Jakarta (ANTARA) - ADHD atau Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder sering kali hanya dikenal sebagai kondisi ketika seseorang sulit berkonsentrasi, banyak bergerak, atau mudah terdistraksi. Padahal, pengalaman orang dengan ADHD bisa jauh lebih kompleks dari sekadar sulit fokus.
Bagi pengidap ADHD, aktivitas yang terlihat sederhana bagi orang lain, seperti menyelesaikan pekerjaan, mengingat janji, mengikuti percakapan atau mengatur waktu, terkadang membutuhkan usaha yang lebih besar.
Kementerian Kesehatan menjelaskan ADHD sebagai gangguan perkembangan saraf yang umumnya mulai terlihat sejak masa kanak-kanak dan dapat berlanjut hingga dewasa. Gejalanya dapat berupa kesulitan memperhatikan, perilaku impulsif dan hiperaktif. Namun, tidak semua orang dengan ADHD menunjukkan gejala yang sama.
Baca juga: Giselle aespa cerita berat badan hingga gejala ADHD
Baca juga: Bermain gawai bukan penyebab anak alami ADHD dan autisme
Lantas, seperti apa sebenarnya yang bisa dirasakan seseorang dengan ADHD?
1. Pikiran mudah berpindah dari satu hal ke hal lain
Salah satu pengalaman yang umum pada ADHD adalah sulit mempertahankan perhatian. Bukan berarti seseorang tidak ingin mendengarkan atau tidak peduli dengan pembicaraan yang sedang berlangsung.
Perhatian mereka dapat dengan mudah berpindah ketika ada suara, benda, pikiran atau hal lain yang dianggap menarik. Akibatnya, seseorang bisa saja mulai mengerjakan sesuatu, kemudian terdistraksi dan baru menyadari beberapa waktu kemudian bahwa pekerjaan tersebut belum selesai.
CDC menjelaskan bahwa orang dengan ADHD dapat mengalami kesulitan mengatur perhatian, menyelesaikan tugas yang panjang, mengikuti instruksi serta mengorganisasi berbagai aktivitas.
2. Pekerjaan yang membosankan terasa sangat sulit untuk dimulai
Hal lain yang sering disalahpahami adalah anggapan bahwa orang dengan ADHD sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.
Faktanya, seseorang dengan ADHD tetap dapat memiliki kemampuan untuk fokus. Masalahnya, mempertahankan perhatian pada tugas tertentu bisa menjadi lebih sulit, terutama ketika pekerjaan tersebut dianggap membosankan, berulang atau membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan.
NIMH menyebut orang dewasa dengan ADHD dapat mengalami kesulitan menyelesaikan proyek besar, mengatur waktu, mengikuti instruksi dan mempertahankan fokus pada sebuah tugas.
Karena itu, dari luar seseorang mungkin terlihat seperti menunda pekerjaan. Padahal, persoalannya tidak selalu sesederhana malas atau tidak mau mengerjakan.
Baca juga: Kenali ADHD pada anak dan ketahui terapinya
3. Hal kecil bisa terlupakan begitu saja
Pernah masuk ke sebuah ruangan tetapi lupa ingin mengambil apa? Pada ADHD, pengalaman seperti lupa tugas, janji, barang atau detail tertentu dapat terjadi lebih sering dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Seseorang mungkin sudah berniat melakukan sesuatu, tetapi perhatiannya berpindah sebelum tugas tersebut selesai. Akibatnya, pekerjaan bisa tertunda atau bahkan terlupakan.
Kondisi ini berkaitan dengan kesulitan dalam perhatian, organisasi dan pengelolaan tugas yang menjadi bagian dari gejala ADHD.
4. Ada rasa gelisah yang sulit dijelaskan
ADHD tidak selalu ditandai dengan seseorang yang terus berlari atau tidak bisa diam.
Pada remaja dan orang dewasa, hiperaktivitas dapat berubah menjadi rasa gelisah dari dalam. Misalnya, sulit duduk diam dalam waktu lama, sering menggoyangkan kaki, memainkan benda di tangan atau merasa membutuhkan aktivitas tertentu.
CDC menyebut hiperaktivitas pada orang dewasa dapat muncul sebagai kegelisahan atau restlessness, sementara NIMH juga mencatat adanya kebutuhan untuk terus bergerak atau mencari stimulasi.
