BNPB Klarifikasi Data 94 Korban Gempa Flores NTT Meninggal di Pengungsian |Republika Online

September 2026 ยท 2 minute read

Sejumlah pengungsi beristirahat di tenda pengungsian, Desa Lamahala, Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (12/4/2026). Pemerintah Kabupaten Flores Timur NTT menetapkan status tanggap darurat bencana mulai 9 April hingga 8 Juli 2026 pascagempa bumi magnitudo 4,7 dan selama masa tersebut BPBD akan fokus melakukan pendistribusian bantuan berupa logistik serta tenda hingga alas tidur untuk penanganan kedaruratan para pengungsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan klarifikasi atas pernyataan 94 korban gempa Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal di pengungsian. Pernyataan itu dinilai bukan berarti para korban tersebut meninggal dunia karena tidak mendapatkan penanganan pascagempa berkekuatan M 7,7 pada Sabtu (15/8/2026).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan 94 korban meninggal dunia itu tidak terdampak langsung gempa bumi yang terjadi di Flores. Berdasarkan hasil verifikasi dan validasi terpadu antara BNPB dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di tujuh kabupaten terdampak, 94 korban meninggal tersebut tidak meninggal akibat trauma fisik langsung atau reruntuhan bangunan akibat gempa bumi.

"Data dari tim medis menunjukkan, sebagian besar warga tersebut adalah kelompok lansia yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit kronis yang sudah diderita, seperti stroke dan diabetes melitus," kata dia melalui keterangannya, Kamis (17/9/2026).

Berton memastikan, proses penanganan medis telah dilaksanakan secara maksimal di berbagai fasilitas kesehatan dan pos kesehatan terpadu. Pihaknya juga menyatakan bahwa pelayanan dasar dan kesehatan bagi para penyintas tetap terlaksana optimal.

Menurut dia, BNPB telah mengaktifkan pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere sejak hari pertama gempa bumi terjadi. Bantuan medis, obat-obatan, termasuk peralatan lain yang dibutuhkan terus bergerak menjangkau pengungsi, baik terpusat maupun mandiri.

"Kami memohon maaf apabila dinamika informasi sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran dan spekulasi tertentu di masyarakat. Mari kita bersama memperkuat dukungan dan doa demi percepatan pemulihan saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur," ujar dia.