Dari penjual gorengan ke kepala desa: amanah baru Ayatulloh dimulai - ANTARA News Megapolitan

September 2026 · 7 minute read

Bekasi (ANTARA) - Aroma gorengan dari wajan menjadi bagian dari keseharian Ayatulloh jauh sebelum namanya dikenal dalam kontestasi pemilihan kepala desa Pahlawan Setia, Kabupaten Bekasi.

Dari aktivitas sederhana itu, ia menjalani kehidupan sebagai warga biasa yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dan bersentuhan dengan berbagai persoalan sehari-hari.

Kini, ruang kehidupannya berubah. Setelah memenangkan pemilihan kepala desa (Pilkades) Pahlawan Setia, Ayatulloh menghadapi tanggung jawab baru sebagai kepala desa.

Dalam pemilihan tersebut, Ayatulloh yang maju sebagai calon nomor urut 2 memperoleh 4.174 suara. Ia mengungguli calon nomor urut 1 Zainal Abidin yang memperoleh 3.434 suara dan calon nomor urut 3 Zaid Husain dengan 2.248 suara.

Perolehan suara itu mengantarkannya ke kantor desa. Namun, kemenangan dalam kontestasi politik di tingkat desa sekaligus membuka tahap baru yang berbeda: menerjemahkan gagasan selama masa pemilihan menjadi program dan pelayanan yang dapat dirasakan masyarakat.

Ayatulloh mengatakan kepemimpinan desa harus dimulai dari kesediaan mendengarkan masyarakat dan memahami persoalan yang mereka hadapi.

"Yang saya mau itu mendengarkan suara masyarakat. Program apa yang memang turun dari masyarakat, itu yang harus diperhatikan," kata Ayatulloh.

Ia juga menyebut transparansi anggaran dan program sebagai bagian dari tata kelola pemerintahan desa yang ingin dijalankannya.

"Transparansi anggaran, transparansi program. Masyarakat harus tahu programnya apa, anggarannya berapa, dan untuk apa," ujarnya.

Dari tempat berjualan ke ruang pelayanan warga

Bagi seorang pedagang, bertemu masyarakat merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari. Interaksi tersebut sekaligus membuat seseorang berhadapan dengan berbagai cerita warga, mulai dari persoalan ekonomi keluarga hingga kebutuhan sosial di lingkungan.

Pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan Ayatulloh sebelum memasuki pemerintahan desa.

Kini, ia mengatakan pola interaksi langsung dengan masyarakat tersebut perlu diterapkan dalam menjalankan tugas sebagai kepala desa.

Menurut Ayatulloh, kepala desa tidak cukup hanya menjalankan aktivitas dari kantor. Kondisi warga di lingkungan juga perlu diketahui melalui perangkat pemerintahan yang berada paling dekat dengan masyarakat, mulai dari kepala dusun, rukun warga (RW), hingga rukun tetangga (RT).

"Kalau ada warga sakit, kepala desa harus turun. Ada warga yang meninggal atau punya hajatan, kepala desa juga harus hadir. Itu bagian dari perhatian kepada masyarakat," katanya.

Ia juga menilai persoalan yang bersifat mendesak tidak selalu harus menunggu rapat rutin untuk mendapatkan respons.

"Kalau masalahnya urgent, langsung sampaikan ke kepala desa. Misalnya ada warga sakit kronis atau ada yang melahirkan, jangan menunggu rapat mingguan," ujarnya.

Dalam pandangannya, perangkat desa memiliki peran penting karena berhubungan langsung dengan warga.

"Kadus, RW, RT harus mementingkan warganya. Ibarat kata, daun jatuh harus tahu. Tanya, masalah elu apa," kata Ayatulloh.

Ia mengakui menjalankan peran tersebut membutuhkan kepedulian dari seluruh perangkat pemerintahan desa.

"Siap enggak kita berjuang untuk warga kita? Itu yang penting. Walaupun honor RT, RW, atau Kadus kecil, mereka harus tetap punya kepedulian kepada masyarakat," ujarnya.

