang timbul.
Kini semuanya berada di tangan proses hukum. Semoga transparan. Semoga akuntabel. Semoga tidak berhenti pada konferensi pers. Sebab delapan nyawa tidak bisa dikembalikan dengan kalimat “kami prihatin”.
Keluarga korban tidak membutuhkan pidato panjang. Mereka membutuhkan keadilan. Bangsa ini membutuhkan satu hal yang lebih penting dari sekadar belajar setelah tragedi, jangan sampai keselamatan rakyat selalu menjadi prioritas setelah rakyat terlebih dahulu menjadi korban.
Delapan orang telah pergi. Jangan biarkan mereka mati untuk kedua kalinya. Pertama karena tragedi, kedua karena dilupakan.
Rosadi Jamani
Mantan Wartawan