Baca Juga: Xiaomi Smart Band 11 Resmi Meluncur dengan Layar 2.000 Nit dan Baterai 21 Hari
Bagaimana Abu Vulkanik Bisa Menyerap Karbon?
Kemampuan abu vulkanik dalam menyerap karbon berkaitan dengan proses pelapukan mineral vulkanik. Ketika material vulkanik mengalami pelapukan dan pelarutan, terjadi reaksi geokimia yang dapat mengambil CO2 dari atmosfer.
Artinya, abu vulkanik tidak bekerja seperti alat yang secara langsung menangkap gas karbon di udara. Potensi pengurangan CO2 tersebut berlangsung melalui proses alami yang melibatkan mineral, air, tanah, dan lingkungan.
Material vulkanik yang awalnya tidak memiliki kandungan karbon organik dapat mengalami perubahan setelah mengalami pelapukan dan berkembang menjadi tanah. Dalam kondisi tertentu, tanah yang terbentuk dari material vulkanik tersebut dapat menyimpan karbon organik dalam jumlah cukup besar.
Penelitian yang dilakukan Kurniatun Hairiah dan kolega membahas potensi tersebut dalam artikel berjudul Applying volcanic ash to croplands - The untapped natural solution yang diterbitkan pada 2020.
Abu Vulkanik Bisa Membentuk Tanah yang Kaya Karbon
Salah satu hal menarik dari material vulkanik adalah kemampuannya menjadi bahan pembentuk Andisol atau Andosol. Jenis tanah ini terbentuk dari material vulkanik dan dikenal memiliki karakteristik yang mendukung kesuburan serta penyimpanan karbon.
Andisol diperkirakan hanya mencakup sekitar 1 persen permukaan bumi, tetapi dapat menyimpan sekitar 5 persen cadangan karbon tanah global. Kondisi tersebut membuat tanah vulkanik memiliki peran penting dalam pembahasan mengenai kesuburan tanah sekaligus siklus karbon.
Penelitian di wilayah Sumatra Barat juga menunjukkan kandungan karbon organik pada lapisan atas tanah vulkanik rata-rata sekitar 4 persen. Dalam sejumlah kasus, kandungannya bahkan dapat mencapai 15 persen.
Kandungan karbon tersebut terbentuk melalui proses yang tidak terjadi secara instan. Material hasil erupsi membutuhkan waktu untuk mengalami pelapukan, bercampur dengan lingkungan, dan berkembang menjadi tanah dengan karakteristik tertentu.
Kenapa Tanah Vulkanik Bisa Sangat Subur?
Selain berhubungan dengan karbon, abu vulkanik juga membawa berbagai unsur mineral yang dapat menjadi sumber nutrisi bagi tanah.
Komposisi abu vulkanik sangat bergantung pada material dan jenis magma yang dikeluarkan gunung api. Tefra dapat memiliki sifat dari asam hingga basa dan mengandung sejumlah unsur yang mudah larut.
Baca Juga: Inovatif, 7 Model Bisnis SJK Lulus Regulatory Sandbox OJK
Beberapa ion yang dapat ditemukan atau teradsorpsi pada material vulkanik antara lain kalsium, magnesium, natrium, klorida, sulfat, dan fluorida. Setelah material mengalami pelapukan, sebagian unsur tersebut dapat larut dan masuk ke dalam tanah.
Proses inilah yang kemudian ikut memengaruhi sifat tanah di kawasan vulkanik. Dalam jangka panjang, tanah yang berkembang dari material tersebut dapat memiliki karakter yang mendukung pertumbuhan tanaman.
Karena kesuburannya, wilayah dengan tanah vulkanik di sejumlah kawasan Indonesia sejak lama menjadi daerah penting untuk kegiatan pertanian.
Indonesia Punya Potensi Besar dari Material Vulkanik
Indonesia memiliki kondisi geografis yang membuat material vulkanik tersedia dalam jumlah besar. Tanah yang berasal dari material vulkanik diperkirakan mencakup sekitar 31,7 juta hektare atau 17 persen dari luas daratan Indonesia.
Banyaknya gunung api aktif membuat abu vulkanik terus menjadi bagian dari proses pembentukan tanah di berbagai wilayah. Berdasarkan data letusan sejak 1970 yang dibahas dalam penelitian tersebut, rata-rata sekitar 47 juta ton material vulkanik terlontar di Indonesia setiap tahun.
Pada periode tertentu ketika terjadi sejumlah erupsi besar, jumlah material yang dikeluarkan dapat meningkat jauh lebih tinggi. Beberapa gunung api yang pernah menghasilkan material dalam jumlah besar antara lain Merapi, Kelud, Sinabung, dan Anak Krakatau.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa material vulkanik bukan hanya fenomena geologi. Dalam jangka panjang, material hasil erupsi juga dapat berhubungan dengan proses pembentukan tanah, pertanian, dan siklus karbon.
Berapa Banyak CO2 yang Bisa Diserap Abu Vulkanik?
Penelitian Kurniatun Hairiah dan kolega memperkirakan bahwa pada tahun-tahun dengan aktivitas letusan gunung api yang signifikan, jumlah CO2 yang terserap melalui proses pelapukan material vulkanik berpotensi mencapai 100 hingga 200 juta ton setara CO2.