Pandangan mengenai kedekatan dengan masyarakat juga disampaikan Luki (35), warga Tambun Sungai Angke, Pahlawan Setia.

Menurut Luki, sebagian anak muda yang mendukung Ayatulloh berharap terjadi perubahan di lingkungan mereka, terutama dalam persoalan kebersihan, kondisi jalan, dan penerangan.

"Anak-anak muda yang memilih Ayatulloh menginginkan perubahan. Mereka ingin lingkungan Pahlawan Setia lebih baik, terutama dari sisi kebersihan, jalan dan lampu penerangan," kata Luki.

Ia mengatakan Ayatulloh telah berinteraksi dengan kalangan muda sebelum mencalonkan diri sebagai kepala desa.

"Dia merakyat dan mudah bergaul. Sebelum mencalonkan diri sebagai kepala desa, dia juga sudah sering merangkul anak-anak muda," ujarnya.

Namun, setelah pemilihan berakhir, harapan tersebut berhadapan dengan tahap yang lebih konkret, yakni pelaksanaan program.

Dari janji kampanye menuju pekerjaan yang harus dibuktikan

Bagi Muhammad (42), warga Pahlawan Setia, kemenangan dalam pemilihan bukanlah akhir dari perhatian masyarakat. Justru setelah pemilihan selesai, warga akan melihat bagaimana program yang disampaikan selama proses pencalonan diterjemahkan dalam pekerjaan pemerintahan desa.

"Yang penting sekarang bukan hanya janji atau program yang disampaikan. Masyarakat ingin melihat bagaimana program itu benar-benar direalisasikan," kata Muhammad.

Ia memahami pembangunan dan pelayanan desa membutuhkan proses. Karena itu, menurutnya, pemerintahan baru perlu diberi ruang untuk bekerja. Namun, perkembangan program tetap perlu diketahui masyarakat secara terbuka.

"Kalau memang ada program untuk perbaikan jalan, penerangan, kebersihan atau pelayanan masyarakat, ya harus ada realisasinya. Masyarakat bisa melihat dan menilai dari hasilnya," ujarnya.

Bagi Muhammad, keterbukaan mengenai program dan anggaran juga penting agar masyarakat dapat mengetahui tahapan pelaksanaan sekaligus ikut mengawasinya.

"Kalau anggaran dan program dibuka kepada masyarakat, warga bisa ikut mengawasi. Jadi bukan sekadar bicara program, tetapi masyarakat tahu kapan dilaksanakan dan seperti apa hasilnya," katanya.

Ia menilai tanggung jawab tersebut tidak hanya berada di tangan kepala desa, tetapi juga perangkat pemerintahan di tingkat dusun, RW, dan RT.

"Yang ditunggu masyarakat adalah kerja nyata. Kepala desa, Kadus, RW dan RT harus bersama-sama menjalankan program dan melayani masyarakat," ujarnya.

Pandangan tersebut menempatkan pemerintahan baru Pahlawan Setia pada fase yang berbeda setelah kontestasi. Jika selama pemilihan warga menentukan pilihan berdasarkan informasi, pertimbangan, dan program yang ditawarkan para calon, setelah pemilihan perhatian bergeser kepada pelaksanaan.

Ayatulloh sendiri menyebut sejumlah agenda yang ingin didorong selama memimpin desa.

Salah satunya berkaitan dengan penyediaan tempat pemakaman umum (TPU) bagi masyarakat dengan memanfaatkan tanah kas desa (TKD). Menurut dia, pelaksanaannya perlu ditempuh melalui musyawarah desa serta mengikuti ketentuan mengenai perubahan peruntukan aset desa.

"Salah satu yang ingin kami perjuangkan adalah menyediakan TPU untuk masyarakat. Tujuannya untuk memudahkan masyarakat," katanya.

Ia juga menyebut persoalan status tanah warga yang telah lama menempati tanah kas desa sebagai salah satu hal yang ingin mendapat perhatian.

"Sudah berpuluh-puluh tahun warga hidup di tanah TKD dan itu statusnya belum jelas. Itu yang ingin saya bantu," kata dia.

