Dekat khatulistiwa, Observatorium Timau jadi unggulan pantau antariksa

October 2026 · 2 minute read

Jakarta (ANTARA) - Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikelola oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dinilai memiliki keunggulan geografis yang sangat strategis bagi komunitas sains global dalam mengamati pergerakan sampah antariksa.

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Andre Pandie dalam diskusi astronomi yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat mengemukakan tata letak yang berdekatan dengan garis ekuator tersebut memberikan sudut pandang langit yang jauh lebih jernih dan sangat menguntungkan bagi para astronom.

"Jadi satelit-satelit yang ada di geo tadi kayak satelit TV, satelit komunikasi, itu mereka akan berjajar tepat di atas garis khatulistiwa. Kalau dari Eropa, deretan satelit itu tampak rendah di pengamatan mereka," kata dia.

Doktor teknik kedirgantaraan dari Tokyo Metropolitan University, Jepang itu memaparkan kondisi di Eropa mengharuskan cahaya teleskop menembus lapisan udara yang hampir dua kali lebih tebal, berbanding terbalik dengan kemudahan pemantauan langsung dari langit Nusantara.

Baca juga: BRIN sebut Observatorium Timau dapat memperkaya pengetahuan antariksa

"Kalau dari Indonesia, deretan itu melintas hampir tepat di atas kepala kita, jadi mudah untuk kita amati," ujar dia melanjutkan.

Selain letak lintangnya, kata Andre, keunggulan kedua dari fasilitas riset kebanggaan Indonesia tersebut terletak pada jarak sudut pandangnya (field of view) yang sangat luas karena berada di belahan bumi selatan.

Pengoperasian teleskop raksasa berukuran 3,8 meter di Observatorium Timau ini memungkinkan terjadinya pengamatan silang dengan fasilitas astronomi dunia lainnya, seperti Observatorium Zimmerwald di Swiss.

Menurut dia, sinergi sudut pandang antarbenua sangat vital lantaran waktu malam hari di bumi terjadi secara bergantian, sehingga pemantauan lintasan satelit harus dilakukan secara berkesinambungan tanpa putus.

Andre berharap kehadiran Observatorium Timau tidak sebatas menjadi katalog data secara mandiri, melainkan menjadi wujud nyata kontribusi aktif Indonesia dalam menjaga keselamatan jalur orbit bumi lewat kolaborasi internasional.

Baca juga: BRIN: Observatorium Timau perkuat kolaborasi riset internasional

Baca juga: Observatorium Timau dilengkapi teleskop 3,8 meter dan sensor geomagnet

Baca juga: Peneliti: Observatorium Timau bisa mengamati planet di luar tata surya

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.