BPS Bali minta pemda antisipasi pasokan antisipasi inflasi yang hampir sentuh batas - ANTARA News Bali

September 2026 · 3 minute read

Denpasar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali meminta pemerintah daerah setempat mengantisipasi ketersediaan pasokan pangan setelah melihat tingkat inflasi tahunan (yoy) pada Agustus 2026 mencapai 3,45 persen atau hampir menyentuh batas atas sebesar 3,5 persen.

“Kalau antisipasi harga barang kan perbaiki ketersediaan karena masalahnya di ketersediaan, memperbaiki jalur distribusi kalau masalahnya di distribusi, tapi ini tidak ada permasalahan distribusi jadi mungkin ketersediaannya yang perlu diperhatikan,” kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Selasa.

Agus Gede memaparkan bahwa capaian inflasi tahunan sebesar 3,45 persen tersebut merupakan tingkat inflasi tertinggi dalam tiga tahun terakhir jika dibandingkan periode Agustus 2025 yang sebesar 2,65 persen dan Agustus 2024 sebesar 2,32 persen.

Sedangkan jika dilihat dari kelompok pengeluaran secara tahunan, seluruh kelompok mengalami inflasi dengan dua pendorong paling dominan, yakni Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang mengalami inflasi 3,70 persen dengan andil 1,16 persen, serta Kelompok Transportasi sebesar 6,98 persen dengan andil 0,76 persen.

Sejumlah kelompok juga menyumbang inflasi tahunan Agustus 2026 namun andilnya kecil seperti Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga menyumbang inflasi 2,24 persen (andil 0,31 persen), Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa lainnya 3,98 persen (andil 0,38 persen), Kelompok Perlengkapan dan Pemeliharaan Rumah Tangga 1,90 persen (andil 0,08 persen), Kelompok Pakaian dan Alas Kaki 1,40 persen (andil 0,06 persen), serta Kelompok Kesehatan 2,02 persen (andil 0,05 persen).

Berdasarkan rincian komoditasnya, kenaikan harga bensin memberikan andil tertinggi mencapai 0,41 persen (inflasi 7,92 persen), diikuti daging ayam ras dengan andil 0,20 persen (inflasi 7,42 persen), emas perhiasan dengan andil 0,15 persen (inflasi 43,36 persen), minyak goreng dengan andil 0,14 persen (inflasi 9,10 persen), cabai rawit dengan andil 0,12 persen (inflasi 35,97 persen), dan jasa pemeliharaan/servis dengan andil 0,11 persen (inflasi 7,37 persen).

Dari sisi wilayah, tiga wilayah tercatat telah melampaui ambang batas inflasi 3,5 persen, yaitu Kota Denpasar sebesar 3,64 persen, Kabupaten Singaraja 3,61 persen, dan Kabupaten Tabanan 3,59 persen, hanya Kabupaten Badung yang berada di bawah ambang batas yakni 2,88 persen.

Selain tekanan tahunan yang tinggi, inflasi bulanan pada Agustus 2026 juga mencatatkan angka relatif tinggi sebesar 0,61 persen.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam empat tahun terakhir untuk periode Agustus, dimana Agustus 2025 lalu mengalami deflasi 0,39 persen, serta melampaui Agustus 2024 inflasi 0,10 persen, dan Agustus 2023 inflasi 0,23 persen.

Seperti pemicu tahunan, BPS Bali juga menemukan Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyebab utama inflasi bulanan.

Jika dirincikan komoditasnya, daging ayam ras kembali masuk daftar, bahkan bulan lalu menjadi pemicu paling dominan dengan lonjakan harga 8,34 persen dan memberikan andil 0,21 persen terhadap total inflasi.

Agus Gede menyatakan peningkatan ini dipicu tingginya permintaan pasar akibat musim padat kunjungan wisatawan (high season), di mana ketersediaan pasokan tidak optimal menyusul gangguan masuknya bibit ayam (DOC) pada bulan Juli.

Sementara komoditas pendorong bulanan lainnya yaitu angkutan udara yang mengalami inflasi 10,09 persen (andil 0,03 persen), buncis 35,85 persen (andil 0,03 persen), nasi dengan lauk 1,12 persen (andil 0,03 persen), biaya sekolah dasar 2,21 persen (andil 0,02 persen), cabai rawit 5,33 persen (andil 0,02 persen), ikan teri 10,73 persen (andil 0,02 persen), serta kacang panjang 29,51 persen (andil 0,02 persen).

"Dampak inflasi yang paling jelas itu ke daya beli masyarakat, kalau inflasi tinggi dibarengi kenaikan pendapatan, daya belinya masih tidak terlalu berpengaruh, kisaran 3,45 persen ini masih relatif terkendali kecuali kalau sudah di atas 5 persen," ujar Agus Gede.

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.