Menurut Ayatulloh, warga yang telah tinggal selama bertahun-tahun di atas tanah tersebut perlu mendapat perhatian terkait kepastian status tanah sesuai ketentuan yang berlaku.

Agenda lain yang disebutnya adalah mengaktifkan kembali karang taruna sebagai wadah kegiatan pemuda.

Di bidang pelayanan publik, ia mengatakan pengurusan administrasi kependudukan, termasuk data pindah, kartu keluarga (KK), kartu tanda penduduk (KTP), dan dokumen lainnya, perlu dilakukan secara mudah dan transparan serta tanpa pungutan di luar ketentuan.

"Pelayanan publik harus ditingkatkan. Mengurus pindah, KK, KTP, data kependudukan harus mudah dan tidak dipungut biaya yang tidak semestinya," katanya.

Transparansi dan infrastruktur, 

Transparansi anggaran menjadi salah satu isu yang ditekankan Ayatulloh. Ia mengatakan informasi mengenai program dan penggunaan anggaran desa akan disampaikan melalui media sosial resmi desa.

"Anggaran desa harus transparan. Program-program desa dan penggunaan anggarannya akan kami umumkan melalui media sosial resmi desa supaya masyarakat bisa mengetahui," ujarnya.

Selain tata kelola pemerintahan, sejumlah persoalan fisik di lingkungan desa juga masuk dalam agenda yang disebutnya, seperti perbaikan jalan, saluran air atau selokan, penerangan lingkungan, dan kebersihan sungai.

"Infrastruktur juga menjadi perhatian, baik jalan, lampu penerangan maupun kebersihan sungai. Semua itu harus diperbaiki dan ditingkatkan secara bertahap," katanya.

Berbagai agenda tersebut menunjukkan luasnya pekerjaan yang harus dihadapi pemerintahan desa setelah pergantian kepemimpinan. Sebagian berkaitan dengan infrastruktur, sementara lainnya menyangkut pelayanan publik, kepastian administrasi pertanahan, keterbukaan anggaran, hingga keterlibatan masyarakat.

Bagi warga, persoalan tersebut tidak berhenti pada daftar program. Pelaksanaannya akan menjadi bagian dari penilaian masyarakat terhadap pemerintahan yang baru.

Luki berharap perubahan yang diharapkan warga dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

"Harapannya Desa Pahlawan Setia bisa lebih bagus dan lebih rapi," ujarnya.

Sementara itu, Muhammad menempatkan keterbukaan dan pelaksanaan program sebagai bagian penting dari hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat.

Perjalanan Ayatulloh dari gerobak gorengan menuju balai desa menyimpan cerita tentang perubahan hidup sekaligus perubahan tanggung jawab.

Gerobak gorengan menjadi bagian dari perjalanan masa lalunya. Kini, balai desa menjadi tempat ia membawa harapan dan mandat warga ke dalam ruang yang berbeda-ruang tempat gagasan harus diterjemahkan menjadi pelayanan, kebijakan, dan kerja nyata.

Kemenangan dalam pemilihan pun bukanlah akhir dari perjalanan. Justru dari sanalah tanggung jawab baru dimulai.

Program yang pernah disampaikan kepada warga kini berhadapan dengan kebutuhan masyarakat, aturan pemerintahan, keterbatasan anggaran, dan tuntutan untuk dikerjakan secara terbuka.

Bagi Muhammad, proses tersebut membutuhkan waktu sekaligus ruang bagi masyarakat untuk ikut mengawasi. Bagi Ayatulloh, mandat yang telah diberikan warga membawa satu konsekuensi sederhana: kepercayaan harus dijawab dengan kerja.

Pada akhirnya, perjalanan dari gerobak gorengan ke balai desa bukan semata-mata tentang perubahan pekerjaan atau jabatan. Ini adalah tentang bagaimana seseorang menjalani babak baru setelah dipercaya masyarakat.

Suara warga mungkin hanya diberikan sekali di bilik pemilihan. Namun, amanah yang lahir dari suara itu harus dijaga dan dibuktikan setiap hari. Dan dari sanalah cerita sebenarnya dimulai.

Editor : Feru Lantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.