5. Dorongan untuk melakukan sesuatu bisa muncul sebelum sempat berpikir
ADHD juga berkaitan dengan impulsivitas. Artinya, seseorang dapat melakukan atau mengatakan sesuatu secara spontan sebelum sempat mempertimbangkan akibatnya.
Contohnya, menyela pembicaraan, sulit menunggu giliran atau mengambil keputusan secara cepat. Setelah itu, orang tersebut bisa saja baru menyadari bahwa tindakannya kurang tepat.
Namun, perilaku impulsif bukan berarti seseorang sengaja ingin mengganggu orang lain. Impulsivitas merupakan salah satu kelompok gejala ADHD yang berkaitan dengan kesulitan mengendalikan respons secara konsisten.
6. Mengatur waktu dan menyelesaikan tugas bisa terasa melelahkan
Bagi sebagian orang dengan ADHD, persoalannya bukan hanya “apa yang harus dikerjakan”, tetapi juga bagaimana memulai, mengurutkan dan menyelesaikannya.
Tugas yang memiliki banyak tahapan dapat terasa membingungkan. Ketika pekerjaan menumpuk, seseorang juga bisa semakin sulit menentukan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Baca juga: Dokter: Pahami ciri-ciri anak berkebutuhan khusus sejak dini
NIMH mencatat bahwa ADHD pada orang dewasa dapat berkaitan dengan masalah manajemen waktu, perencanaan, organisasi, menunda pekerjaan dan menyelesaikan proyek.
7. Emosi juga bisa terasa lebih sulit dikendalikan
Pengalaman ADHD tidak hanya berkaitan dengan perhatian dan aktivitas fisik. NIMH mencatat sebagian orang dewasa dengan ADHD dapat mengalami toleransi yang rendah terhadap frustrasi atau perubahan suasana hati yang lebih sering dan intens.
Hal ini bukan berarti setiap orang dengan ADHD pasti mengalami masalah emosi. Pengalaman setiap individu berbeda dan kondisi lain juga dapat muncul bersamaan dengan ADHD.
Karena itu, ADHD tidak sebaiknya disederhanakan sebagai persoalan perilaku semata.
Semua pengalaman tersebut bisa memengaruhi kehidupan sehari-hari
Jika gejala terjadi terus-menerus dan cukup berat, dampaknya dapat terasa di berbagai bidang kehidupan.
Di sekolah, seseorang bisa kesulitan mengikuti instruksi atau menyelesaikan tugas. Di tempat kerja, masalah organisasi dan fokus dapat membuat pekerjaan lebih sulit diselesaikan. Dalam hubungan sosial, impulsivitas atau sulit memperhatikan percakapan juga dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Kementerian Kesehatan menyebut gejala ADHD dapat memengaruhi kehidupan di rumah, sekolah, pekerjaan maupun hubungan dengan orang lain.
Namun, mengalami beberapa kondisi tersebut sesekali bukan berarti seseorang pasti memiliki ADHD.
Kesulitan berkonsentrasi, lupa, gelisah atau menunda pekerjaan dapat dialami banyak orang. ADHD memiliki pola gejala yang menetap dan berdampak pada kehidupan sehari-hari di lebih dari satu situasi.
Diagnosis ADHD juga tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu gejala atau tes sederhana. CDC dan Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa proses diagnosis melibatkan beberapa tahap dan tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa, seperti gangguan tidur, kecemasan, depresi atau kesulitan belajar.
Karena itu, seseorang yang merasa memiliki sejumlah gejala ADHD sebaiknya tidak langsung menyimpulkan dirinya mengidap kondisi tersebut berdasarkan konten media sosial atau daftar gejala di internet.
ADHD merupakan kondisi perkembangan saraf yang dapat ditangani. Dengan diagnosis yang tepat dan dukungan yang sesuai, seseorang dengan ADHD dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
Baca juga: Pemberian ASI lebih lama bisa tekan gejala ADHD pada anak
Baca juga: Orang tua anak neurodivergen diminta cermat pilah informasi di medsos
Baca juga: Mengenal "waiting mode", saat pikiran terjebak dalam ketidakpastian
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.