Angka tersebut dalam penelitian disebut dapat setara dengan sekitar 20 hingga 40 persen emisi bahan bakar fosil Indonesia pada periode tertentu yang menjadi dasar perbandingan penelitian.
Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai potensi berdasarkan analisis dan pemodelan, bukan berarti setiap erupsi secara otomatis menghasilkan penyerapan karbon dalam jumlah yang sama.
Besarnya penyerapan sangat dipengaruhi oleh jumlah material yang dikeluarkan, komposisinya, kondisi lingkungan, proses pelapukan, hingga penggunaan lahan. Karena itu, potensi abu vulkanik sebagai bagian dari solusi berbasis alam untuk karbon masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Apa yang Menentukan Kemampuan Abu Vulkanik Menyerap Karbon?
Tidak semua abu vulkanik memiliki karakter yang sama. Komposisi material yang dikeluarkan gunung api sangat dipengaruhi oleh jenis magma dan proses yang terjadi selama erupsi.
Jumlah abu yang tersedia juga menjadi faktor penting. Semakin banyak material vulkanik yang mengalami pelapukan, semakin besar pula potensi berlangsungnya proses geokimia yang berkaitan dengan penyerapan CO2.
Selain itu, kondisi tanah dan lingkungan turut menentukan bagaimana mineral vulkanik mengalami pelarutan dan perubahan. Air, suhu, vegetasi, serta penggunaan lahan dapat memengaruhi proses tersebut.
Karena itu, pemanfaatan abu vulkanik sebagai cara untuk mengurangi karbon tidak bisa dilakukan hanya dengan menaburkan abu ke lahan tanpa memperhatikan karakter material dan kondisi lingkungan.
Abu Vulkanik Bukan Berarti Selalu Aman
Di balik potensi manfaatnya, abu vulkanik tetap merupakan material hasil erupsi yang dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan.
Partikel abu yang berukuran sangat kecil dapat terbawa angin dan masuk ke saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak erupsi tetap perlu mengikuti informasi dan rekomendasi dari pihak berwenang.
Baca Juga: Tekanan Sentimen Eksternal, Rupiah Ditaksir Berbalik Melemah ke Rp17.680
Potensi abu vulkanik dalam menyuburkan tanah atau berkontribusi terhadap siklus karbon tidak menghilangkan risiko yang muncul ketika erupsi sedang berlangsung. Manfaat ekologis tersebut lebih berkaitan dengan proses jangka panjang setelah material vulkanik mengalami perubahan di lingkungan.
Potensi Abu Vulkanik Masih Perlu Dikaji
Meski penelitian menunjukkan adanya potensi besar, para peneliti menekankan bahwa mekanisme penyerapan CO2 dari proses pelapukan material vulkanik masih perlu dipahami lebih mendalam.
Kajian mengenai proses geokimia, pelarutan mineral, laju pelapukan, hingga metode aplikasi material vulkanik perlu terus dikembangkan. Penelitian tersebut penting agar potensi abu vulkanik sebagai solusi berbasis alam dapat dimanfaatkan secara tepat dan tidak menimbulkan persoalan baru.
Dengan demikian, abu vulkanik bukan hanya material sisa erupsi. Dalam perjalanan alamiah setelah letusan, material tersebut dapat berperan dalam pembentukan tanah, menyediakan unsur mineral, menyimpan karbon, dan menjadi bagian dari siklus karbon global.
Namun, potensi tersebut harus dipahami berdasarkan proses ilmiah. Abu vulkanik tidak serta-merta menghilangkan CO2 dari atmosfer, melainkan dapat berkontribusi terhadap penyerapan karbon melalui proses pelapukan mineral dan pembentukan tanah dalam kondisi tertentu.
Baca Juga: DPR Setuju RUU Pengaturan Reforma Agraria Jadi Usul Inisiatif, Bakal Ada Pembentukan Badan Baru
FAQ
Apakah abu vulkanik bisa menyerap karbon?
Abu vulkanik berpotensi berkontribusi terhadap penyerapan CO2 melalui proses pelapukan dan pelarutan mineral vulkanik. Proses ini berlangsung secara alami dan tidak terjadi secara instan.
Kenapa abu vulkanik bisa menyerap CO2?
Mineral dalam material vulkanik dapat mengalami pelapukan dan reaksi geokimia dengan lingkungan. Dalam proses tersebut, CO2 dari atmosfer dapat ikut terserap sebagai bagian dari siklus karbon.
Apakah abu vulkanik bisa membuat tanah subur?
Ya, material vulkanik dapat berkontribusi terhadap kesuburan tanah karena mengandung berbagai mineral dan unsur yang dapat dilepaskan melalui proses pelapukan. Material vulkanik juga dapat berkembang menjadi Andisol yang dikenal memiliki tingkat kesuburan tinggi.
Apa itu Andisol?
Andisol atau Andosol adalah jenis tanah yang terbentuk dari material vulkanik. Tanah ini dikenal memiliki karakteristik yang mendukung kesuburan dan kemampuan menyimpan karbon.
Apakah abu vulkanik aman bagi manusia?
Abu vulkanik tetap dapat berbahaya jika terhirup, terutama ketika konsentrasi partikelnya tinggi. Masyarakat di wilayah terdampak erupsi perlu mengikuti arahan keselamatan dan kesehatan dari otoritas terkait.